Implementasi Kerjasama China-Jepang-Korea Selatan Free Trade Agreement

             Kerjasama internasional merupakan kerjasama yang dilakukan antar negara dalam rangka pemenuhan kebutuhan rakyat dan kepentingan yang lain dengan berpedoman pada politik luar negeri masing- masing. Ada banyak sekali kerjasama internasional yang telah ada di seluruh dunia, dan masing- masing kerjasama tersebut memiliki tujuan dan maksudnya masing- masing. Namun ada beberapa hal yang biasanya menjadi poin penting kerjasama internasional dan poin- poin ini menjadi bagian dari hasil kerjasama internasional tersebut. CJK FTA pertama kali dimasukkan sebagai bagian dari agenda pada KTT antara tiga negara bagian pada tahun 2009 yang dimana melahirkan putaran resmi pertama pada Maret 2013 dengan dua pertemuan berikutnya di tahun yang sama. Ketiga negara memiliki tujuan yang ambisius untuk menciptakan pasar intra-regional tunggal, menangani masalah-masalah seperti komoditas, aturan asal, jasa, dan hak kekayaan intelektual. Namun, kompleksitas di kawasan ini, dengan persaingan atas kekuatan antara China dan Jepang dan antara AS dan China, dengan Korea Selatan yang ditempatkan di antaranya, menghalangi mereka untuk menghasilkan hasil konkret dari pertemuan tersebut (Yoo, 2014).

Pada tingkat regional, Perjanjian Perdagangan Bebas China-Jepang-Korea berpotensi menjadi tulang punggung perjanjian perdagangan bebas yang lebih multilateral, awalnya di seluruh kawasan Asia Timur, dan lebih umum di Asia. Sebuah studi baru-baru ini tentang integrasi ekonomi Asia mengajukan rekomendasi utama untuk membangun kawasan perdagangan bebas di seluruh Asia. Perjanjian perdagangan bebas di kawasan ini juga memungkinkan negara-negara Asia untuk secara bertahap mengungkapkan pendapat mereka tentang sikap komprehensif perdagangan dan investasi internasional di forum dan lembaga global yang bertanggung jawab atas tata kelola ekonomi global (Madhur, 2013). Dari 2008 hingga 2012, para pemimpin China, Jepang, dan Korea Selatan mengadakan lima pertemuan puncak dan di pertemuan keenam, yang semula dijadwalkan pada Mei 2013, dibatalkan karena keputusan pemerintah Jepang untuk menasionalisasi pulau yang disengketakan itu, dan serangkaian protes di China. Perundingan formal pertama FTA diadakan di Seoul pada Maret 2013, diikuti oleh pertemuan kedua di Shanghai pada bulan Juli sementara pertemuan ketiga di Tokyo pada bulan November (Nurvianti, 2017).

Adapun faktor yang menyebabkan kawasan perdagangan bebas China-Jepang-Korea tersebut menjanjikan dalam waktu dekat adalah motivasi politik yang menjadi pendekatan tiga pihak. Bagi China, Perjanjian Perdagangan Bebas China-Jepang-Korea dapat menjadi alat yang berguna untuk melawan Trans Pacific Partnership. Fakta ini memang merepresentasikan kebijakan dasar China secara keseluruhan terhadap FTA, di mana hubungan politik dan diplomatik menjadi pertimbangan utama bagi negara China, perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan Korea Utara tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, karena memiliki keunggulan geopolitik dan strategis di Semenanjung Korea. Hubungan ekonomi antara China dan Korea Selatan juga dapat memberikan tekanan yang cukup kuat terhadap Jepang dan Taiwan (Madhur, 2013). Meskipun pembentukan perjanjian perdagangan bebas antara China dan Korea Selatan dapat dianggap sebagai ancaman bagi Jepang, pemicu terbentuknya perjanjian perdagangan bebas bilateral ini adalah Jepang, dan Jepang memutuskan untuk ikut serta dalam TPP pada tahun 2011. Yoshihiko Noda mengumumkan bahwa Jepang akan berpartisipasi dalam TPP pada November 2011. Kemudian, Tiongkok menanggapi keinginan Jepang untuk bergabung dengan TPP dengan mendorong Korea Selatan untuk membentuk Perjanjian Perdagangan Bebas Tiongkok-Korea Selatan pada Januari 2012 (Nurvianti, 2017). Jepang juga dapat memperlambat ekspansi China di Asia Timur Laut dan bahkan Asia Timur dengan tidak mengizinkan China untuk membangun jaringan yang dirancang untuk memainkan peran sentral. Jepang juga telah melakukan perundingan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa dan sedang merundingkan Trans Pacific Partnership (TPP) dengan Amerika Serikat. Korea Selatan juga dapat dikatakan sebagai hubungan kompetitif antara China dan Jepang. Dikarenakan Korea Selatan bisa menjadi jembatan antara Jepang dan China di kawasan Asia Timur. Korea Selatan juga merupakan negara middle power, sehingga geografis Korea Selatan sangat menarik bagi Jepang dan China (Nurvianti, 2017). Hal ini terlihat jelas dari upaya China dan Jepang untuk menjalin perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan Korea Selatan. Ketika Jepang memutuskan untuk bergabung dalam perjanjian perdagangan bebas yang melibatkan China dan Korea Selatan, hal itu juga mencerminkan faktor penting Korea Selatan bagi Jepang.

Referensi

Madhur, S. (2013). China-Japan-Korea FTA: A Dual Track. Journal of Economic Integration, 28(3), 378-390. https://doi.org/10.11130/jei.2013.28.3.375

Nurvianti, R. A. (2017). Keputusan Jepang dalam Pembentukan China-Japan-Republic of Korea Free Trade Agreement. Jurnal Analisis Hubungan Internasional, 6(1), 16-18. http://repository.unair.ac.id/67893/1/Fis.HI.48.17%20.%20Nur.k%20-%20JURNAL.pdf

Yoo, H. S. (2014). China-Japan-Korea Free Trade Agreement (CJK FTA) and the Prospect of Regional Integration From the Perspective of Northeast Asian Identity [Thesis, Université Du Québec À Montréal]. Core. https://core.ac.uk/download/pdf/77616943.pdf

Author: Alfathan Satryo

International Relations IISIP Jakarta

3 thoughts on “Implementasi Kerjasama China-Jepang-Korea Selatan Free Trade Agreement

  1. Pingback:ww88

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *