Budaya Populer Korea Selatan di Era Globalisasi

Perkembangan peradaban manusia saat ini telah mencapai suatu kondisi dimana arus interaksi antar umat manusia semakin intensif. Kondisi tersebut secara umum dikenal sebagai perkembangan “era globalisasi”. Pada akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 menjadi titik pesat berkembangnya arus globalisasi di dunia. Kemajuan teknologi seperti teknologi komunikasi, informasi, serta transportasi di berbagai belahan dunia merupakan hasil dari bentuk globalisasi tersebut. Lambat laun, loncatan teknologi pada pertengahan Abad ke-20 hingga saat ini yang semakin canggih dengan ditemukannya serta menjamurnya telepon pintar atau smartphone yang didukung dengan jaringan internet dan berbagai fasilitasnya. Dengan hadirnya kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi dibidang informasi dan komunikasi ini menjadikan arus informasi dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batasan baik lingkungan geografik, politik, maupun kebudayaan.

Globalisasi sendiri merupakan bagian dari pergerakan peradaban manusia global (Wabaa dkk, 2014). Globalisasi telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia yang dipercepat dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Keadaan ini menciptakan masyarakat baru yang sadar akan kebebasan akses sehingga mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk lebih kreatif dan inovatif untuk memenangkan pasar secara global, karena pada dasarnya globalisasi selalu berkorelasi dengan sektor perekonomian suatu negara (Fithratullah, 2019).

Pengaruh dari pesatnya arus globalisasi ini dapat kita lihat pada salah satu negara di kawasan Asia Timur yakni Korea Selatan. Keberadaan Korea Selatan semakin dilihat dunia internasional dengan berkembangnya industri hiburan di negara ini yang dikenal dengan sebutan “korean wave” atau “hallyu wave”. Tren budaya popular tersebut sangat melekat erat dalam diri negara dengan julukan negeri ginseng ini. Pertumbuhan budaya di Korea Selatan tidak lepas dari intervensi kebijakan budaya pemerintah Korea pada tahun 1980an yang bertujuan untuk memajukan perekonomian dalam sistem politik otoritarian. Tetapi sayangnya hal ini tidak dapat berjalan dengan baik dikarenakan pembatasan ketat pada industri perfilman yang pada dasarnya merupakan salah satu pilar kebudayaan. Sehingga pada tahun 1987 pemerintah Korea Selatan mengubah kebijakan tersebut dengan memberikan kebebasan berekspresi bagi para pembuat film.

Istilah korean wave merupakan istilah yang pada mulanya digunakan oleh media Tiongkok di tahun 1999 (Bae et al, 2017). Hal ini merujuk pada fenomena bahwa anak muda di Tiongkok sangat antusias dengan budaya populer Korea seperti seri drama (K-Drama), musik (K-Pop), film dan K-Fashion. Daya tarik budaya pop Korea Selatan di Asia Timur yang sangat besar didukung dengan kemajuan arus globalisasi mengakibatkan gelombang yang tak terduga di kawasan lainnya. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, drama korea menjadi salah satu program reguler pada televisi Thailand dan Myanmar, destinasi wisata utama bagi masyarakat Singapura dan Indonesia, serta permainan online yang diekspor dari Korea Selatan menjadi booming di kalangan muda Indonesia, Malaysia, dan Filipina (Ardia, 2014). Selain itu kalangan milenial saat ini menggemari aktor, aktris, dan idol Korea yang penampilannya mudah diakses melalui platform-platform online pada produk digital.

Gelombang budaya Korea Selatan memiliki berbagai efek ekonomi dan pengaruh budaya. Konten kebudayaan termasuk fashion menjadi komoditas utama bagi ekspor Korea Selatan. Pada tahun 2014, ekspor konten industri musik meningkat 21,0% dibandingkan tahun sebelumnya dan rata-rata tingkat kenaikan tahunan K-Pop yaitu sebesar 41,7%. Menurut Chae (2014 dalam Bae et al, 2017) total ekspor konten berjumlah US$ 5.273,32 juta dengan peningkatan rata-rata tahunan yaitu sebesar 13,4% dari tahun 2010 hingga 2014. Selain itu, semakin meluasnya korean wave di penjuru dunia berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke Korea Selatan. Korean wave menjadi sebuah fenomena baru dalam industri hiburan Korea yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini menandakan penyebaran budaya Korea Selatan melalui media dapat dikatakan sukses besar.

Referensi

Ardia, V. (2014). Drama Korea dan Budaya Popular. Jurnal Komunikasi, 2(3), 12-18. http://e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/LONTAR/article/view/337

Bae, E. S., Chang, M., & Park, E. S. (2017). The Effect of Hallyu on Tourism in Korea. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 3(4), 1-12. https://doi.org/10.1186/s40852-017-0075-y

Fithratullah, M. (2019). Globalization and Culture Hybridity; The Commodification on Korean Music and its Successful World Expansion. Digital Press Social Sciences and Humanities, 2(13), 83-89. https://doi.org/10.29037/digitalpress.42264

Wabaa, M., Laloma, A., & Londa, V. (2014). Pengaruh Globalisasi Informasi terhadap Kehidupan Sosial Budaya Generasi Muda. Jurnal Administrasi Publik UNSRAT, 4(5), 1-12. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JAP/article/view/5869

Author:

36 thoughts on “Budaya Populer Korea Selatan di Era Globalisasi

  1. Pingback:seo services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *