ASEAN China Free Trade Area: Peluang atau Hambatan?

Krisis Asia tidak memperlambat sebagian besar negara yang terkena dampak di kawasan tersebut untuk tetap terbuka dan terintegrasi secara global. Negara-negara di kawasan tersebut menjadi lebih hati-hati disebabkan oleh integrasi ekonomi global tidak hanya membutuhkan perdagangan dan keuangan secara terbuka namun juga membutuhkan kebijakan dan lembaga yang cukup kuat dalam berbagai bidang. Keparahan Krisis Asia telah dilewati sebagian negara-negara anggota ASEAN dan mencoba untuk memulai kembali proses integrasi ekonomi ASEAN dalam konteks regional dan global. Baru-baru ini, Cina diterima oleh WTO sehingga perekonomian Cina sedang bertumbuh dan telah mengembangkan integrasi yang lebih dalam dengan kawasan Asia dan global (Zhao, 1997). Krisis Asia telah melemahkan perekonomian ASEAN sedangkan bagi Cina, perdagangan dan investasi menjadi suatu tantangan. Dengan adanya dominasi Cina, ASEAN memerlukan penilaian kembali mengenai posisinya dan kekuatannya seperti negara-negara lain.  

            Hubungan ekonomi antara ASEAN dan Cina sangat erat sehingga membutuhkan pandangan baru karena perubahan terkini yang terjadi dan faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan hubungan kedua negara yang sedang berlangsung. Apakah perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan Cina akan membantu untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara lebih dalam? Dengan tidak adanya perbatasan bagi Cina di Asia, bagaimana masa depan ASEAN? Tentunya kerja sama kedua negara dalam mendapatkan keuntungan dibutuhkan penyesuaian daya saing dalam ASEAN-China Free Trade Area. Tentunya, orang-orang bertanya mengapa Cina sangat membutuhkan hubungan ekonomi dengan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. ACFTA adalah salah satu FTA pertama yang diselesaikan setelah mendapatkan akses ke WTO bagi Tiongkok. Sedangkan bagi ASEAN, AFTA negara-negara ASEAN telah terbentuk sejak lama dan negara-negara anggota sepakat untuk membentuk FTA dengan pihak luar regional.  

Sebagian besar orang-orang pasti bertanya mengenai apa manfaat ekonomi dari kerja sama ekonomi antara ASEAN dengan Cina karena ASEAN-China Free Trade Area merupakan FTA yang baru dibentuk sebagai bagian dari integrasi ekonomi masa depan kemitraan ekonomi ASEAN dan Cina. Tentunya kedua belah pihak memiliki kepentingan strategis (Gomory & Baumol, 2000). Lalu bagaimana cara ASEAN dalam menghadapi dominasi Cina di kawasan ekonomi dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 miliar lalu PDB sekitar 2 triliun US Dollar dan total keseluruhan perdagangan yang diperkirakan sekitar 1,23 triliun US Dollar? Hal tersebut tentunya akan menjadi salah satu FTA terbesar dilihat dari populasi dan salah satu FTA terpenting karena terdiri dari hampir semua negara-negara berkembang dalam berbagai tingkat pembangunan.

 Apabila prinsip FTA diterapkan secara sepenuhnya, maka hambatan perdagangan dihapuskan dan terjadinya ekspansi perdagangan antara ASEAN dengan Cina melalui trade creation and trade diversion effect. Penurunan biaya, peningkatan perdagangan intra-regional dan peningkatan efisiensi ekonomi termasuk dalam bagian dari penghapusan hambatan perdagangan. Hal tersebut juga akan membantu untuk meningkatkan pendapatan riil bagi kedua wilayah sebagai sumber daya yang mengalir ke sektor-sektor sehingga dapat lebih efisien dan produktivitas dapat dimanfaatkan.

Namun terdapat kekhawatiran yang cukup potensial dari ASEAN-China Free Trade Area. Bahkan apabila FTA telah diterapkan secara sepenuhnya, adanya berbagai tingkat diskriminasi pada seluruh produk dan negara akan menetapkan perbedaan aturan antara produk lokal dengan produk internasional. Meskipun aturan telah ditetapkan oleh FTA, namun negara asal dapat menetapkan aturan sehingga akan menimbulkan biaya yang cukup signifikan dengan tujuan untuk pengawasan dan administratif. Hal tersebut menyebabkan komplikasi karena negara-negara di ASEAN dan kemungkinan keterlibatan Cina dalam FTA yang terpisah menjadi tumpang tindih. Itulah sebabnya beberapa ekonom lebih memilih serikat pabean daripada FTA yang merupakan bea cukai secara de facto dengan tarif umum eksternal (CET) yang setara dengan tarif terendah yang berlaku di salah satu negara anggota (Chirathivat, 2002). 

REFERENSI  

Gomory, R. E. & Baumol, W. J. (2000). Global trade and conflicting national interests. MIT Press.

Chirathivat, S. (2002). ASEAN-China Free Trade Area: background, implications and future development. Journal of Asian Economics 13(5), 671-675. https://doi.org/10.1016/S1049-0078(02)00177-X.

Zhao, H. (1997). Foreign trade in the People’s Republic of China: past performance and future challenges. Asian Development Bank Review, 15(1), 88-110. https://www.think-asia.org/bitstream/handle/11540/5377/Volume%2015_No%201_1997_04.pdf?sequence=1

Author:

65 thoughts on “ASEAN China Free Trade Area: Peluang atau Hambatan?

  1. Pingback:cvv dumps shop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *