Dibalik Kerja Sama Keamanan Maritim Jepang Di Asia Tenggara, Ada Apa?

Jepang merupakan kekuatan besar pertama yang mengakui ASEAN sebagai entitas dan mempromosikan kerja sama keamanan multilateral regional. Pasca Perang Dunia II, Jepang tertarik untuk melakukan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara, dimana negara-negara tersebut juga merupakan negara bekas jajahannya. Mengingat pada masa perang Jepang juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kerusakan yang terjadi, maka Jepang merasa bertanggung jawab agar dapat mengembalikan citranya di mata internasional.

Rasa tanggung jawab Jepang kemudian berkembang menjadi suatu keinginan Jepang untuk mempererat hubungannya dengan negara-negara di Asia Tenggara. Jepang telah menaruh ketertarikan pada kawasan ini. Jepang menjadi sangat terlibat dalam proses arsitektur regional ASEAN. Bahkan, ide pertama mengenai ASEAN Regional Forum (ARF) datang dari pemikiran Menteri Luar Negeri Jepang, yaitu Taro Nakayama. Ketertarikan Jepang meluas hingga akhirnya Asia Tenggara menjadi pusat gravitasi bagi Jepang dalam hubungannya dewasa ini. Jepang mulai memperhatikan isu keamanan di kawasan tersebut, khususnya setelah tahun 2010 dimana pada tahun tersebut terjadi peningkatan persaingan maritim di Asia. Maka dari itu, Jepang bersama ASEAN melakukan berbagai kerja sama dalam bidang keamanan maritim. Sejak saat itu, Jepang berkomitmen untuk membantu negara-negara Asia Tenggara membangun kapasitas keamanan mereka dengan secara aktif melibatkan mereka dalam pelatihan militer bersama, menyediakan kapal berteknologi tinggi dan kapal patroli ke negara-negara ASEAN, serta meningkatkan jumlah bantuan Official Development Assistance (ODA) dari Jepang. Selain itu, Jepang juga menggunakan Japan Coast Guard (JCG) dan Japan Maritime Self-Defense Force (MSDF) untuk melindungi keselamatan laut, perlindungan lingkungan laut dan juga dalam menegakkan hukum laut (Shoji, 2016). Segala upaya Jepang tersebut telah berhasil mendorong kerja sama dengan negara-negara di Asia Tenggara, khususnya dalam bidang keamanan maritimnya. Dari fakta yang ada dimana Jepang sangat peduli terhadap keamanan di Asia Tenggara, ada apa sih dibalik kepedulian Jepang tersebut? Sepenting itukah Asia Tenggara bagi Jepang?

Jepang, sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Asia Timur dan ketiga di dunia memiliki kekuatan maritim utama yang sulit ditandingi oleh negara Asia lainnya, termasuk Tiongkok. Jepang sendiri memiliki kepentingan yang besar dalam kawasan Asia Tenggara, khususnya pada wilayah Laut China, sehingga Jepang menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian dari prioritasnya. Bagaimana tidak, wilayah laut tersebut selain memiliki lokasi yang sangat strategis, komunikasi laut di jalur tersebut, terutama yang melalui Selat Malaka berjumlah 5,3 triliun pertahunnya, termasuk 88% dari impor minyak Jepang (Midford, 2015). Wah, pantas saja Jepang sangat memperhatikan keamanan di wilayah tersebut. Hal tersebut terlihat jelas dari bagaimana kawasan maritim di Asia Tenggara memiliki lalu lintas laut yang padat dan menyediakan konektivitas maritim yang penting bagi perdagangan dunia, termasuk Jepang. Bagi Jepang, kehidupannya bergantung pada laut untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi dan kelangsungan hidupnya, sehingga jalur perdagangannya selau menjadi prioritas. Selain itu perlu diingat juga bahwa Jepang merupakan negara kepulauan yang miskin akan sumber daya alam, nah jalur laut tersebut sangat penting juga bagi Jepang sebagai jalan raya laut untuk menyalurkan kebutuhan energinya. See? Jepang memiliki kepentingan yang kuat dalam memastikan jalur laut yang aman untuk perdagangan dan sumber energinya melalui jalur perairan yang padat di kawasan tersebut.

Namun, di kawasan tersebut terdapat sengketa yang cukup rumit, dimana Tiongkok sebagai negara super power mengklaim sebanyak 80% dari wilayah Laut China Selatan. Dalam hal ini, Jepang juga memiliki kepentingan tersendiri. Jepang ingin mempertahankan status quo di Laut China Selatan, dimana laut tersebut melayani kepentingan ekonomi dan keamanan Jepang, yang pada saat bersamaan juga menjadi titik masalah sengketa antara negara-negara di Asia Tenggara dan Tiongkok. Klaim Tiongkok atas sembilan garis putus-putus tentu saja menjadi tumpang tindih bersamaan dengan klaim dari Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam. Perilaku Tiongkok yang cukup agresif di kawasan telah mengancam negara-negara tersebut, dimana kemampuan militer dan keamanannya terbilang kurang (Nirmala, 2016). Dalam hal ini Jepang ingin mencegah tindakan agresif Tiongkok tersebut. Karena jika Tiongkok melakukan tindakan agresif secara terus menerus, hal tersebut bisa mengubah status quo di Laut China Selatan. Hal tersebut menjadikan wilayah maritim di Asia Tenggara ini menjadi kompleks dan menantang, karena pada akhirnya wilayah ini akan menjadi titik temu kepetingan negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat dan juga Jepang. Karena walau bagaimanapun, dalam usahanya menjaga keamanan maritim di Laut China Selatan, Jepang tidak dapat melakukannya seorang diri, dimana Jepang juga memiliki perjanjian keamanan dengan sekutunya yaitu Amerika Serikat. Maka tidak heran jika Amerika Serikat sering kali muncul sebagai ‘polisi dunia’.

Menanggapi risiko yang cukup besar bagi keamanan jalur distribusi sumber daya dan perdagangannya, Jepang dengan cepat memposisikan dirinya sebagai pemimpin regional dalam kerjasama maritim dengan negara-negara Asia Tenggara. Well, dapat dibilang Laut China Selatan tersebut merupakan masalah hidup dan mati Jepang. Maka, tidak heran lagi jika partisipasi Jepang dalam Laut China Selatan cukup aktif. Karena memang Jepang memiliki kepentingan yang sangat besar dalam kawasan tersebut. Selain itu, upaya Jepang dalam mengamankan kepentingannya di Laut China Selatan juga dapat dilihat sebagai tanggapan atas sifat agresif Tiongkok di kawasan tersebut. Oleh sebab itu, sudah menjadi sebuah keharusan bagi Jepang untuk membangun kapasitas kemanan di Asia Tenggara sebagai bentuk self defense untuk menghadapi keagresifan Tiongkok di kawasan tersebut. Segala upaya yang dilakukan Jepang melalui bantuan, kerja sama dan diplomasi pada akhirnya bertujuan untuk menciptakan kawasan yang stabil yang juga akan menguntungkan Jepang di masa depan. And last but surely not least, juga untuk memberikan peluang bagi Jepang agar dapat memberikan pengaruh yang lebih besar di kawasan tersebut.

Referensi

Midford, P. (2015). Japan’s Approach to Maritime Security in the South China Sea. Asian Survey, 55(3), 525-547. https://doi.org/10.1525/as.2015.55.3.525

Nirmala, M. (2016). Japan’s New ASEAN Diplomacy: Strategic Goals, Patterns, and Potential Limitations Under the Abe Administration. International Journal of Social Science and Humanity, 6(12), 952-957. http://dx.doi.org/10.18178/ijssh.2016.V6.780

Shoji, T. (2016). Japan’s Security Cooperation with ASEAN: Pursuit of a Status as a “Relevant” Partner. NIDS Journal of Defense and Security, 16, 97-111. http://www.nids.mod.go.jp/english/publication/kiyo/pdf/2015/bulletin_e2015_5.pdf

62 thoughts on “Dibalik Kerja Sama Keamanan Maritim Jepang Di Asia Tenggara, Ada Apa?

  1. Artikel nya menarik banget bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami. Artikel ini bisa banget buat tambahan bacaan anak2 HI sih. Keren Anggia 👍👍👍

    1. artikelnya bagus banget! bahasanya juga mudah dipahami, dan isinya sangat menarik! ditunggu artikel artikel selanjutnya🙌🏻

  2. dibalik kerja sama maritim Jepang dan Asia Tenggara pasti tentunya ada kepentingan yang ingin dicapai oleh Jepang. good job anggia!✨

  3. Isi artikel ini merupakan salah satu contoh keberhasilan Jepang dimana ketika mereka hendak merubah dan memperbaiki citra atas apa yang telah mereka perbuat di masa lalu tapi disisi lain mereka juga mampu memasukkan kepentingan nasional mereka di dalamnya. Nice articel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *