Implementasi Kebijakan Abenomics Dalam Bubble Economy

Pasca tragedi Hirosima dan Nagasaki, Jepang mengalami keterpurukan di berbagai bidang terutama ekonomi, terjadi banyaknya pengangguran, merosotnya harga pertanian, serta terbatasnya persediaan makanan. Pemulihan yang dialami oleh Jepang cenderung lambat, namun pada tahun 1950 perekonomian Jepang mulai pulih, pasar luar negeri yang tadinya hilang mulai dapat kembali didapat. Pendapatan nasional Jepang tumbuh pada tingkat rata-rata 9,1% per tahun di akhir 1950-an. Kemudian pada 1960-an ekonomi Jepang disebut-sebut mengalami keajaiban karena pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun lebih dari 10% (Tsutsui&Mazzotta, 2015). Perekonomian Jepang dapat kembali stabil karena mendapatkan keuntungan dari sistem perdagangan dunia terbuka yang saat itu dapat memberi akses bagi Jepang ke pasar internasional.

Pada tahun 1980an ekonomi Jepang melonjak, orang-orang Jepang bahkan dikatakan sebagai orang terkaya dan paling terpelajar di dunia. Seiring tingginya perekonomian di Jepang, pola hidup masyarakat Jepang saat itu cenderung konsumtif. Namun kemakmuran Jepang pada masa itu dianggap dibangun di atas fondasi finansial yang goyah. Bank of Japan melakukan kebijakan ekspansif untuk mencegah terjadinya resesi, dan kebijakan tersebut menyebabkan ledakan spekulatif dalam real estate yang menyebabkan adanya persaingan sengit di bidang perbankan yang kemudian memicu terjadinya pemberian pinjaman yang gegabah. Pada saat itu, perusahaan Jepang terlalu sibuk memenuhi kebutuhan modalnya dengan melakukan pinjaman dari bank secara gegabah. Bank besar Jepang kehilangan pelanggan terbesar mereka dan berusaha mencari tempat baru untuk menginvestasikan uang mereka namun seringkali berakhir dengan peminjam berisiko dalam kesepakatan real estate. Ledakan ekonomi Jepang pada akhir 1980-an benar-benar tidak lebih dari sekadar finansial kartu, keuntungan yang palsu dari uang kertas, dan kemudian ini dikenal sebagai “Bubble Economy”.

Ketika terjadinya bubble economy ini, Jepang mengalami keruntuhan ekonomi secara tiba-tiba. Krisis dimulai dari pasar keuangan dan real estate yang dengan cepat mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh perekonomian. Tingkat pertumbuhan turun drastis dari 3,1% pada tahun 1991 menjadi 0,4% pada tahun 1992 dan 0,2% pada tahun 1993. Pada tahun 1998 dan 2001, Jepang bahkan mengalami pertumbuhan negatif (Abas, 2018). Banyak karyawan-karyawan perusahaan yang diPHK atau dirumahkan, serta memangkas biaya-biaya operasional. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya tingkat pengangguran di Jepang pada saat itu.

Pada 26 Desember 2012 Shinzo Abe terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang dan mengumumkan kebijakan ekonomi yang disebut Abenomics. Kebijakan ini dibuat dengan harapan mampu mengatasi masalah ekonomi Jepang yang disebabkan oleh krisis ekonomi global. Terdapat 3 poin penting yang diusulkan oleh Shinzo Abe melalui Abeonomics. Pertama, kebijakan stimulus moneter, kebijakan ini merupakan kebijakan moneter yang bersifat ekpansioner yaitu kebijakan moneter dilakukan dengan meningkatkan jumlah uang yang beredar dan mengurangi tingkat bunga. Kedua, Kebijakan stimulus fisikal yang merupakan kebijakan fisikal aktif yang bersifat ekspansioner, dilakukan melalui peningkatan pengeluaran pemerintah dan penurunan penerimaan pajak melibatkan stimulus jangka pendek. Kebijakan ini memiliki tujuan agar dapat dihidupkannya kembali pertumbuhan ekonomi secepatnya melalui peningkatan konsumsi dan investasi di sektor publik pemerintah. Ketiga, Kebijakan Reformasi Struktural seperti reformasi agrikultur, reformasi pajak, energi, dan pekerja. Kebijakan Abenomics memiliki tujuan untuk memulihkan ekonomi Jepang dan menjaga keseimbangan ekonomi internasional.

Dalam pelaksanaannya Kebijakan Abenomics tentunya memiliki faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung Kebijakan Abenomics antara lain:

1. Dukungan politik dan publik, dukungan masyarakat terhadap Kebijakan Abenomics cukup tinggi.
2. Rekruitmen dan komitmen pejabat pelaksana, komitmen para pejabat di Jepang dalam menjalankan Kebijakan Abenomics cukup tinggi karena Jepang juga merupakan salah satu negara yang memiliki tindakan korupsi yang rendah. Serta perekrutan pejabat dilakukan dengan baik, Jepang memiliki pejabat dengan kualitas yang baik sehingga hal ini memiliki dampak baik dalam proses implementasi Kebijakan Abenomics.
3. Sumber dana yang jelas dan konsisten, pemerintahan Shinzo Abe merumuskan kebijakan sesuai dengan kepentingan berdasarkan masalah ekonomi di Jepang, penanganan dalam masalah ekonomi tersebut dikelompokkan sejara jelas sehingga Kebijakan Abenomics dapat dilakukan dengan fokus dan mendapatkan hasil yang maksimal.
4. Keterlibatan masyarakat, keterlibatan masyarakat disini dimaksudkan bahwa masyarakat diberikan kesempatan untuk mengawasi dan melakukan kontrol dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, hal ini dilakukan pemerintah agar tumbuhnya rasa percaya masyarakat.

Sedangkan, faktor penghambat Kebijakan Abenomics, yaitu:

1. Beragamnya perilaku kelompok masyarakat, kelompok masyarakat memiliki kebutuhan dan kepentingan yang beragam sehingga dalam implementasinya pemerintah dan pelaksana harus menyesuaikan kebutuhan dan kepentingan dari kelompok masyarakat sasaran.
2. Kondisi sosial, kaum muda masyarakat Jepang cenderung apatis menyebabnya kurangnya partisipasi kaum muda Jepang terhadap kebijakan pemerintah.
3. Sikap dan sumber yang dimiliki kelompok sasaran, terjadi beberapa pertentangan yang dialami pemerintah dan kaum petani dan hal ini menjadi penghambat dalam mengimplementasikan Kebijakan Abenomics.

Referensi

Abas, A. (2018). Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang Tahun 2012-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 443-458. https://ejournal.hi.fisipunmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2018/02/ejurnal%20Adi%20Abas%20(02-12-18-05-30-19).pdf

Tsutsui, W. M., & Mazzotta, S. (2015). The Bubble Economy and The Lost Decade: Learning From the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective9(1), 6, 57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

Author: Dyah Ronauly

17 thoughts on “Implementasi Kebijakan Abenomics Dalam Bubble Economy

  1. Sangat bagus nih artikelnya lengkap, faktor pendukung dan penghambatnya dijelasin secara singkat, padat dan jelas. Good job dyah ronauly👍

  2. Pingback:free cad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *