COVID-19 di Asia Timur: Kebijakan China dan Jepang (Januari – Maret 2020)

Corona Virus Disease 19 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Virus Corona baru yang bernama SARS-CoV-2. Kota Wuhan merupakan wilayah pertama yang menemukan COVID-19 pada tanggal 31 Desember 2019 (World Health Organization, 2020). Sejak 23 Maret 2020, COVID-19 mulai menyebar ke 172 negara dari 195 negara di dunia dan COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi global pada bulan Maret 2020. COVID-19 memiliki karakteristik, yaitu: pertama, tingkat penyebaran yang tinggi. Hanya dalam jangka waktu tiga bulan, COVID-19 sudah menyebar hampir ke seluruh dunia dan dinyatakan sebagai pandemi global. Hal ini dikarenakan masyarakat di dunia dapat berpindah-pindah tempat dengan cepat dan mudah. Kedua, COVID-19 lebih mudah menginfeksi orang lanjut usia dan orang dengan kekebalan tubuh (imun) yang rendah. Ketiga, COVID-19 memiliki tingkat pemulihan yang berbeda-beda di setiap negara. Negara Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea memiliki tingkat pemulihan yang tinggi, sedangkan Eropa, Iran dan Amerika Serikat memiliki tingkat pemulihan yang rendah namun hal tersebut tidak bisa dipastikan, artinya akan selalu berubah (Shaw et al., 2020).


China sebagai negara pertama yang menemukan COVID-19 mengeluarkan berbagai keputusan, kebijakan dan peringatan. Peringatan pertama yang diumumkan yaitu larangan untuk menyebarkan dan mempercayai berita palsu (hoax) mengenai COVID-19. Sebagai wilayah yang pertama kali terdeteksi adanya COVID-19, pemerintah China mengirimkan 1.800 tim ahli epidemiologi ke Wuhan untuk mengidentifikasi masyarakat yang terjangkit COVID-19. Kemudian dilakukan pemeriksaan suhu tubuh di tempat umum seperti bandara, stasiun kereta api, terminal bis dan pelabuhan kepada seluruh masyarakat dan mendirikan posko kesehatan (AlTakarli, 2020). Pemerintah China mengumumkan bahwa provinsi Hubei merupakan wilayah dalam keadaan darurat pada tanggal 22 Januari 2020 dan dilanjutkan dengan keputusan untuk membangun rumah sakit baru guna menangani COVID-19. Pemerintah China juga mengeluarkan kebijakan untuk mengisolasi wilayah yang merupakan sumber penyebaran COVID-19 dan mendistribusikan tim serta peralatan medis secara menyeluruh di wilayah China. Pada tanggal 5 Februari 2020, pemerintah China mengambil keputusan untuk memeriksa seluruh warga negaranya agar identifikasi COVID-19 dapat dilakukan dengan cepat (Shaw et al., 2020). Identifikasi dilakukan dengan bantuan aplikasi yang memberikan tanda kepada individu yang dianggap perlu melakukan karantina, tanda tersebut berupa tiga kelompok warna yang mengategorikan berdasarkan riwayat perjalanan dan kondisi kesehatan. Selain aplikasi, pemerintah China juga memanfaatkan Closed Circuit Television (CCTV) yang terdapat di wilayah China untuk memantau pergerakkan warga negaranya (AlTakarli, 2020).


Pada tanggal 6 Maret 2020 ditemukan kasus baru di wilayah Shanghai dan Shenzhen yaitu warga negara yang terjangkit virus yang baru tiba dari luar negeri. Kasus tersebut mendorong pemerintah China untuk siap dengan kasus-kasus baru serupa dan menetapkan kebijakan yang ketat terhadap warga dari luar negeri. Kebijakan pemerintah China guna menghadapi lonjakan kasus baru dari luar negeri yaitu menutup seluruh penerbangan dari luar negeri pada tanggal 22 Maret 2020 (Shaw et al., 2020).


Selanjutnya, Jepang merupakan negara yang tak luput dari keganasan COVID-19. Pada tanggal 10-15 Januari, Jepang menemukan kasus pertama COVID-19 di negaranya. Kasus tersebut datang dari warga negara China yang melakukan perjalanan ke Wuhan dan datang ke Jepang. Sejak saat itu, bermunculan kasus baru di wilayah Jepang. Selain itu, kasus pada Kapal Pesiar Diamond Princess merupakan kasus yang mendapat perhatian dunia internasional. Pemerintah Jepang mengindikasi adanya penyebaran virus didalam Kapal Pesiar Diamond Princess sehingga ketika kapal tersebut berlabuh di wilayah Yokohama (Pelabuhan Yokohama) pada tanggal 3 Februari 2020, pemerintah Jepang membuat keputusan untuk melakukan pemeriksaan oleh Disaster Infection Control Team (DICT) dibantu dengan Disaster Medical Assistance Team (DMAT) dan ditemukan 466 penumpang serta 65 awak kapal yang terinfeksi COVID-19 dan dilanjutkan dengan kasus-kasus baru domestik (Shaw et al., 2020).


Pemerintah Jepang mengeluarkan keputusan dan kebijakan guna memutus mata rantai penyebaran virus. Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan kontrol perbatasan dengan meminta pendatang dari luar negeri atau perbatasan Jepang untuk mengisi formulir kesehatan dan melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Pemerintah Jepang menerbitkan Peta Cluster yang didalamnya tertulis bahwa pemerintah Jepang telah menemukan 15 cluster penyebaran COVID-19, berdasarkan dengan cluster yang sudah ditemukan dan meningkatnya kasus positif COVID-19, maka pada tanggal 28 Februari 2020 pemerintah Jepang menyatakan status darurat kepada Pulau Hokkaido dan mengeluarkan kebijakan untuk para masyarakat Hokkaido agar tidak bepergian (Shaw et al., 2020). Selain mengidentifikasi cluster, pemerintah Jepang mengharuskan warga negaranya untuk melakukan tes COVID-19 apabila memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, berinteraksi dengan pasien positif COVID-19, pasien pneumonia dan ketika dokter sangat mencurigai orang tersebut dan menawarkan pengujian berdasarkan penilaian yang teliti (Furuse et al., 2020).


Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan untuk menutup seluruh sekolah, kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi kontak fisik yang dapat meningkatkan penyebaran virus. Pemerintah Jepang juga mengeluarkan kebijakan dasar setelah melakukan rapat dengan para pakar. Kebijakan tersebut memutuskan bahwa orang dengan gejala ringan disarankan untuk isolasi mandiri di rumah dan tidak perlu mencari bantuan medis, para pasien non-COVID-19 diharapkan untuk tidak ke rumah sakit terlebih dahulu dan memanfaatkan smartphone jika keadaan mendesak, tim medis dan rumah sakit harus selalu cepat dan sigap menangani pasien COVID-19, perusahaan harus memberikan libur kepada karyawannya yang memiliki gejala COVID-19 dan mengeluarkan keputusan bekerja dari rumah untuk seluruh karyawan, lalu pemerintah Jepang mengimbau para kepala daerah untuk membubarkan keramaian (Shaw et al., 2020).


Pemerintah Jepang juga memberikan informasi mengenai pengertian COVID-19, informasi mengenai penularan virus, tindakan pemerintah, data pasien positif, sembuh dan meninggal, serta press release (Ministry of Health, Labour and Welfare, 2020). Seluruh warga negara Jepang dapat mengakses informasi dan data melalui halaman situs web resmi dari Ministry of Health, Labour and Welfare of Japan yang dikemas dengan sangat rinci dan menarik. Hal tersebut dilakukan pemerintah Jepang agar warga negaranya mendapatkan informasi secara resmi, terpercaya dan mudah dipahami sehingga akan menghindari warga negara Jepang dari berita bohong (hoax).

Referensi
AlTakarli, N. S. (2020). China’s Respone to The COVID-19 Outbreak: A Model for Epidemic Preparedness and Management. Dubai Medical Journal, 3(2), 44-49. https://doi.org/10.1159/000508448


Furuse, Y., Ko, Y. K., Saito, M., Shobugawa, Y., Jindai, K., Saito, T., Nishiura, H., Sunagawa, T., Suzuki, M., & Oshitani, H. (2020). Epidemiology of COVID-19 Outbreak in Japan, from January-March 2020. Japanese Journal of Infectious Disease, 73(5), 391-393. https://doi.org/10.7883/yoken.JJID.2020.271


Shaw, R., Kim, Y. K., & Hua, J. (2020). Governance, Technology, and Citizen Behavior in Pandemic: Lessons from COVID-19 in East Asia. Progress in Disaster Science, 6(10), 1-27. https://doi.org/10.1016/j.pdisas.2020.100090

Ministry of Health, Labour and Welfare. (2020). Novel Coronavirus COVID-19. https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/0000164708_00079.html


World Health Organization. (2020, 10 November). Coronavirus Disease (COVID-19) [Press Release]. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/coronavirus-disease-covid-19

Author:

39 thoughts on “COVID-19 di Asia Timur: Kebijakan China dan Jepang (Januari – Maret 2020)

  1. Kedua negara sangat sigap dalam mengatasi permasalahan Covid-19 yang terjadi di negaranya. Artikel yang sangat informatif. Keep it up, Cia!👍 Ditunggu artikel selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *