Dinamika Hubungan Thailand dan Myanmar Pasca Perang Dingin: Ideologi, Perbatasan, dan Pengungsi

Thailand dan Burma (nama Myanmar terdahulu) secara historis memiliki kesamaan suku budaya dan agama serta dinamika yang berasal dari keamanan Indochina yang kompleks sehingga  membuat interaksi antara kedua negara terjalin baik. Namun hubungan kedua negara tersebut tidak selalu harmonis atau bahkan saling menguntungkan kedua belah pihak. Perang yang terjadi antara Kerajaan Pegu Myanmar dan Kerajaan Ayutthaya Thailand pada abad ke-16 yang menewaskan Ratu Suriyothai tersebut memberikan kenangan buruk pada masyarakat Thailand. Selain itu pada saat Perang Dunia II, Thailand mengirimkan tentara Phayap untuk menguasai negara bagian Shan dari Burma dengan tujuan untuk mengambil alih produksi opium (Armandhanu, 2014). Peristiwa dimasa lalu tersebut membuat hubungan keduanya mengalami ketegangan dan saling melemparkan tuduhan satu sama lain atas beberapa konflik yang melibatkan kedua negara yang berbatasan tersebut. Pada tahun 1949, satu tahun setelah merdeka terjadi pemberontakan etnis minoritas didataran tinggi dan etnis didataran rendah karena merasa tidak diperlakukan dengan baik dan terhormat. Peristiwa pemberontakan tersebut melahirkan organisasi seperti Kachin Independent Organization (KIO), Karen National Unity (KNU), dan Mong Tai Army (MTA) yang terletak di negara bagian Shan. Lahirnya berbagai organisasi tersebut membuat keadaan politik dalam negeri Burma semakin rumit dan dapat mengancam legitimasi negara (Ganesan, 2001).

Pemberontakan yang terjadi di Burma menyebabkan banyak imigran gelap yang melarikan diri ke daerah perbatasannya dengan Thaiand, terutama etnis Karen yang berada diperbatasan Thailand Myanmar tepatnya di Provinsi Tak, Thailand dan merupakan etnis minoritas terbesar dari kedua negara. Sensus yang akurat sebenarnya belum dilakukan oleh Myanmar hingga tahun 1930, namun estimasi sementara dari jumlah penduduk etnis Karen adalah sekitar tiga juta sampai tujuh juta. Selama setengah abad terakhir etnis Karen telah terlibat dalam pemberontakan dengan pemerintahan berkuasa di Myanmar (Burma) yang menyebabkan mereka melakukan evaluasi massal menuju perbatasan Thailand. Oleh karena itu banyak etnis Karen yang tinggal di kamp pengungsi di sisi perbatasan Thailand, sedangkan yang lainnya memilih untuk tetap tinggal di pedesaan atau kota di Myanmar dan Thailand (Parker, et al. 2014). Menurut sensus Thailand 2010, sekitar 440.000 orang dilaporkan menggunakan bahasa etnis Karen ketika berbicara di rumah mereka . Sedangkan per Januari 2013 lebih dari 100.000 etnis Karen tinggal di kamp pengungsi di sisi perbatasan Thailand (Parker, et al. 2014).

Setelah Perang Dingin berakhir, hubungan kedua negara tersebut selalu diwarnai konflik tentang perbatasan, pengungsi, penyelundupan narkoba, illegal fishing, hingga konflik bersenjata. Perbedaan ideologi antara kedua negara pun menjadi salah satu faktor ketegangan hubungan Thailand Myanmar, Myanmar merupakan negara demokrasi sedangkan Thailand negara dengan sistem Pemerintahannya didominasi oleh militer dan sangat diktator. Pada awal tahun 2000an, yaitu pada masa Pemerintahan Thaksin Shinawatra mengatakan bahhwa Myanmar tidak akan pernah bisa berdamai dengan Thailand selama negara tersebut masih dipimpin oleh junta militer dan tidak memeluk demokrasi. Permasalahan para pengungsi sebenarnya telah menciptakan ketegangan antara kedua negara sejak lama. Pasukan Myanmar telah melakukan penggerebekan melintasi perbatasan sejak tahun 1995 dengan tujuan untuk menghancurkan kamp pengungsi etnis Karen. Peristiwa tersebut membuat Thailand menerima kritik internasional karena dianggap gagal memberikan keamanan terhadap para pengungsi. Oleh karena itu Thailand semakin memperketat penjagaan kamp pengungsi disepanjang sungai Mekong, Moei, dan juga sungai Salween.  

Konflik perbatasan yang melibatkan para pengungsi kembali terjadi pada tahun 2010-2012 ketika kelompok separatis Democratic Karen Buddhist Organization (DKBO) terlibat bentrok dengan tentara Myanmar. Karena peristiwa tersebut pemerintah Myanmar menuduh Thailand telah menyokong kelompok separatis DKBO untuk melakukan penyerangan terhadap tentara Myanmar. Terlepas dari ketegangan hubungan kedua negara, keberadaan pengungsi dan imigran gelap sebenarnya menguntungkan bagi Thailand yang mengandalkan industri manufaktur padat karya tersebut. Para imigran gelap yang membutuhkan pekerjaan dapat dimanfaatkan oleh Thailand sebagai pekerja dengan bayaran yang murah karena tidak adanya dokumen resmi dari para pengungsi tersebut. Dibalik semua konflik yang terjadi antara Thailand dan Myanmar, sebenarnya kedua negara telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1948 ketika menjadi negara anggota ASEAN. Namun karena banyaknya konflik yang terjadi, hubungan kedua negara tersebut membaik ketika kedua negara menargetkan kerjasama dagang hingga US$6,1 miliar pada tahun 2015 saat Komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN terbentuk. Bahkan Thailand merupakan mitra dagang terbesar Myanmar setelah Cina dengan volume perdagangan mencapai US$5,7 miliar fiskal pada tahun 2013-2014.

Referensi:

Ganesan, N. (2001). Thailand’s Relations with Malaysia and Myanmar in Post-Cold war Southeast Asia. Japanese Journal of Political Science, 2, 127-146.  https://doi.org/10.1017/S1468109901000160

Parker, D. M., Wood, J. W., Tomita, S., DeWitte, S., Jennings, J., & Cui,  L. (2014). Household Ecology and Out-migration Among Ethnic Karen along the Thai-Myanmar Border. Demographic Research, 30(39), 1129-1156. https://doi.org/10.4054/DemRes.2014.30.39

Armandhanu, D. (2014, 10 Oktober). Onak Berduri Hubungan Myanmar-Thailand. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20141010132217-106-6013/onak-berduri-hubungan-myanmar-thailand

Author:

35 thoughts on “Dinamika Hubungan Thailand dan Myanmar Pasca Perang Dingin: Ideologi, Perbatasan, dan Pengungsi

  1. ternyata selain miningkatkan perekonomian di kawasan ASEAN. MEA punya andil dalam pencapaian kesepakatan damai antara Thailand dan Myanmar. Semoga juga meningkatkan perekonomin Indonesia khususnya

  2. Terlepas dari naik turunnya hubungan Thailand-Myanmar dimasa lalu, semoga kerjasama mereka terus terjalin di masa depan. Terima kasih penulis atas tulisannya

  3. artikel yang bagus dan bisa menambah wawasan semoga hubungan diplomatik keduanya dapat terjalin lebih positif lagi serta memberikan keuntungan yg lebih untuk keduanya dimasa mendatang

  4. semoga MEA terus membawa keuntungan dan berkah bagi negara anggota ASEAN seperti yang dialami oleh Thailand dan Myanmar. terima kasih Puji untuk artikelnya, semangat menulis terus!

  5. Rapi, teliti dan mudah dimengerti. Terimakasih utk penulis , jadi banyak tahu tentang keadaan negara-negara di Asia Tenggara skrg.

  6. Ternyata dengan adanya MEA tidak hanya memberikan dampak pada ekonomi negara anggota, tetapi juga memperbaiki hubungan negara yg sedang tensi. Nice artikel!

  7. Masalah perbedaan ideologi sering dianggap sebagai ancaman, padahal bisa saja perbedaan ideologi itu memberi sudut pandang baru dalam menjalin hubungan

  8. baru tau ternyata Myanmar dan Thailand punya hubungan yg naik turun, padahal sama-sama penganut Budha. Terima kasih penulis sudah berbagi informasi menarik!

  9. Semoga keharmonisan hubungan Myanmar dan Thailand bertahan lama, dan bisa ditiru negara ASEAN lainnya untuk tetap menjalin hubungan harmonis

  10. Masalah perbatasan di Asteng sepertinya masih menjadi isu yang sensitif sampai saat ini, wajar bila banyak negara tetangga yang berkonflik karena perbatasan. Thank you penulis sudah membagikan tulisannya.

  11. MEA membuat kedua negara melupakan konflik di masa lalu demi keuntungan yang lebih besar, semoga dapat memberikan pengaruh yang sama untuk semua anggota ASEAN

  12. terkadang konflik yang ada tidak menghalangi negara untuk melakukan kerjasama. karena dibalik semua konflik, ada kepentingan yang harus dicapai. terima kasih penulis atas artikelnya.

  13. sebenarnya konflik pengungsi membawa keuntungan bagi keduanya, Thailand dapat tenaga kerja murah dan Myanmar tidak perlu memikirkan bagaimana nasib pengungsi tsb.

  14. Thailand dengan sistem otoriter militernya seharusnya dapat dijadikan peluang oleh Myanmar untuk kerjasama keamanan, namun tetap disesuaikan dengan ideologi negaranya.

  15. Thailand dan Myanmar dengan latar belakang masa lalu yg penuh konflik berakhir dengan kerjasama yg saling menguntungkan, semoga Indonesia dan Malaysia dapat mengikuti jejak tetangganya. Thanks untuk artikelnya

  16. Artikel ini mudah dipahami, bahkan saya bukan jurusan HI bisa menyerap informasi yang ditulis. Lanjutkan terus tulisannya Puji!!!!! Fighting, sarangee

  17. Artikel yang menarik dengan bahasa dan kalimat yg mudah di pahami.
    Di pembahasan artikel ini kuti dapat pelajaran baru tentang sejarah negara tetangga.
    Nice article! Sukses terusss..

  18. Pingback:slot999

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *