Jepang dalam Pembentukan Kawasan Regional ASEAN

Interaksi solid dan saling menguntungkan tercermin dalam kerja sama yang dibangun antara Jepang dengan ASEAN sebagai mitra dalam berbagi visi masa depan bersama. Hubungan keduanya pun sudah terjalin sangat lama, dimulai pada abad ke-14 atau sekitar 700 tahun lalu. Asia Tenggara selalu menjadi sub-kawasan penting bagi strategi kebijakan luar negeri Jepang. Resmi ditutupnya pasar China ke Jepang pada periode Perang Dingin, kawasan Asia Tenggara kembali menjadi target sumber bahan baku serta sebagai pasar important untuk produk Jepang. Kerja sama dengan Asia Tenggara ini sangat penting untuk pemulihan ekonomi Jepang yang cepat sehingga pada akhirnya dapat bangkit kembali untuk menjadi pemimpin ekonomi Asia.

Begitu pula sebaliknya, salah satu mitra eksternal yang penting bagi ASEAN adalah Jepang, terutama setelah terjalinnya hubungan dialog informal pada tahun 1973 yang kemudian diresmikan pada tahun 1977. Faktanya, Jepang telah menjadi salah satu negara yang telah menyatakan dukungan berkelanjutan kepada ASEAN sebagai sebuah institusi (Singh, 2017). Sejak akhir tahun 1970-an, Jepang telah menjadi pembela yang gigih mengenai ASEAN Way. Menjadi salah satu mitra strategis ASEAN, Jepang telah memberikan kontribusinya sebagai pembangun utama dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial perkembangan ASEAN selama lebih dari empat dekade. Tetapi sebelum itu, sekitar tahun 1950an Jepang telah menjalin hubungan dengan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Myanmar, serta Vietnam Selatan dalam upaya perbaikan perang.

Peresmian hubungan kerja sama antara Jepang dengan ASEAN pada tahun 1977 ditandai dengan terbentuknya ASEAN-Japan Forum. Ini menandakan babak baru bagi kerja sama keduanya karena Jepang mengalami pergantian dari Yoshida Doctrine menjadi Fukuda Doctrine. Pergantian doktrin yang diproklamirkan oleh Perdana Menteri Fukuda dalam pidatonya pada KTT ASEAN di Manila ini menjadikan Jepang semakin dekat dengan kawasan regional ASEAN. Fukuda Doctrine sendiri dirancang untuk menjadi dasar acuan yang membuktikan bahwa arah kebijakan Jepang lebih mengarah pada kawasan Asia Tenggara. Hal-hal yang terdapat dalam Fukuda doctrine tersebut yaitu mengenai:

1. Jepang tidak akan berperan sebagai negara adidaya militer regional.
2. Jepang akan menjalin dan memperkuat hubungan saling percaya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
3. Sebagai mitra sejajar, Jepang dan seluruh negara ASEAN akan terus bekerjasama secara positif.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Doktrin Fukuda menekankan bahwa politik luar negeri Jepang tidak akan menggunakan militer dalam setiap permasalahan yang tarjadi. Selain itu, Perdana Menteri Fukuda juga mengusulkan kebijakan yang bernama “heart to heart understanding”.

Dalam segi ekonomi, Jepang merupakan mitra bagi ASEAN dalam penyalur dana bantuan atau dikenal sebagai ODA (Official Development Assistance). Bantuan ODA Jepang selama beberapa dekade memainkan peran yang sangat penting dan sekaligus sebagai peran pendukung bagi hubungan kerja sama Jepang-ASEAN (Yoshimatsu & Trinidad, 2010). Pernyataan ini telah tercantum dalam Japan’s ODA Charter bagian tiga mengenai prioritas penerima bantuan ODA Jepang (Rachmawati, 2017). Pemberian bantuan ini sudah berlangsung sejak tahun 1975, yang mana Jepang telah sepakat untuk menyelesaikan permasalahan karet sintesis produksi Jepang dengan cara memberikan bantuan ekonomi secara teknis. Jepang juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar bagi ASEAN, setelah Amerika Serikat. Disamping itu, ASEAN merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi untuk Jepang.

Pada segi kebudayaan, Jepang menyelenggarakan kegiatan “Undangan bagi Pemuda Asia Tenggara” sebagai bentuk proyek pertukaran pemuda. Dalam hal ini jumlah mahasiswa yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN sebanyak 9% dari jumlah mahasiswa asing yang bersekolah di Jepang. Sementara itu, Jepang juga membuktikan kesungguhannya dalam membantu memajukan pembangunan ASEAN dengan membantu proyek-proyek pelestarian warisan budaya yang ada di negara-negara Asia Tenggara seperti situs candi di Indonesia dan Kamboja.

Keseriusan kerja sama yang sudah terjalin lama antara Jepang dengan ASEAN diharapkan dapat terus terjadi bahkan lebih erat serta lebih luas di kemudian hari.

Referensi

Rachmawati, T. (2017). Strategi Diplomasi ASEAN terhadap Jepang untuk Mengurangi Kesenjangan Ekonomi di ASEAN. Jurnal PIR, 1(2), 87-107. http://e-journal.potensi-utama.ac.id/ojs/index.php/PIR/article/view/386

Singh, B. (2017). Japan-ASEAN Relations: Challenges, Impact and Strategic Options. Panorama: Insights into Asian and European Affairs, 95-106. https://www.rsis.edu.sg/staff-publication/japan-asean-relations-challenges-impact-and-strategic-options/

Yoshimatsu, H. & Trinidad, D. D. (2010). Development Assistance, Strategic Interests, and The China Factor in Japan’s Role in ASEAN Integration. Japanese Journal of Political Science, 11(2), 199-219. http://journals.cambrige.org/abstract_S1468109910000022

Author:

45 thoughts on “Jepang dalam Pembentukan Kawasan Regional ASEAN

  1. Artikelnya sangat menarik sekali dan sangat mudah di pahami sehingga kami para pembaca bisa menambah pengetahuan. thankyou dheaa mantap jiwo

  2. Pingback:instagram hack
  3. Pingback:World Market URL
  4. Pingback:home design 2022
  5. Pingback:my link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *