Belt and Road Initiative: Manuver Investasi Tiongkok di Afrika Timur

Dewasa ini Tiongkok tumbuh menjadi negara superior menyaingi Amerika Serikat, hal ini bisa terlihat pada upaya Tiongkok dalam menghidupkan kembalik Jalur Sutra (Silk Road). Nama Jalur Sutra itu sendiri digunakan pada abad ke-19, yang merupakan jalur perdagangan melewati Asia menghubungkan wilayah Barat dan wilayah Timur dengan aktivitas perdagangan yang dilakukan secara nomaden (berpindah) menggunakan transpotasi berupa, karavan dan kapal laut. Perkembangan pesat jalur ini menarik perhatian para pedagang dari berbagai kawasan untuk memusatkan bisnisnya di beberapa kota besar Tiongkok, seperti Guangzhou, Xinjiang hingga menggunakan rute melalui sungai Yangtze yang notabene merupakan sungai terpanjang di Tiongkok dan Asia. 

Pasca berakhirnya perang dingin (Cold War) dan Krisis Ekonomi yang menghantam perekonomian dunia pada 2008, ada upaya untuk menghidupkan kembali Silk Road yang sebelumnya sudah terputus dari sistem perekonomian global. Hal ini ditandai dengan perkenalan program Belt and Road Initiative (BRI) yang diprakarsai oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping pada tahun 2013, program ini sekaligus merupakan rencana besar yang sedang diusung oleh Tiongkok untuk menghidupkan kembalik Jalur Sutra (Silk Road) pada abad ke-21. Strategi dari program Belt and Road Initiative, akan melibatkan banyak investasi dan pembangunan infrastruktur secara masif di berbagai belahan dunia seperti Eropa, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika (Chan, 2018).Kata Belt sendiri memiliki artian sabuk yang mengacu pada jalur darat berupa jalan raya dan jalur kereta yang merupakan “sabuk ekonomi”, sedangkan Road memiliki artian pada jalur laut atau kemaritiman. Realisasi dari program ini tentunya akan menciptakan satu pasar besar bagi negara-negara yang terintegrasi. Tujuan dari Belt and Road Initiative ini sendiri diprediksi akan menghilangkan masalah kesenjangan ekonomi dan menstimulus pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia-Pasifik serta Eropa Timur dan Eropa Tengah. 

Hubungan dagang antara Tiongkok dan Afrika, dimulai setelah diadakannya Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955, walaupun pada saat itu Tiongkok dan negara-negara Afrika belum sekalipun membuka hubungan diplomatik. Pasca dibukanya hubungan diplomatik pada tahun 2000, dimulailah arus kerjasamadiantara Tiongkok dan negara-negara Afrika melalui Forum on ChinaAfrica Cooperation (FOCAC)Melalui kerjasama ini Tiongkok telah menaruh perhatian khusus terhadap kawasan Afrika dengan adanya peningkatan perdagangan yang signifikan tiap tahunnya. Tujuan utama Tiongkok melakukan investasi di kawasan Afrika adalah untuk memenuhi kebutuhan utama akan sumber energi dan daya alam yang sangat dibutuhkan guna mendukung produksi dalam negeri, sekaligus mengokohkan diri sebagai pesaing terdekat Amerika Serikat dalam perdagangan dunia. Ini memperlihatkan akan keseriusan Tiongkok dalam melebarkan sayapnya sebagai mitra dagang strategis bagi Afrika. Serta,  potensi pasar yang baik dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan guna menciptakan kondisi pasar yang lebih “mesra” antara Tiongkok dan Afrika. 

Dikemudian hari, hal ini menjadi selaras dengan Belt and Road Initiative, yang mana memiliki tujuan untuk menghidupkan kejayaan jalur sutra pada abad ke-21. Afrika Timur menjadi salah satu kawasan utama  yang dituju dalam program Belt and Road Initiative. Berikut beberapa negara kawasan Afrika Timur yang menjadi tempat investasi bagi Tiongkok:  

Pertama, terlihat pada investasi Tiongkok di Kenya. Negara ini merupakan salah satu negara potensial di Kawasan Afrika Utara, potensi ini dapat terlihat pada sektor pertambangan, pertanian, dan peternakan, akan tetapi Kenya masih kesulitan untuk mengembangkan negaranya. Atas faktor-faktor tersebut, Tiongkok memberikan stimulus berupa bantuan kepada Kenya untuk meningkatkan sektor-sektor yang tertinggal. Ditandai dengan pemberian KSh48.64 Miliar (Kenyan Shiling) pada 2014 yang kemudian meningkat sebesar 29% pada 2015 menjadi KSh320.88 Miliar. Dana bantuan ini dipergunakan untuk infrastruktur berupa pembangunan rel kereta api. Hal ini, akan memainkan peran Kenya di kawasan Timur Afrika dan juga sebagai garda terdepan bagi komunitas Afrika Timur dalam perdagangan (Agustina, 2018). 

Kedua, Etihiopia merupakan negara Afrika Timur lainnya yang mendapatkan dana bantuan dari Tiongkok. Kucuran dana bantuan ini diperoleh melalui China Export-Import Bank (Exim Bank), yang diperuntukan untuk pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) yang dimulai medio Desember tahun 2011. Biaya yang dikucurkan oleh Railway Group Limited (CREC) sebagai perusahaan nasional Tiongkok yang merampungkan proyek LRT menembus $475 Juta. Jalur proyek LRT ini memiliki 2 koridor dengan panjang 34,4 Kilometer, yang terlah beroperasi pada 20 September dan 9 Nopember 2015. Investasi Tiongkok di kawasan ini bukan hanya membangun jaringan rel kereta api domestik, tetapi juga jaringan lintas negara menghubungkan Ibu kota Ethiopia, Addis Ababa dengan Djibouti sebagai negara tetangga yang menjulang sepanjang 759 Kilometer. Proyek ini dilakukan karena Ethiopia merupakan Landlocked Country, yang bertujuan untuk meningkatkan rute perdagangan maritim di kawasan Teluk Aden dan Laut Merah. Dengan hadirnya LRT di Ethiopia merupakan suatu hal yang baru, memulai tonggak sejarah yang menggambarkan modernitas moda transportasi di negara Kawasan Sub-Sahara Afrika (Firman, 2018). 

Ketiga, pembangunan pangkalan militer pertama China di luar negeri, yaitu Djibouti merupakan salah satu negara yang berada di Horn of Africa atau walayah paling timur afrika yang berbatasan langsung dengan Laut Merah dan Teluk Aden. Selaras dengan Proyek Belt and Road Initiative, Tiongkok tidak hanya berfokus pada pemberian stimulus berupa bantuan untuk pembangunan infrastruktur, akan tetapi sudah merambat ke militer yang dimana tentu akan sangat menguatkan posisi Tiongkok di kawasan ini. Walaupun sebelumnya Tiongkok juga sudah mendanai sekitar 14 proyek infrastruktur di negara tersebut dengan nilai $14,4 Miliar. Pada 11 Juli 2020 Tiongkok secara resmi mengirim pasukan pertama ke pangkalan militer yang disambut dengan seremoni upacara di Provinsi Guangdong. Tiongkok sendiri telah memulai proyek pangkalan militer ini pada 16 Februari 2016 yang letaknya tak jauh dari Pangkalan Militer Amerika Serikat di Camp Lemonnier, Djibouti (Hardoko, 2020). 

Datangnya Tiongkok di Kawasan Afrika, dipandang sebagai kekuatan besar yang baru di Afrika. Pandangan ini tentu akan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Amerika Serikat sebagai kompetitor. Penetrasi yang dilakukan Tiongkok dalam melearkan mitra dagang di kawasan benua Afrika, tidak serta merta mereka ikut campur dalam urusan mengenai pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh negara tuan rumah. Sehingga gelombang investasi yang dilakukan Tiongkok tidak dapat dikritisi oleh pemimpin kawasan tersebut, karenanya masa depan Afrika sangat bergantung pada datangnya investasi yang masuk dan mau melakukan negosiasi dengan derajat yang sama. 

Referensi 

Chan, M. H. T. (2018). The Belt and Road Initiative–the New Silk Road: a research agenda. Journal of Contemporary East Asia Studies7(2), 104-123. https://doi.org/10.1080/24761028.2019.1580407 

Agustina. (2018). Kepentingan Cina Dalam Pembangunan Rel Kereta Api di Kenya 2015. eJournal Ilmu Hubungan Internasional6(1), 237-250. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2017/10/jurnal%20fix%20(10-10-17-01-34-39).pdf 

Firman, T. (2018, 26 Juni). Geliat Ethiopia setelah Disuntik Cina. Tirto.id. https://tirto.id/geliat-ethiopia-setelah-disuntik-cina-cMHD 

Hardoko, E. (2017, 1 Agustus). Pangkalan Militer China di Afrika Resmi Beroperasi. Kompas. https://internasional.kompas.com/read/2017/08/01/17043401/pangkalan-militer-china-di-afrika-resmi-beroperasi

9 thoughts on “Belt and Road Initiative: Manuver Investasi Tiongkok di Afrika Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *