“Cool Japan” dalam Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi Jepang: Apa Pengaruhnya?

Sudah bukan suatu hal yang mengagetkan lagi bahwasanya Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki kinerja yang baik dalam bidang perekonomiannya bahkan pada tingkat dunia internasional. Hal ini tampaknya berlangsung kurang lebih hingga tahun 1980-an, sampai tiba di mana Negeri Sakura tersebut mengalami suatu kondisi yang mana terdapat stagnasi pada perekonomiannya. Dengan adanya kondisi seperti itu, Jepang menyebutnya sebagai “The Lost Decade” atau “The Great Stagnation”. Berbagai upaya telah dicoba untuk dilakukan oleh Jepang dalam memulihkan perekonomian negaranya, seperti misalnya melalui ekspansi fiskal ataupun moneter, yang mana pada kenyataannya pun seringkali mengalami kegagalan. Ada beberapa asumsi yang mengatakan bahwa hal ini terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor pengangguran saja, melainkan juga karena faktor struktural yang dapat mempengaruhi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Pada masa tersebut, banyak lembaga keuangan yang dibiarkan untuk memegang kredit yang cenderung “macet”, terlebih lagi dengan jumlah yang cukup besar. Hal ini nyatanya membuat lembaga-lembaga keuangan tersebut untuk lebih waspada dalam memberikan pinjaman baru. Tidak sedikit pula lembaga keuangan yang bangkrut pada masa stagnasi ini yang mana semakin mendorong perekonomian Jepang ke ambang krisis. Banyak warga sipil dan perusahaan yang mengalami kerugian serta harus memperhitungkan dengan matang uang pengeluaran mereka demi memperbaiki neraca keuangannya. Situasi ini diperburuk dengan terjadinya krisis di negara-negara Asia, yang mana telah menambah tekanan deflasi bagi perekonomian Jepang.
Telah diketahui bahwa setiap pemerintahan secara berturut-turut mencoba untuk melakukan perbaikan dan mencari solusi mengenai stagnasi yang terjadi di Jepang ini. Namun, apabila membicarakan mengenai keefektifan dan keberhasilannya, hal tersebut tentulah sangat terbatas. Salah satu kebijakan yang diusungkan oleh pemimpin Jepang, seperti contohnya PM Shinzo Abe, yang mana dijuluki sebagai Abenomics. Sama seperti kebijakan-kebijakan ekonomi yang sebelumnya, Abenomics ini juga memfokuskan kepada dua sisi, yakni politik dan ekonomi (Grabowiecki, 2019). Selain itu, Abe juga memberikan perhatian khusus kepada industri kreatif yang melibatkan pemuda pemudi Jepang, yang mana disebut dengan slogan “Cool Japan”.
Mengenai “Cool Japan” ini, tampaknya istilah tersebut sudah digunakan selama kurang lebih satu dekade serta dijadikan perbincangan sebagai salah satu aspek dalam budaya populer dan juga industri kreatif, yang sengaja dijadikan sebagai peluang bagi pemerintah Jepang dalam memperbaiki perekonomiannya. Konsep Cool Japan ini juga disebut sebagai salah satu upaya dalam berdiplomasi, yang mana termasuk sebagai diplomasi budaya serta national branding (Mustaqim, 2018). Tampaknya dengan semakin berkembangnya zaman dan teknologi, pemerintah Jepang mulai menemukan peluang yang muncul dari kegemaran orang-orang luar negeri terhadap budaya yang berasal dari Jepang itu sendiri, seperti misalnya anime, manga, atau bahkan fashion khas dari Harajuku. Sehingga dalam hal ini, pemerintah Jepang mulai memanfaatkan diplomasi budaya yang termasuk salah satu upaya soft-power.
Selain hal yang telah disebutkan di atas, ada pula hal lain yang asalnya dari budaya populer Jepang, entah itu desain, gaya hidup, makanan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan maraknya industri kreatif seperti program “Cool Japan” ini, dapat berpengaruh positif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang, sehingga dapat memicu peningkatan daya tarik global terhadap Negeri Sakura ini, termasuk dalam bidang perpolitikan. Bukti lainnya dari pemanfaatan program “Cool Japan” adalah bagaimana Perdana Menteri Koizumi Junichiro sewaktu menjabat, menjadikan Hello Kitty! dan Doraemon sebagai Duta Anime resmi milik Jepang. Kedua karakter tersebut tentunya memiliki misi luar negeri bagi Jepang, yakni diharapkan untuk meningkatkan keefektifan budaya populer. Dengan adanya program “Cool Japan”, terlihat bahwa national branding memanglah sangat penting guna mengidentifikasikan ciri khas tertentu dari negara tersebut, yang jelas berbeda dengan negara lain (Valaskivi, 2013).
Dapat disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan Jepang dalam pemanfaatan program “Cool Japan” jelas cukup berpengaruh terhadap pembangunan serta pemulihan ekonomi Jepang itu sendiri. Hal ini terbukti dengan bagaimana industri kreatif dapat menghasilkan pengaruh yang positif terhadap PDB Jepang. Selain itu, hal ini juga dapat memperbaiki citra Jepang dengan memperkenalkan budaya-budayanya di ranah internasional.

Referensi

Grabowiecki, J. (2019). Abenomics: from the “Great Stagnation” to the “Three-Arrows Strategy”. International Journal of Management and Economics, 55(3), 201-211. https://doi.org/10.2478/ijme-2019-0018


Mustaqim, S. A. (2018). Upaya Jepang dalam Mempopulerkan Program Cool Japan Sebagai Nation Branding. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional. 6(4), 1405-1418. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/10/eJournal%20COOL%20JAPAN%20(10-02-18-04-33-45).pdf


Valaskivi, K. (2013). A Brand New Future? Cool Japan and the Social Imaginary of the Branded Nation. Japan Forum Journal, 25(4), 485-504. https://doi.org/10.1080/09555803.2012.756538

Author: Selfia Anggraini

Jepang dan Negara Industri/C

53 thoughts on ““Cool Japan” dalam Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi Jepang: Apa Pengaruhnya?

  1. wah keren banget, ternyata national branding Jepang unik juga ya menggunakan Hello Kitty dan Doraemon. How cute! Semangat trs author!

  2. Tidak pernah terpikirkan kalau Doraemon dan Hello Kitty mengemban tugas negara yang besar. Anyway, it’s a well-writen yet informative article, keep it up Selfi!

  3. Model pemulihan ekonomi Jepang mungkin bisa menjadi salah satu referensi bagi negara lain untuk dilakukan juga. Jepang memang sangat menarik untuk dibahas. Terima kasih👍🏿

  4. Pingback:my review here
  5. Pingback:280 remington

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *