Hilangnya Regenerasi Sebagai Salah Satu Faktor The Lost Decade

Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki kemajuan teknologi yang maju. Berbagai teknologi yang berbasis robot tercipta dan dikembangkan disana. Namun sebelum menjadi negara dengan teknologi maju seperti sekarang, Jepang pernah mengalami masa di mana mereka mengalami kemunduran dan masa itu dikenal dengan dekade yang hilang atau The Lost Decade.

Peristiwa The Lost Decade  yang dialami Jepang tidak sama seperti peristiwa Dark Ages yang terjadi di Eropa. Apabila peristiwa Dark Ages di Eropa disebabkan oleh runtuh nya Kekaisaran Roma dan adanya kendali penuh oleh Gereja, The Lost Decade disebabkan oleh kondisi perekonomian Jepang pada saat itu yang mengalami kondisi stagnan bahkan terkesan mengalami resesi. Kondisi tersebut terjadi pada tahun 1990 hingga 2002. Kondisi ini terjadi dikarenakan tingkat perekonomian Jepang berada di paling bawah diantara negara-negara industri maju di dunia. Berdasarkan gambaran yang diberikan oleh Horioka (2006) Produk Domestik Bruto Jepang rata –rata hanya sebesar 1.2 persen berada jauh dibawah negara anggota G7 lainnya seperti Kanada dengan 3.4 persen, Amerika Serikat dengan 3.2 persen, Inggris Raya dengan 2.7 persen, Prancis dengan 2.3 persen, Itali dengan 1.8 persen dan Jerman dengan 1.4 persen.

Kondisi perekonomian yang stagnan ini menjadi berkepanjangan disebabkan oleh beberapa alasan. Menurut Yoshino dan Taghizadeh-Hesary (2017) alasan tersebut diantaranya adalah;

populasi yang menua yang mempengaruhi para pemuda karena sistem pemberian gaji di jepang berdasarkan senioritas; pemerintahan daerah yang terlalu bergantung kepada pemerintah pusat dalam hal pendanaan sehingga menyebabkan para petani yang merupakan akar perekonomian daerah tidak terbantu dalam membuat inovasi di bidang agrikultur; kegagalan bank dalam mengantisipasi fenomena “Bubble burst”  yang mengakibatkan krisis kredit dengan menyulitkan para start up makro serta kebijakan fiskal pemerintah Jepang yang kurang baik dalam mengatur alokasi dana di sektor investasi publik.

Populasi yang menua serta tidak adanya regenerasi di Jepang menjadi alasan utama mengapa kondisi yang dialami Jepang menjadi berkepanjangan.  Peristiwa ini menjadikan Jepang kekurangan supply sehingga menjadi kesulitan dalam mencari investasi. Selain itu kecenderungan para generasi tua di Jepang untuk tetap menabung dan tidak membelanjakan membuat Jepang mengalami penurunan pemasukan dari investasi. Sehingga menghambat para pencari dana yang berasal dari start up kecil untuk berkembang karena proses pencairan dana di Bank terhambat karena ketiadaan sumber dana yang cukup. Ketiadaan regenerasi juga berpengaruh ke sektor pekerja. Di mana pertumbuhan pemasukan para pekerja mengalami perubahan dari yang bersifat plus menjadi minus di antara tahun 1990-2011.  Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tersebut di antara lain adalah : perubahan jam kerja untuk pekerja lak-laki, perubahan umur bagi pekerja laki-laki serta perubahan tingkat partisipasi pekerja laki-laki.

Terpilihnya Shinizo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang memberikan angin segar bagi perekonomian Jepang dengan kebijakan ekonominya yang dikenal dengan “Abenomic” yang berfokus kepada kebijakan moneter besar-besaran dan stimulus fiskal (Tsutsui & Mazzotta, 2015). Salah satu isi dari kebijakan ekonomi ini adalah peningkatan daya saing dan reformasi tenaga kerja. Abe sebagai Perdana Menteri tetap mengupayakan menutupi gap tersebut dengan mengadakan forum yang berfokus kepada promosi terhadap partisipasi perempuan di sektor tenaga kerja dan juga telah menganjurkan pengajuan perempuan sebagai pegawai negeri senior serta penunjukan Michiko Hasegawa sebagai salah satu dari tiga direksi NHK (Lechevalier & Monfort, 2017). Penetapan perempuan sebagai salah satu direksi menjadikan hal ini sebuah pertanda bahwa Jepang memulai pergeseran fokus gender pekerja dari laki-laki ke perempuan untuk dapat mengatasi permasalahan umur pekerja yang semakin tua

Referensi

Tsutsui, William M. and Mazzotta, Stefano. (2015). The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective 9 (1). https://digitalcommons.kennesaw.edu/jgi/vol9/iss1/6

Horioka, C. Y. (2006). The causes of Japan’s ‘lost decade’: The role of household consumption. Japan and the World Economy18(4), 378-400. https://doi.org/10.1016/j.japwor.2006.03.001

Lechevalier, S., & Monfort, B. (2018). Abenomics: has it worked? Will it ultimately fail ?. Routledge. https://doi.org/10.1080/09555803.2017.1394352

Yoshino N., & Taghizadeh-Hesary F. (2017) Japan’s Lost Decade: Causes and Remedies. Dalam: Yoshino N., Taghizadeh-Hesary F. (eds) Japan’s Lost Decade. ADB Institute Series on Development Economics. Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-10-5021-3_1

Author: Candra Fahmi

Normies and Weebs

16 thoughts on “Hilangnya Regenerasi Sebagai Salah Satu Faktor The Lost Decade

  1. Artikel yang menarik, seiring dengan jumlah penduduk yang berada dijepang saat ini dengan posisi segitiga terbalik. mungkin hal seperti lost decade dapat terjadi kembali di masa yang akan datang. dikarenakan bukan hanya permasalahan umur pekerja yang sudah tua, namun jumlah generasi muda yang terus berkurang.

  2. Pingback:cheap cvv shop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *