Bagaimana Bubbble Economy yang Terjadi di Jepang?

Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat setelah PD II, yang mana perubahan dari Jepang ini menjadikannya salah satu negara yang berkekuatan besar dalam ekonomi terutama di kawasan Asia. Bangkitnya Jepang setelah PD II merupakan perkembangan ekonomi yang merupakan sebuah sejarah bagi Jepang. Dengan menekankan pada faktor pendorong seperti jalur pertumbuhan ekspor, adanya dukungan investasi domestik yang besar, akuisisi tekologi asing, hambatan proteksionisme, dan kebijakan industri yang dibentuk sebaik mungkin oleh Jepang yang membuat pertumbuhan ekonomi Jepang tumbuh dan meningkat. Namun, pada tahun 1970an sedang berlangsungnya konflik Timur Tengah yang menyebabkan krisis minyak dan membuat Jepang mengalami krisis ekonomi. 1978 Jepang kembali bangkit dari krisis ekonomi yang disebabkan konflik Timur Tengah. Tahun 1980an menjadikan Jepang sebagai negara yang dikenal kaya, yang mana kemajuan bangsa mengarah pada keutamaan ekonomi global. Dengan meningkatnya ekonomi di negara Jepang membuat negara ini mengalami kondisi yang disebut dengan bubble economy. Apa itu bubble economy? Bubble economy merupakan suatu hal yang mengacu pada kondisi di mana harga dari suatu produk atau aset dalam pasar tertentu mengalami kenaikan nilai atau harga di luar kebiasaan atau sangat tidak wajar.

Bubble economy di negara Jepang menandakan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada tahun 1973-1991 menunjukan pertumbuhan tinggi yang mana tingkat pertumbuhan riil memiliki rata-rata dari PDB atau kapita hampir 10 persen dan pada saat ini tingkat inflasi mendekati nol. Pada 1973-1991 menunjukan bahwa pertumbuhan di negara Jepang pada tahap sedang, PDB sekitar 4 persen. Pada tahun 1981 merupakan angka pertumbuhan PDB riil tertinggi sebesar 6,4 persen dan pada tahap kedua tahun 1985-1991 menjadikan bubble economy yang menunjukan pertumbuhan yang tinggi, tingkat harga aset yang tinggi, dan ekspansi kredit yang cepat. Sebagai perbandingan, data berikut menunjukan adanya penurunan dalam tingkat pertumbuhan PDB setelah 1991 dari 5,6 persen menjadi 2,4 persen pada tahun berikutnya dan 0,5 persen pada tahun berikutnya yang menyebabkan -0,7 persen pada tahun 1999 (Araki, 2017).

Dalam tingkat pertumbuhan riil yang dicapai Jepang sangat tinggi selama empat dekade telah meningkatkan harga aset, khususnya ekuitas dan harga properti komersial. Pada saat akhir 1980an, harga aset meningkat pada tingkat yang lebih tinggi ketika Bank of Japan, mengikuti kebijakan moneter ekspansif karena mencoba untuk mencegah apresiasi yen Jepang terhadap kuatnya dolar Amerika Serikat (“Bagaimana gelembung ekonomi Jepang bermula?”, 2020). Kebijakan moneter ekspansif merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Kebijakan moneter ekspansif dapat juga disebut dengan kebijakan moneter ekspansi atau kebijakan moneter longgar. Cara kerja dalam kebijakan ini melalui pengaruhnya terhadap permintaan agregat atau permintaan gabungan, yang mana penjumlahan dari konsumsi rumah tangga, investasi bisnis, impor, dan pengeluaran pemerintah. Keberhasilan komersial manufaktur Jepang membuat bank-bank Jepang kaya, namun tanpa tingkat keterampilan dan keahlian finansial yang sesuai. Selama bubble economy berlangsung di negara Jepang, bank-bank Jepang meminjam secara intensif dipasar Euro-Dollar, sebesar 186 triliun Yen pada Juni 1990. Meskipun Jepang merupakan bank-bank terbesar di dunia, Jepang harus membayar premi dalam pinjaman mereka yang disebut sebagai “Japanese rate” (Watkins, n.d.).

Runtuhnya pasar saham Tokyo akibat bank-bank Jepang membuka cabang Amerika Serikat yang memperoleh tingkat pengembalian yang rendah, sekitar 2 persen dari ekuitas. Mereka melakukan sebagian besar pinjaman mereka dipasar real estate Amerika Serikat dan mengakibatkan kerugian besar ketika nilai properti menurun dan pinjaman membuatnya buruk. Dengan runtuhnya pasar saham Tokyo meruntuhkan modal bank tingkat dua dan menempatkan mereka di bawah tekanan untuk menemukan modal. Mereka tidak dengan mudah untuk mendapatkan modal untuk dipinjamkan dan harus mendapat banyak saham mereka di luar negeri, dan seringkali dalam kerugian. Pada 1990an real estate dan pasar saham Jepang mengalami bubble economy dan juga mengalami penurunan. Perekonomian Jepang saat itu mulai melambat dan diperparah dengan krisis global yang berlangsung pada tahun 2008 yang dapat membahayakan perekonomian dunia. Pada saat yang bersamaan dengan memburuknya perekonomian Jepang, anggaran pemerintah Jepang defisit ditambah dengan terjadinya gempa bumi yang menimpa Jepang dan tingginya angka pensiun sehingga pemerintah mengeluarkan anggaran kembali untuk pembayaran dana para pensiun.

Dengan terpilihnya Shinzo Abe sebagai PM Jepang yang kemudian mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan Abenomics, kebijakan dibuat untuk kembali menghidupkan ekonomi Jepang yang lemah. Kebijakan Abenomics ini memiliki tujuan lain yaitu untuk menjaga keseimbangan ekonomi internasional seperti meningkatkan pertumbuhan GDP dan meningkatkan inflasi, meningkatkan permintaan domestik, meningkatkan prospek negara dengan meningkatkan daya saing, dan untuk memperluas kemitraan perdagangan serta mereformasi pasar tenaga kerja (Abas, 2018). Kebijakan ini dikeluarkan sebagai bentuk upaya Jepang untuk melepaskan diri dari krisis yang terjadi.

Referensi

Abas, A. 2018. Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang tahun 2012-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2) 443-458. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/02/ejurnal%20Adi%20Abas%20(02-12-18-05-30-19).pdf

Araki, H. 2017. The Causes of the Japanese Lost Decade: An Extension of Graduate Thesis. [Doctoral Thesis, Graduate School of Economics, Faculty of Economics]. https://www.soka.ac.jp/files/ja/20170526_002432.pdf

Bagaimana gelembung ekonomi Jepang bermula?. (2020, 3 Oktober). Cerdasco.com. https://cerdasco.com/bagaimana-gelembung-ekonomi-jepang-bermula/

Watkins, T. (n.d.). The Bubble Economy of Japan. Applet-magic.com. https://www.sjsu.edu/faculty/watkins/bubble.htm

Author: Tias Indarwati

48 thoughts on “Bagaimana Bubbble Economy yang Terjadi di Jepang?

  1. keren suatu pembahsan yang dapat memacu masyrakat untuk bangkit dari prekonimiannya, dan mudah mudahan kita bisa lebih berani untuk memajukan indonesia dalam hal ekonomi (aamiin)

  2. Pingback:cvv sites
  3. Pingback:hack instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *