Afghanistan Membutuhkan Perdamaian: Jepang Mampu Menciptakannya

Menurut Sukma (2003) tatanan dunia (world order) sering kali berubah ketika terjadi defining moment yang mendramatisir (dalam Winarno, 2014, hlm.168). Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan digantikan oleh Perang Dingin. Era Perang Dingin berakhir diiringi keruntuhan Tembok Berlin dan pecahnya Uni Soviet pada awal tahun 1990-an. Lalu, keruntuhan World Trade Center (WTC) tanggal 11 September 2001 memunculkan berbagai pandangan yang menganggap sebagai defining moment yang mengakhiri era Perang Dingin. Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mendeklarasikan “war on terrorism” yang membuat terorisme menjadi isu global dan dapat mengancam siapa saja dan dimana saja. Maka dapat dikatakan bahwa runtuhnya WTC dianggap sebagai defining moment untuk perang melawan terorisme dalam skala global (Winarno, 2014, hlm.169).  

Terorisme tidak terlepas dari unsur politik seperti halnya definisi terorisme menurut Viotti dan Kauppi “terrorism, as politically motivated violence, arms at achieving a demoralizing effect on publics and goverments” (Viotti & Kauppi, 2007, hlm.276). Tindakan terorisme tidak terlepas dari penggunaan kekerasan agar dapat menarik perhatian akan maksud atau alasan di balik tindakan mereka. Afghanistan telah menjadi negara untuk perkembang biakkan bagi para terorisme dan korban serangan teroris yang begitu kejam. Dalam hal ini, Jepang sebagai sekutu utama Amerika Serikat memiliki tanggung jawab dalam mendukung kontraterorisme dan memastikan stabilitas di negara Afghanistan.  

Jepang dan Afghanistan telah membangun hubungan diplomatik sejak tahun 1931, di mulai dengan 30 orang Jepang yang tinggal di Afghanistan. Pada tahun 1989, Uni Soviet melakukan invasi ke Afghanistan, pada saat itu juga Jepang memberikan dukungan untuk pengungsi Afghanistan dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengecam penggunaan kekerasan yang berlebihan selama invasi (Walia, 2020). Negara Jepang aktif dalam memberikan bantuan terhadap pengungsi Afghanistan di Iran dan Pakistan sejak tahun 2001, serta mendanai Non-Governmental Organization (NGO) internasional di Kabul dan bagian negara lainnya (Ashizawa dalam Walia, 2020). Junchiro Koizumi pada saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang meminta Jepang untuk mengirimkan Japan’s Self-Defence Forces (SDF) ke AS untuk operasi kontraterorisme (Zarate, 2016).  

The International Security Assistance Force atau Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) dibentuk pada tahun 2001. Pasukan tersebut diberi wewenang oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan telah melakukan beberapa operasi di Afghanistan untuk mendukung Afghan National Security Forces atau Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANSF). Jepang dalam perang melawan teror disebut dengan Operation Enduring Freedom (Operasi Menghentikan Kebebasan) (Ishizuka, 2012). Terkait kontraterorisme negara Jepang memberlakukan undang-undang anti terorisme khusus pada tahun 2001. Sejak saat itu, SDF menyalurkan bantuan untuk dukungan logistik dalam memerangi terorisme di Afghanistan.  

Dalam KTT G7 pada Mei 2016 Jepang mengindetifikasi kontraterorisme sebagai prioritas utama yang berlangsung di Jepang (Walia, 2020). Upaya kontraterorisme Jepang untuk meningkatkan peran globalnya dalam aliansi dengan AS menuju pengamanan perdamaian di negara-negara yang dilanda perang seperti Afghanistan dan Irak. Hal ini karena AS mengharapkan Jepang memainkan peran diplomatik yang kuat. Jepang telah menyatakan keprihatinan yang mendalam atas serangan teroris endemik di Kabul. Serangan ini terjadi pada Agustus 2018, ditandai dengan peristiwa bom bunuh diri di pusat pendidikan pada sisi barat Kabul 15 yang menyebabkan banyak korban tewas dan luka-luka. Dengan peristiwa tersebut Jepang menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah Afghanistan. Jepang juga akan terus mendukung negara yang dilanda perang tersebut. 

Afghanistan memiliki posisi geopolitik yang penting bagi Jepang dalam memenuhi kepentingan ekonominya. Jepang mendapatkan keuntungan dari cadangan minyak, gas, uranium, dan mineral lain yang tersedia di Afghanistan dan Republik Asia Tengan lainnya (Walia, 2020). Ketidakstabilan politik di Afghanistan bertentangan dengan perdamaian global dan menjadi penghalang perdagangan dengan negara-negara Asia Tengah. Maka dari itu, Jepang memiliki peran penting untuk mendukung upaya memastikan hubungan perdagangan yang stabil dengan Afghanistan dan Asia Tengah. Jepang pertama kali membantu Afghanistan pada tahun 1996 dan sejak tahun 2001 Jepang telah menyediakan dana sebesar 5.791 miliar US dolar untuk rekonstruksi Afghanistan.  

Dukungan Jepang terhadap Afghanistan menonjol dalam tiga bidang: bantuan proses perdamaian, kerja sama keamanan, dan rekonstruksi serta bantuan kemanusiaan. Sejak runtuhnya rezim Taliban, Afghanistan sudah berupaya membangun pemerintahan yang demokratis. Untuk membantu upaya ini, Jepang mengirimkan ahli hukum dan pengamat ke Kabul agar membantu Afghanistan dalam perumusan konstitusi baru dan memberikan dukungan finansial untuk pemilihan presiden dan parlemen (Tuke dalam Walia, 2020). Situasi keamanan yang tidak stabil di Afghanistan membuat Japan International Cooperation Agency (JICA) mengambil langkah-langkah keamanan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan 28 lapangan kerja dan menjamin kehidupan yang aman bagi rakyat. Pada tahun 2006, sebuah survei menyatakan bahwa sekitar 90 persen dari mantan kombatan Afghanistan telah mendapatkan pekerjaan setelah menyerahkan senjata dan sekitar 92 persen puas dengan dukungan yang diperpanjang untuk reintegrasi sosial mereka (Kementerian Luar Negeri Jepang, 2007 dalam Walia, 2020).  

Jepang memberikan bantuan pembangunan pertanian melalui JICA dengan memfasilitasi rehabilitasi irigasi skala kecil dan jalan pedesaan di pinggiran Kabul, rehabilitasi infrastruktur masyarakat di provinsi Nangarhar, dan membantu mengembangkan benih gandum yang ideal untuk lingkungan lokal serta untuk melatih orang menanamnya. Konstribusi terbesar Jepang lainnya adalah bantuan dalam pembangunan terminal bandara internasional Kabul (Walia, 2020). Sektor pendidikan juga menjadi prioritas utama bantuan pembangunan luar negeri Jepang dengan mendukung pembangunan dan pemulihan lebih dari 830 sekolah. JICA juga telah melakukan pelatihan kepada 10.000 guru dan membantu mengembangkan bahan ajar dan pusat pelatihan kejuruan. Partisipasi sekolah dasar di Kabul telah meningkat dari satu juta pada tahun 2001 menjadi sekitar 9,2 juta pada tahun 2013 (Kementerian Luar Negeri Jepang, 2015 dalam Walia, 2020). Pembangunan rumah sakit untuk penyakit menular di Kabul, rehabilitasi rumah sakit provinsi di Ghor, pembangunan dan pengembangan sekitar 97 klinik serta menyediakan dukungan peralatan untuk 100 klinik yang dibangun oleh AS. Pembangunan tersebut berhasil untuk peningkatan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak di Afghanistan.  

Konflik Afghanistan hingga saat ini masih berlangsung. Meskipun banyak kendala keamanan, Jepang terus memberikan bantuan untuk memenuhi kerja sama dengan pemerintah Afghanistan dan organisasi internasional. Pemerintah Jepang juga membenarkan bahwa pengiriman SDF sebagai konteks aliansi Jepang-AS. Hal ini menjadi prioritas bagi Jepang untuk memperkuat solidaritas dengan negara lain dalam berpartisipasi operasi kontraterorisme dan meningkatkan kehadirannya di Afghanistan. Bantuan yang diberikan Jepang ini menjadi langkah bagi Afghanistan untuk dapat merasakan kedamaian di dalam negaranya.  

Referensi 

Ishizuka, K. (2012). Japan’s Policy towards the War on Terror in Afghanistan (Working Paper Series Studies on Multicultural Societies No.3)Afrasian Research Centre. https://afrasia.ryukoku.ac.jp/english/publication/upfile/WP003.pdf. 

Viotti, P. R., & Kauppi, M. V. (2007). International Relations and World PoliticsSecurityEconomyIdentityThird Edition. Pearson Education.  

Walia, S. (2020). Securing Peace in Afghanistan: A Primer on Japan’s Role (ORF Issue Brief No. 347)Observer Research Foundation. https://www.orfonline.org/research/securing-peace-in-afghanistan-a-primer-on-japans-role-63634/. 

Winarno, B. (2014). Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. CAPS. 

Zarate, J. C. (2016). The Japan-US Counterterrorism Alliance In an Age of Global Terrorism. Centre for Strategic and International Studies. e-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/160407_Zarate_US-Japan_Counterterrorism_Cooperation.pdf. 

43 thoughts on “Afghanistan Membutuhkan Perdamaian: Jepang Mampu Menciptakannya

  1. Artikel yang sangat menarik dan sangat informatif dikemas dengan bahasa yang simple sehingga mudah dipahami. Ditunggu artikel selanjutnya, Jihan. Keep it Up yaa!👍

  2. Afghanistan bisa dikatakan sebagai negara yang penuh konflik sehingga kehadiran jepang diharapkan bisa memberikan pencerahan. Nice article

  3. Pingback:cc shop online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *