Hubungan Internasional dan Ancaman Pemanasan Global (Global Warming)

Isu non konvensional dalam dinamika politik internasional merujuk pada isu internasional yang melampaui isu kekuatan militer nasional yang akan mempengaruhi dinamika politik internasional dan berbagai negosiasi antar negara atau aktor non – negara dalam mengedepankan nilai-nilai tertentu dengan tujuan tertentu. Isu non konvensional mulai dipandang sebagai ancaman keamanan dan melanggar kepentingan nasional semua negara. Hal ini dimungkinkan karena penelitian tentang strategi keamanan kini telah mendapat perhatian yang lebih luas, daripada hanya berfokus pada penggunaan kekuatan militer saja.

Salah satu isu yang berkembang sejalan dengan kompleksitas kegiatan ekonomi masyarakat adalah masalah lingkungan. Oleh karena itu, manusia berusaha melindungi lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidup saat ini dan masa depan. Pemanasan global atau Global Warming yang mengancam keamanan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia telah mendorong kelompok-kelompok yang terlibat dalam masalah ini (lebih disebut aktor sekuritisasi dalam konsep sekuritisasi) untuk merumuskan langkah-langkah spesifik (Sayyidati, 2017). Isu ini kurang begitu mendapatkan banyak perhatian hingga pada tahun 1827 seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis bernama Jean-Baptiste Fourier menggagas teori yang dinamakan “efek gas rumah kaca”.

Pada dasarnya Global Warming disebabkan oleh fenomena yang meningkat dari tahun ke tahun, sehingga energi matahari terperangkap didalam atmosfer, hal itu disebabkan oleh efek rumah kaca karena peningkatan emisi karbondioksida, metana, nitrogen dioksida dan chlorofluorocarbon (CFC). Isu Global Warming atau pemanasan global semakin mengancam kehidupan manusia karena berpengaruh langsung pada lingkungan sebagai ruang hidup. Oleh karena itu, dibandingkan dengan masalah politik tingkat tinggi, individu memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk mengatasi masalah tersebut. Efek Global Warming atau pemanasan global mendorong aktor internasional untuk bekerja sama melintasi batas negara. Tidak hanya negara, aktor non-pemerintah, terutama individu, juga ikut serta dalam upaya mengatasi dampak buruk pemanasan global. Global Warming dan perubahan iklim merupakan salah satu isu non konvensional yang menjadi wacana dan perhatian dunia internasional. Pada tahun 1970-an merupakan pertama kalinya Isu ekologi / lingkungan pertama kali diangkat dalam agenda hubungan internasional.

Inilah lambang Konferensi Lingkungan Dunia (Global Conference on the Human Environment) yang diadakan di Stockholm, Swedia pada tahun 1972 di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Konferensi Dunia di Stockholm berhasil meletakkan dasar bagi sistem pemantauan lingkungan dunia, rencana aksi dan deklarasi, serta mekanisme pengawasan PBB dan hal terpenting adalah pengakuan dramatis akan perlunya kerjasama internasional dan pembentukan mekanisme fungsional (Jones, 1993). Sejak Konferensi Stockholm, industrialisasi global yang pesat dan meningkatnya penggunaan pupuk sintetis untuk mempromosikan pertanian telah menimbulkan keprihatinan baru tentang ekologi dunia ketiga. Pada akhir 1980-an, komunitas internasional menyatakan keprihatinan yang serius tentang efek rumah kaca yang disebabkan oleh pelepasan gas berbahaya (seperti karbondioksida, metana, nitrous oksida, dan freon) yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Keprihatinan internasional menunjukkan bahwa ancaman pemanasan global dan perubahan iklim sudah dekat.

Konferensi Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diadakan di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 sekali lagi mengangkat masalah lingkungan. Konferensi Rio, juga dikenal sebagai “The Earth Summit“, adalah salah satu konferensi internasional terbesar yang melibatkan 150 negara, 135 kepala negara, diikuti sekitar 45.000 peserta, termasuk lebih dari 10.000 jurnalis dan lebih dari 1.500 perwakilan NGOs, meliputi berbagai bidang seperti lingkungan, organisasi bisnis dan pembangunan, kaukus perempuan dan kelompok masyarakat adat. Namun, karena perjanjian internasional masih bersifat normatif, implementasi Deklarasi Rio belum dilaksanakan oleh anggota tripartitnya, terutama negara-negara industri besar. Ini adalah tujuan yang diharapkan masyarakat internasional untuk dicapai melalui “Protokol Kyoto” tahun 1997, yang memberikan solusi hukum bagi komitmen internasional untuk membatasi emisi karbon dari negara-negara industri. Mulai tahun 2008, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang sepakat untuk mengurangi emisi karbon mereka setiap tahun.

Protokol Kyoto melahirkan mekanisme dan sistem baru yang secara fleksibel dapat mengurangi emisi karbon, seperti Joint Implementation (kerja sama antar negara industri untuk membagi emisi karbon yang dihasilkan), Emision Trading (Perjanjian perdagangan “mengekspor” emisi karbon dari suatu negara industri ke negara lain yang memiliki terlalu banyak tunjangan terkait dengan emisi karbon) dan Clean Development Mecanism (kerjasama antara negara industri dan negara berkembang dalam mendanai proyek perlindungan lingkungan). Konferensi internasional terkini tentang Global Warming atau pemanasan global dan perubahan iklim termasuk Konferensi Perubahan Iklim di Bali (2007) dan KTT G8 plus delapan di Hokkaido, Jepang (Juli 2008).

Contoh pihak yang terlibat dalam mempromosikan atau menangani masalah Global Warming dan perubahan iklim, yaitu: Al Gore, menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat dari 1993 hingga 2001 selama masa jabatan Bill Clinton. Ia merupakan sosok yang sangat terkenal, sangat aktif dalam mempromosikan Global Warming kepada masyarakat, khususnya kaum muda dunia. Salah satu karyanya yang paling terkenal, DVD terlaris The Uncovenient Truth, memberikan informasi yang mengejutkan tentang efek negatif dari Global Warming. Pada 12 Oktober 2007, Al Gore dan Intergovermental Panel on Climate Change tentang Perubahan Iklim dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian atas upaya mereka untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang perubahan iklim akibat ulah manusia, dan memimpin dalam mengambil tindakan yang diperlukan langkah-langkah untuk menghadapi perubahan ini.

Referensi

Jones, W. S. (1993). Logika Hubungan Internasional: Kekuasaan, Ekonomi-Politik Internasional, dan Tatanan Dunia (K. Budiono, Pnrj.). Gramedia Pustaka Utama. (Karya asli terbit tahun 1991)

Sayyidati, A. (2017) Isu Pemanasan Global dalam Pergeseran Paradigma Keamanan pada Studi Hubungan Internasional. Jurnal Hubungan Internasional,  6(2). 38-45 https://doi.org/10.18196/hi.61103

Author:

29 thoughts on “Hubungan Internasional dan Ancaman Pemanasan Global (Global Warming)

  1. Pingback:benelli m1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *