Dinamika Budaya Politik Amerika Latin

Ilmu hubungan internasional mencakup kajian pembelajaran yang luas, karena ilmu hubungan internasional terus berkembang seiring dengan kompleksitas sistem internasional. Salah satu pembelajaran dalam ilmu hubungan internasional adalah pemahaman mengenai kawasan. Di era globalisasi, kajian kawasan semakin dibutuhkan dan perlu dikembangkan. Hal ini semata-mata demi pemahaman yang mendalam mengenai kondisi suatu kawasan, baik politik, pemerintahan, ekonomi dan kehidupan sosialnya. Salah satu kawasan yang penuh akan dinamika budaya politik, tetapi sangat menarik untuk dibahas adalah kawasan Amerika Latin.

Menurut Choirica (2008) Amerika Latin merupakan kawasan luas di benua Amerika dengan kebudayaan dan peradaban yang beragam. Kawasan Amerika Latin mencakup sebagian kecil Amerika Utara (Negara Meksiko), serta hampir keseluruhan Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Kepulauan Karibia. Negara-negara yang berada di wilayah Amerika Latin adalah Meksiko, Belize, Guatemala, El Salvador, Honduras, Nikaragua, Kosta Rika, Panama, Kolombia, Ekuador, Venezuela, Brasil, Peru, Bolivia, Paraguay, Uruguay, Chili, Argentina, Kuba, Haiti, Republik Dominika, dan Puerto Riko (Choirica, 2008, hlm. 4). Dari tiap-tiap negara di kawasan Amerika Latin cenderung mengalami perkembangan budaya politik yang serupa.

Istilah budaya politik merajuk pada keyakinan, simbol, dan nilai-nilai. Budaya politik merupakan nilai-nilai yang didalamnya terdapat ide-ide dan diakui oleh sebagian besar masyarakat (Semma, 2008, hlm. 91). Budaya politik juga mencakup politik pemerintahan, hukum, dan norma kebiasaan yang di implementasikan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, budaya politik kaitannya sangat erat dengan ideologi atau pemahaman mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Budaya politik jelas dapat memberikan pengaruh terhadap kebijakan luar negeri suatu negara.

Budaya politik yang di implementasikan di kawasan Amerika Latin merupakan pembelajaran yang kompleks. Mengapa dikatakan kompleks? Karena di kawasan Amerika Latin terdapat beberapa budaya politik telah diterapkan. Dari budaya politik kiri hingga budaya politik kanan. Istilah politik kiri dan politik kanan terkemuka ketika perang dingin berlangsung antara pemikiran kanan yang ideologinya liberal dan menekankan pada demokrasi, sedangkan politik kiri ideologi sosialisme. Walaupun banyak negara-negara di kawasan lain juga yang sudah menerapkan berbagai macam budaya politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun di kawasan Amerika Latin tak jarang budaya politik tersebut mengalami gejolak ketidak stabilan. Sistem presidensial yang mengalami kegagalan dikarenakan sistem parlemen di kawasan Amerika Latin belum sepenuhnya siap di jalankan (Hochstetler, 2011).

Belum adanya kesiapan maksudnya adalah bahwa di kawasan Amerika Latin, politik kiri yang kental menjadikan kancah politik di kawasan Amerika Latin tidak terlepas dari pemahaman dan ideologi sosialisme. Mulanya, pada awal abad 21 partai-partai kiri menang di berbagai negara di kawasan Amerika Latin, seperti di negara Venezuela, Chili, Brasil, Argentina, Uruguay, Paraguay, Bolivia, dan Ekuador. Di Venezuela pada tahun 1999 Hugo Chavez terpilih sebagai presiden yang revolusioner sosialisme atau populisme, sayap kiri, dan anti imperialism. Lalu ada Luiz Inacio Lula da Silva yang merupakan pendiri partai buruh Brasil memenangkan pemilihan umum pada 2002, di negara Argentina ada Nistor Kirchner Christina, Evo Morales di negara Bolivia yang terpilih pada tahun 2005, dan Rafael Correa di negara Ekuador (Irfan, 2017). Para pemimpin seperti Kirchner (Argentina) , Lula (Brazil), dan Chavez (Venezuela) merupakan aktor dari gelombang populisme di kawasan Amerika Latin. Populisme ini muncul sebagai akibat dari mobilisasi sosial dalam melawan neoliberalisme pada dekade 2000-an (Darmawan, 2017).

Istilah sosialisme muncul kembali diruang-ruang publik, karena semenjak pasca perang dingin, budaya politik kiri merupakan hal yang haram di kawasan Amerika Latin. Pada umumnya, politik sayap kiri Amerika Latin bergerak dalam hal nasionalisasi industri, redistribusi pendapatan, dan menolak pemahaman neoliberalisme IMF. Maksud dari istilah populisme Amerika Latin adalah kondisi kaum proletar anti kemapanan dalam arti mewakili kelompok yang ter marjinalkan. Mereka mengharapkan hadirnya sosok pemimpin yang karismatik dan memiliki hubungan langsung dengan pengikutnya. Populisme yang muncul di kawasan Amerika Latin akibat dari terjadinya krisis ekonomi global, isu yang diangkat mengenai kesenjangan ekonomi. Neoliberalisme melalui Washington Consensus mengalami kegagalan di kawasan Amerika Latin. Krisis keuangan tahun 2008 tersebut, dianggap sebagai kegagalan neoliberalisme. Di Amerika Latin dan kaum populis global menyoroti bahwa paham neoliberalisme hanya mewakili kelompok-kelompok elite kecil di dunia (Darmawan, 2017).

Tetapi, saat ini sosialisme di kawasan Amerika Latin mulai kehilangan eksistensinya. Di mana banyak terpilihnya para pemimpin yang prinsip ideologinya lebih condong ke kanan. Di Argentina, terpilihnya Mauricio Marci dari partai sayap kanan sekaligus mengakhiri 12 tahun kekuasaan klan Krichner. Para pemimpin dari sayap kiri Amerika Latin mulai mendapatkan tekanan dari para kelompok oposisi. Maduro yang kalah telak pada pemilihan umum tahun 2015 akibat krisis politik dan ekonomi di negara Venezuela. Rafael Correa dari Ekuador juga harus turun takhta akibat resesi ekonomi. Evo Morales, pemimpin dari sayap kiri Bolivia terlibat dalam skandal seks, sehingga pada 2016 merupakan akhir masa kepemimpinannya. Dilma Rousseff dari Brasil juga di paksa untuk berhenti dari jabatannya sebagai presiden pada tahun 2016 dikarenakan korupsi, yang akhirnya dia digantikan oleh Michel Temer yang berasal dari sayap kanan (Irfan, 2017).

Namun, budaya politik kanan di kawasan Amerika Latin juga masih belum sepenuhnya bangkit. Karena organisasi dan instansi di kawasan Amerika Latin masih konservatif, dan tidak terlepas juga dengan akar budaya politik kiri. Di Argentina, pemerintahan Marci dianggap terlalu boros dalam pengeluaran anggaran pemerintah, begitu pula dengan Temer di negara Brasil, ketika Temer sedang berusaha memperbaiki perekonomian Brasil dengan Kementerian Keuangan Brasil, bawahan – bawahan Temer terseret kasus korupsi. Menurut J. G. Castaรฑeda dalam Irfan (2017), seharusnya anggaran pemerintah diperkuat untuk pembiayaan jangka panjang. Harus ada program yang mengelola keuangan terutama untuk komoditas gas, minyak bumi, dan tembaga. Selain itu, maraknya kasus korupsi merupakan akibat dari tata kelola ekonomi dan sumber daya alam yang tidak berjalan mulus, tidak adanya transparansi juga kurangnya pengawasan terhadap institusi pemerintah. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan energi terbarukan (Irfan, 2017).

Kegagalan politik kiri di kawasan Amerika Latin merupakan akibat dari krisis ekonomi dan kasus korupsi yang merajalela. Gerakan populisme yang muncul akibat dari krisis keuangan global di akhir abad 20 tergerus akibat dari kegagalannya presidensial. Kurangnya tata kelola keuangan terutama mengenai regulasi sumber daya alam juga penyebab kompleksitas budaya politik di kawasan Amerika Latin.

Referensi

Choirica, N. (2008). Peradaban Amerika Latin. Bengawan Ilmu.

Darmawan, A. (2017). Gerakan Populis sebagai Tren Global: Dari Amerika Latin sampai Occupy Movement. Insignia: Journal of International Relations, 4(2), 1-8. https://doi.org/10.20884/1.ins.2017.4.02.593

Hochstetler, K. (2011). The Fates of Presidents in Post-Transition Latin America: From Democratic Breakdown to Impeachment to Presidential Breakdown. Journal of Politics in Latin America, 3(1), 125-141. https://doi.org/10.1177/1866802X1100300105

Semma, M. (2008). Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas negara, manusia Indonesia, dan perilaku politik. Yayasan Obor Indonesia.

Irfan, M. (2017, 25 September). Benarkah Amerika Latin Bergerak ke Kanan?. Tirto.id. https://tirto.id/benarkah-amerika-latin-bergerak-ke-kanan-cw3A

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi kelas HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

49 thoughts on “Dinamika Budaya Politik Amerika Latin

  1. Nice artikel, mampu menmbah wawasan. Artikel ini bisa menjadi bahan referensi untuk para mahasiswa HI lainnya. Good job Mudhy.

  2. Wah informatif banget bahasannya. Bahasa yg digunakan baik dan mudah dimengerti. Terima kasih udah nambah pengetahuan seputar politik di Amerika Latin!

  3. Pingback:home search
  4. Pingback:my review here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *