Aliansi Militer Jepang – Amerika Serikat: Masihkah Berlanjut?

Masalah keamanan pada suatu negara merupakan hal yang vital bagi sistem dunia internasional. Sejak peristiwa Perang Dingin, kawasan Asia Timur tidak terlepas dari konflik keamanan yang dihadapi oleh negara-negara di kawasan tersebut. Hingga saat ini, Asia Timur menjadi kawasan regional yang memiliki kompleksitas dan kedinamisan keamanan yang sangat tinggi antar negaranya. Salah satunya ialah Jepang, negeri sakura tersebut berhasil memosisikan dirinya sebagai negara yang memiliki kekuatan dalam berbagai sektor termasuk pada sektor keamanan. Namun, kekuatan dalam sektor keamanan Jepang pun tidak luput atas berkat hubungan aliansi yang dilakukan oleh Jepang – Amerika Serikat. Hubungan aliansi antara Jepang dan Amerika Serikat terjadi sejak pasca Perang Dunia II. Hal itu yang menjadi kunci utama penyebab sektor militer Jepang dapat kuat hingga saat ini (Storch, 2016).  

Beragam treaty telah disepakati hingga akhirnya Japan-US Security Treaty 1960, Treaty Of Mutual Cooperation And Security Between Japan and The United States of America menjadi landasan dan pedoman bagi Jepang – Amerika Serikat dalam menjalin hubungan aliansi keamanan. Hubungan aliansi yang dilakukan oleh Jepang terhadap Amerika Serikat menjadikan Jepang selalu menjaga perdamaian sebagai bentuk kestabilan dengan Amerika Serikat. Dengan bantuan dari Amerika Serikat, Jepang menerapkan kebijakan militer dan pertahanannya sebagai kekuatan militer yang sifatnya tidak mengancam dunia, tidak meluaskan senjata nuklir, dan tentunya selalu mengkonsolidasikan kapabilitas pertahanan dalam batasan-batasan tertentu (Sarkeisan, 1989). Kehadiran negara adidaya sebagai mitra keamanan Jepang tentunya memperkuat sistem keamanan tersendiri bagi Jepang. 

Jepang dan Amerika Serikat saling menjaga sistem pertahanan mereka guna memelihara kepentingan masing-masing negara demi menjamin stabilitas keamanan kawasan. Sebelumnya, antara Jepang dan Amerika Serikat dalam kerja sama biliteral keamanan tersebut masih bersifat aliansi non mutual, yang artinya bahwa Jepang masih belum memiliki kapabilitas pertahanan yang memadai jika seandainya Amerika Serikat diserang. Namun pada pemerintahan Shinzo Abe, Jepang telah hadir untuk membantu pertahanan Amerika Serikat. Adanya kontribusi yang dilakukan oleh Jepang terhadap Amerika Serikat dalam mutual alliance, yakni ketika pasukan Jepang membantu Amerika Serikat dalam melakukan invasi dalam rekonstruksi di Iraq. Aliansi ini tanpa disadari membuat keduanya saling meningkatkan komunikasi dan penyelarasan dalam menerapkan Ballistic Missile Defense (BMD), cyber security, maupun penggunaan udara dalam sistem keamanan mereka.  

Hubungan aliansi yang dilakukan kedua negara tersebut telah mendapatkan beragam polemik dari masyarakat Jepang. Meskipun demikian, Jepang tetap ingin menjalankan hubungan aliansi dalam sektor keamanannya bersama Amerika Serikat. Karena bagi Jepang, aliansi sangat dibutuhkan demi mencapai national interest. Kerja sama keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat selalu mengusahakan untuk saling mengantisipasi adanya ancaman serangan militer dan gangguan keamanan Jepang (Tsuneo, 2000). Bagaimanapun Jepang akhirnya tidak bisa lepas dari campur tangan Amerika Serikat. Hal tersebut dikarenakan posisi Amerika Serikat yang menjadi kepentingan strategis bagi Jepang baik secara kawasan maupun global.  

Menurut Irsan (2005), dengan adanya hubungan aliansi tersebut sistem keamanan Jepang tentu akan menjadi suatu perhatian bagi Amerika Serikat untuk melindungi Jepang jika adanya kemungkinan terjadi serangan dari luar terutama bahaya akan senjata nuklir. Hal itu terbukti dengan kesiapan militer Amerika Serikat dengan menyiapkan sekitar 54.000 pasukan tentara AS yang tentunya memiliki penggunaan eksklusif (Congressional Research Service, 2019). Di sisi lain, kerja sama keamanan Jepang – Amerika Serikat mencakup pertahanan jalur laut dan berpotensi bagi kontribusi Jepang dalam melakukan operasi militer Amerika Serikat di luar Asia Timur. Amerika Serikat pun menganggap adanya Japan’s Maritime Self-Defense Force merupakan Angkatan Laut Jepang yang paling memiliki power daripada angkatan laut lainnya. Sehingga Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan antisubmarine warfare cooperation bersama Japan’s Maritime Self-Defense Force 

Aliansi yang dilakukan Jepang dan Amerika Serikat tidak luput dari kekhawatiran mereka terhadap senjata nuklir Korea Utara dan Tiongkok. Sehingga hal itu menjadi bentuk ancaman yang tentunya akan memberikan efek pada stabilitas keamanan wilayah Jepang serta kawasan Asia Timur. Bagi Korea Utara, senjata nuklir tidak dapat dipisahkan dari sistem keamanan di negerinya. Dengan kata lain, senjata nuklir merupakan manifesto teknologi yang modern untuk strategi militer (Bracken, 1995). Sedangkan bagi Tiongkok sendiri, negeri tirai bambu tersebut melakukan modernisasi kekuatan persenjataannya dan meningkatkan kapabilitas nuklir. Serta anggaran militer Tiongkok yang naik pun menunjukkan bahwa Tiongkok sejatinya melakukan peningkatan kapabilitas militer yang sama pentingnya dengan apa yang dilakukan oleh Jepang – Amerika Serikat. Oleh sebab itu, dalam meningkatkan kapasitas keamanan dan pertahanannya maka Jepang berbagi tanggung jawab dengan Amerika Serikat.  

Peningkatan kapasitas keamanan dan pertahanan itulah yang menguatkan adanya aliansi strategis Jepang dan Amerika Serikat. Kerja sama intelligent pun memberikan kemudahan bagi Amerika Serikat untuk membantu Jepang dalam pencegahan Tiongkok dan Korea Utara ketika kedua negara tersebut akan melakukan sebuah uji coba senjata nuklir. Maka dari itu, sangat memungkinkan bagi Jepang untuk menangkal dan melawan adanya ancaman yang terjadi. Di sisi lain, sulit bagi kedua negara antara Jepang dan Amerika Serikat untuk terlepas dari dinamika hubungan kerja sama keamanan yang sudah terjalan pasca Perang Dingin. Bahkan keduanya akan saling mempererat kerja sama yang sudah dilakukan sebelumnya. Jepang bersama Amerika Serikat akan melakukan koordinasi yang lebih mendalam terakit pembangunan kerangka aliansi yang lebih kuat. Hal tersebut juga didasarkan atas dasar dukungan Amerika Serikat karena memberikan kesempatan yang lebih besar lagi pada Jepang dalam memainkan perdamaian dan keamanan internasional tanpa adanya kecurigaan dari negara lain.  

Referensi 

Bracken, P. (1995). Fire in the East: The Rise of Asian Military Power and Second Nuclear Age. Harpers Collins Publishers.  

Congressional Research Service. (2019, 13 June). The U.S.-Japan Alliance [Press release]. https://fas.org/sgp/crs/row/RL33740.pdf.  

Irsan, A. (2005). Jepang: Politik Domestik, Global & Regional. Hasanuddin University Press. 

Sarkeisan, S, C. (1989). US National Security: Policy makers, Process and Politics. Lynne Rienner Publisher Inc. 

Storch, T. (2016). Putting “Meat on the Bones” of the U.S.-Japan Alliance Coordination Mechanism. Sasakawa USA.  

Tsuneo, A. (2000). U.S.-Japan Relations in the Post-Cold War Era: Ambiguous Adjustment to a Changing Strategic Environment. Palgrave Macmillan.  

Author: Leo Gusanda

63 thoughts on “Aliansi Militer Jepang – Amerika Serikat: Masihkah Berlanjut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *