Dinamika Politik Restrukturisasi di Eropa Barat

Menurut pengertian yang umum, Eropa Barat ialah konsep politik yang hadir dan digunakan pada saat Perang Dingin. Dalam dunia politik, ideology, posisi politik bisa diklasifikasikan dengana istilah kiri dan kanan. Istilah ini awalnya berasal darai Prancis dimana sayap kiri dimaksudkan dengan partai gerakan yang secara tradisional berpihak kepada para rakyat dan juga kaum marginal. Tetapi gerakan dari komunis internasional mengambil sebutan kiri bagi mereka, karena mereka menamai diri partai dari kaum protelar atau kaum yang tak bermilik. Tetapi seiring dengan berkembangnya isu kontemporer, yang disebut kiri ialah partai-partai demokrat seperti contohnya partai buruh di Inggris, lalu partai sosial demokrat di negara Jerman dan Austria juga Swedia, yang juga terhitung partai kiri. Hanya untuk membedakan diri dari gerakan komunis yang juga dinamai kiri, mereka menamai dirinya sebagai kiri tengah atau bisa juga demokrat kiri. Dan sayap kanan dimaksudkan dengan partai keteraturan, atau jika secara tradisional meruoakan sebutan untuk para petani pemilih tanah dan bangsawan, pegusaha dan juga keluarga raja, gereja katholik. Mereka ini adalah kelompok yang ingin mempertahankan tradisi dan kekuatan yang ada, mereka juga selalu melawan pembaharuan, dan menghadang pemberian hak demokratis bagi rakyat. Umumnya, kiri ini digambarkan dengan ide seperti solidaritas, persamaan derajat, freedom, sedangkan kanan digambarkan dengan kewajiban, hirarki, dan tradisi (Heinberg, 2006). Partai ultra kanan merupakan gerakan yang mengedepankan kepentingan pribumi dan juga membenci serta ingin memusnahkan semua warga pendatang, sepeeti contohnya partai Le Pen di Prancis atau NDP di Jerman. Setelah runtuhnya negara komunis, kiri ini merupakan partai yang selalu ingin mengadakan pembaruan, baik untuk hak rakyat kecil atau perlindungan alam. Mereka diwakili oleh partai sosial demokrat dan juga partai hijau.

Pasca perang yang menyebabkan kondisi dari system politik Eropa Barat menjadi reaksi terhadap bidang politik dan kesejahteraan negara. Dengan kondisi yang seperti itu pemerintah barat menjadi semakin bertanggung jawab atas pengelolaan ekonomi dan masyarakat. Menyediakan lapangan pekerjaan, melakukan pengendalian inflasi dan menopang pertumbuhan ekonomi sebaimana tugas pemerintah. AU berjalan makmur dan juga baik pada tahun 1950 dan 1960, generasi berhasil dengan harapan yang tinggi sehingga membuat para pemilih memperhatikan keamanan materi, peningkatan kemakmuran dan perbaikan kualitas hidup yang berkelanjutan sebagai hal yang alami dan otomatis. Sementara itu pengeluaran melonjak dan pemerintah mulai merasa sulit untuk memperluas atau bahkan mempertahankan tingkat yang sudah tercapai sebelumnya, program kebijakan social tanpa kenaikan pajak tidak dapat diterima. Hal ini yang menyebabkan terjadinya krisis pada thun 1970-an. Pemerintah

Eropa Barat terbukti tidak bisa mengendalikan inflasi, mempertahankan lapangan pekerjaan dan juga memastikan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sehingga adanya reaksi pada kebangkitan umum dalam minat terhadap orang Kristen “lama” dan menyuarakan kritik pada yang dikarenakan tingginya biaya birokrasi pemerintah, pajak yang tinggi dan adanya kendala dalam perusahaan serta tidak terkendalinya aktivitas serikat kerja. Suara ini didukung oleh ilmiah dan dasar ideoligis juga pengalaman kesalahan pengelolaan layanan public sebelumnya yang tidak efisien yang memperburuk reputasi akhir. Berhasilnya penyeimbangan sayap kanan dibantu dengan kebijakan ekonomi Keynesian yang serupa.

Dinamika restrukturasi ini juga terjadi karena adanya hasil dari fenomena sosiologis yang diamati dengan cara sangat baik. Titik beku politik yang sudah berlangsung lama sudah mengurangi daya terik kecenderungan sectarian. Tetapi beberapa diantaranya sudah diselesaikan dengan politik consensus setelah perang, sementara isu yang berkepanjangan telah hilang daya tariknya terhadap pemilih dari generasi muda. Dengan itu para partai memperlunak panggung politiknya untuk tujuan memperluas dukungan dan juga mempertahankan situasi politik raison’etre. Dengan cara pelembagaan partai ini cenderung mengurangi dan juga memodernkan pembelahan ideology dari partai politik, yang dimana hal ini membuat pihak-pihak yang terlibat lebih terbelah. Situasi ini bisa dibedakan dari para pemilih yang akan datang, untuk siapa isu yang telah memicu pembentukan partai yang diawalnya barangkali sudah lama dan tidak sesuai hingga menyebabkan berkurangnya partisipan.

Proses ini diperkuat dengan merosotnya kesetiaan partai secara parallel. Diluar perpecahan politik tradisional, kelas ekonomi cenderung tetap sebagai daerah utama setelah perang. Tetapi buktinya menampakkan jika kriteria kelas sepertinya tidak tetap menjadi penentu dari kuat pilihan partai politik, alasan dari melemahnya hal ini karena ditemukannya perubahan yang dialami oleh masyarakat dari industry maju barat.

Perubahan structural juga dialami oleh golongan pekerja, fenomena industrialisasi proletarianisasi, pengeroposan pekerja desa dan pengentasan dalam jumlah besar untuk melakukan proses kerja yang terintegrasi secara rutin dan dukungan dari kiri secara masal (Mann, 1973 dalam Baldacchino, 1989) beserta menurunya jumlah suara democrat Kristen/konservatif (Irwing, 1979 dalam Baldacchino, 1989). Metode ini masih berjalan di daerah dimana masih terjadi industrialisasi.

Menurunnya kelas pekerja tradisional ini juga dibarengi oleh muncunya kelas menengah baru para juru bicara, birokrat dan manajemen menengah, pada umumnya para pekerja yang berpendidikan yang terlibat dalam pekerjaan sector ke 3 lebih merendah, patuh daripada

proletar atau golongan dan sadar kekuasaan. Tetapi hal ini masih belum pasti karena pekerja itu cukup beruntung untuk membentuk bagian dari satf inti yang didorong untuk mengabdikan dirinya pada adab usaha dan bergaul dengan kepentingan modal.

Penjelasan melanjut tentang fenomena restruktuisasi didalam politik Eropa Barat kontemporer ini ialah efek dari pengangguran structural yang menjadi-jadi. Kurangnya kesempatan kerja yang parah menjadi penyebab timbulnya kebencian dan perselisihan dengan kelompok minoritas dalam masyarakat. Korbannya ialah komunitas etnis yang tersebar di kota-kota industry di Eropa Barat, yang berasal dari Italia Selatan, Portugal, Yugoslavia dan daerah lainnya dari pantai Mediterania saat Eropa Barat mengalami kurangnya tenaga kerja. Lalu masuknya pekerja yang bersedia untuk kerja tanpa mengharapkan kompensasi yang besar disambut baik. Tetapi tanpa disadari hal ini mneyebabkan mereka berada dianak tangga paling bawah dalam tangga pekerjaan. Saat itu, sekiranya ada 20 juta pengangguran di Eropa Barat.

Dari penjelasan diatas, mungkin kekuatan dan komposisi di peta kelas baru tidak mengecewakan. Benar jika kelas menengah baru sedang tumbuh, tapi jika dalam cara kerja ini sebagian besar menempati posisi kelas yang kontradiktif yang menjadikan mereka pemilih potensial dari kiri. Perluasan pekerja kerah putih sudah disertai skill yang luas. Maka dari itu, kelas menengah baru bisa dianggap sebagai kelas pekerja baru.

Referensi

Heinberg, J. G. (2006). Politics in Western Europe. American Journal of Economics and Sociology, 8(2), 97–106. Doi: 10.1111/j.1536-7150.1949.tb00736.x

Baldacchino, G. (1989). The dynamics of political restructuring in Western Europe and Malta. Hyphen, 6(2), 99-116. https://www.um.edu.mt/library/oar//handle/123456789/25188

Author: Annisa Shiva

politik internasional

46 thoughts on “Dinamika Politik Restrukturisasi di Eropa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *