Bantuan Jepang dalam Pembangunan Malaysia Melalui Proyek Transfer Air Pohang – Selangor

Malaysia negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara ini merupakan sebuah negara bekas jajahan Inggris yang memperoleh kemerdekaan nya pada tanggal 31 Agustus tahun 1957. Malaysia dibawah PM Mahatir Muhammad menegakan dengan tegas dan keras sistem federalism, sehingga keamanan domestik secara keseluruhan ditentukan melalui kemampuan dalam mengembangkan dan mempertahankan stabilitas politik, kemajuan ekonomi serta kemajuan industri. Dalam mengembangkan kebijakan ekonominya Malaysia berusaha menjadi negara yang kuat secara ekonomi seperti Jepang atau Korea Selatan. Malaysia juga memiliki serangkaian kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan perekonomian Malaysia agar dapat bersaing dengan negara maju lainnya yang ada di Asia (Cipto, 2017).

Dalam hubungan bilateral, Malaysia sendiri telah menjalin hubungan baik dengan Jepang, dalam hal diplomatik, ekonomi maupun budaya sejak Malaysia mempeoleh kemerdekaan tahun 1957. Hubungan antara Malaysia-Jepang ini semakin kuat dengan adanya kebijakan “Look East” yang diperkenalkan pada awal tahun 1980-an oleh PM Malaysia Mahatri Muhammad, dimana PM Mahatir Muhammad ini mengikuti langkah dari PM Singapura, Lee Kuan Yew dimana Singapura mengatakan bahwa Jepang merupakan “guru” mereka dan mengusulkan kepada pemerintah jepang untuk membantu Malaysia dalam mendirikan pusat kajian agar melahirkan para ahli-ahli Jepang. sehingga kebijakan “Look East” ini memberikan kesempatan masyarakat asli Malaysia untuk belajar di perguruan tinggi di Jepang serta hasil dari ribuan orang Malaysia yang belajar di universitas Jepang dan institusi pendidikan lainnya lulus.

Hubungan Jepang-Malaysia dalam bidang ekonomi, terjalin erat karna adanya perdanggan dan investasi. Terlihat dalam perdagangan intermasional Malaysia merupakan negara sebagai pemasok sumber daya terbesar bagi Jepang, sedangkan bagi Malaysia, Jepang juga merupakan mitra utama perdangangan terbesar dan juga sebagai sumber penting dalam penanaman modal asing, atau yang disebut Foreign Direct Invesment (FDI). Seperti misalnya gmenurut Menteri Malaysia untuk Perdagangan dan Industri Internasional, Malaysia menerima total USD3,314 miliar dari investasi Jepang dari 1995 – Maret 2000 (Furoka, 2007). Infrastruktur yang baik serta tenaga kerja yang mendidik menjadikan Malaysia sebagai negara dengan tujuan investasi yang menarik bagi Jepang. Sehingga secara keseluruhan sumber FDI Jepang di Malaysia memberikan maanfaat penting yang dapat memberikan peluang kerja bagi tenaga kerja Malaysia serta menciptakan tempat untuk transfer teknologi.

Keberhasilan dari negara-negara di Asia Timur tidak terlepas dalam melakukan pembangunan terhadap negaranya. Banyak negara dunia ketiga yang baru memperoleh kemerdekaan nya dihadapkan dengan pernasalahan kemiskinan dan keterbelakangan yang membutuhkan penanganan (Winarno, 2014). Sehingga Developmental State ini merupakan suatu paradigm yang dapat mempengaruhi arah serta kecepatan pembangunan ekonomi dengan mengintervensi langsung proses pembangunan (Suwarno, 2016). Malaysia merupakan sebagai negara berkembang yang telah melaksanakan berbagai program pembangungan khususnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga pembangunan secara umum. Filosofi pembangunan yang telah dialami oleh Malaysia ini sendiri telah dibagi menjadi lima fase, yaitu;1

1. Dari “building upon the best location”dibawah pendudukan inggris hingga kemerdekaan,

2. Untuk “accelerate maximum growth” yaitu setelah kemerdekaan hingga tahun 1970.

3. Untuk “growth with equity + building upon the target group” ini terjadi di bawah kepemimpinan Tun Abdul Razak dan Tun Hussein Onn

4. Untuk “growth with equity + building upon the best group”di bawah kepemimpinan Tun Dr. Mahathir Muhammad, dan ke lima

5. Untuk “growth with equity + membangun bersama saya” yang terjadi di bawah bimbingan Tun Abdullah Ahmad Badawi.

6. Untuk “growth with equity + one Malaysia concept” di bawah Dato ’ Seri Najib Tun Abdul Razak 

Pertumbuhan ekonomi yang yang secara pesat merupakan sebagai tolak ukur dari tingkat perkembangan suatu negara. Oleh karna itu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dikatakan sebagai kekayaan bagi sebuah negara dan dan juga sebagai peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan kemajuan suatu negara (Rahman, 2016).

Pemberian bantuan luar negeri menjadi salah satu pilar dalam diplomasi Jepang yang juga menjadi instrument penting bagi kebijakan pemerintah Jepang. Ketika eknomi Jepang mengalami peningkatan, Jepang juga terus meningkatan jumlah bantuan luar negerinya dan melipatgandakan program bantuan luar negri tersebut pada tahun 1970-an. Malaysia menjadi salah satu negara penerima bantuan pembangunan oleh Jepang (Official Development Assistance (ODA) terbesar di Asia. Salah satu dari tujuh proyek yang dituju menerima pinjaman dari Jepang di bawah Inisiatif Miyazawa Baru adalah Proyek Transfer Air Mentah Pahang-Selangor (Furoka, 2007).

Proyek ini mmungkinkan transfer air dari wilayah Pohang, yang penduduknya sedikit menuju ke bagian Selangor yang padat penduduknya. Proyek pembangungan bendungan dan terowongan transfer ini ini telah direncanakan. Menurut Japang Bank for International Coorporation (JBIC) wilayah Selangor memiliki masalah terhadap kebutuhan air, bahkan sesekali mengalami kekurangan air pada musim kemarau. Sehingga proyek ini sebagai pertimbangan untuk mengatasi permasalahan air dimasa depan. Namun rencana pembangunan bendungan baru Kelau ini meberikan dampat positif serta negatif sehingga menimbulkan perdebatan.

Pada sisi pertama, pembangunan bendungan Kelau ini seharusnya dapat memenuhi kebutuhan air yang ada di wilayah Selangor, namun pada sisi yang lain ada phak yang protes bahwa pembangunan bendungan Kelau ini dapat menimbulkan permasalahan serius pada ekosistem. Kritikan tentang proyek transfer air ini muncul dari aktivis lingkungan di Malaysia (LSM), namun pemerintah Malaysia mengkritik sikap LSM. PM Malaysia Mahatir Muhammad, menyarankan bagi anggota LSM yang menentang proyek transfer air ini harus pergi dan tinggal di hutan (Furoka, 2007).

LSM memberikan argument bahwa pembanguan bendungan sebenarnya tidaklah penting, karna menurutnya lebih dari 40 persen konsumsi air di daerah ‘hilang oleh sistem distribusi melalui kebocoran dan pencurian’. LSM juga menunjukkan bahwa kekurangan disebabkan oleh: 1) tidak efisien distribusi air, 2) penggunaan air per kapita yang ceroboh, 3) kebocoran yang boros sistem pipa kuno, dan 4) penggundulan sembarangan daerah aliran sungai. Oleh karena itu, Sahabat Alam Malaysia mengusulkan dua langkah penghematan air berikut: 1) penggantian pipa air lama dipasang beberapa dekade yang lalu dengan yang baru dan lebih tahan lama, dan 2) untuk memperkenalkan lebih ketat tindakan terhadap sambungan ilegal ke pipa air, yang mana ditujukan sebagai ganti terhadap pembangunan bendungan Kelau (Furoka, 2007).

Mendengar reaksi negatif terhadap rencana pembangunan bendungan kelau tersebut, pemerintah jepang mengumumkan tidak akan memberikan pinjaman untuk proyek tersebut sampa pemerintah Malaysia menyelesaikan semua masalah serta kontroversi-kontroversi seputar proyek ini. Namun secara mengejutkan pemerintah jepang memutuskan untuk memperpanjang dukungannya untuk proyek transfer air Pohang-Selangor, dan pemerintah jepang telah menandatangani Exchange of Notes (EON) dan JBIC yang sedang dalam proses membahas detail akhir dari perjanjian pinjaman dengan pemerintah Malaysia.

Referensi

Cipto, B. (2007). Hubungan Internasional Di Asia Tenggara. Pustaka Pelajar

Winarno, B. (2014). Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Center of Academic Publishing Center (CAPS).

Furuoka, F., LO May, C., & Iwao, K. (2007). Japan’s Foreign Aid Policy Towards Malaysia: Case Studies of the New Miyazawa Initiative and the Kelau Dam Construction. Electronic journal of contemporary japanese studies, 7(1), 1-13. https://www.japanesestudies.org.uk/articles/2007/FuruokaLoKato.html

Suwarno, Y. (2006, 11 Oktober). Mengenal “Developmental State” Belajar dari Pengalaman Negara-negara Asia Timur. Researchgate. https://www.researchgate.net/publication/328223684_Mengenal_Developmental_State_Belajar_dari_Pengalaman_Negara-negara_Asia_Timur

Rahman, H. A. (2016, Juli 26). Mendefinisikan Semula Pembangunan di Malaysia (Redefinition of development in Malaysia) [Paper Presentation]. 2016 Seminar Antarabangsa Arkeologi, Sejarah, Budaya dan Bahasa di Alam Melayu Nusantara (ASBAM5), Makasar, Sulawesi, Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/309571071_Mendefinisikan_Semula_Pembangunan_di_Malaysia_Redefinition_of_development_in_Malaysia

Author: Ana Ramadani

Jepang dan Negara-Negara Industri & Politik Internasional

35 thoughts on “Bantuan Jepang dalam Pembangunan Malaysia Melalui Proyek Transfer Air Pohang – Selangor

  1. Pingback:슬롯
  2. Pingback:쿠쿠티비

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *