Apa itu ASEAN Economic Community?

Kerjasama ekonomi internasional merupakan hal yang penting bagi suatu negara karena tidak ada satu negara manapun yang dapat memenuhi kebutuhan negaranya tanpa bekerja sama dengan negara lain. Tujuannya agar dapat memenuhi kebutuhan negaranya sendiri. Ekonomi bukan hanya berpengaruh terhadap negara tersebut, namun juga pada masyarakat di seluruh dunia. Ekonomi juga merupakan kebutuhan setiap negara.

Sejak dibentuk pada tahun 1967, ASEAN tak hanya sekedar sebagai blok politik untuk menghadang penyebaran komunisme di Asia Tenggara, namun juga didesain sebagai kerjasama antar-negara dalam sebuah kawasan yang mengarah pada pembentukan blok ekonomi yang terintegrasi. Di tahun 1970-an, negara-negara ASEAN melakukan kerjasama ekonomi dan menjadikan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang harus dikembangkan. Kerjasama ekonomi ASEAN saat itu difokuskan pada program-program perdagangan, usaha bersama antar-negara maupun swasta dengan skema saling melengkapi antar pemerintah negara-negara anggota ataupun pihak swasta di kawasan ASEAN (Burmansyah, 2014).

Pasca Perang Dingin, ASEAN semakin agresif dalam membuat kesepakatan-kesepakatan ekonomi yang bertujuan untuk menciptakan integrasi ekonomi kawasan. Sampai pada tahun KTT ASEAN ke-9 tahun 2003 di Bali, disahkannya Bali Concord II (Declaration of ASEAN Concord II) yang menyetujui pembentukan Masyarakat ASEAN, yang disitu terdiri dari Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN, serta Initiative for ASEAN (Burmansyah, 2014).

Lalu pada Agustus 2006, pertemuan para menteri ekonomi ASEAN diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan tersebut, disepakati untuk mengembangkan ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint, sebagai panduan dalam pelaksanaan AEC, yang memuat jadwal strategis dan tenggat waktu pelaksanaannya. Melalui AEC Blueprint, diputuskan bahwasanya pelaksanaan AEC ini dipercepat yang sebelumnya tahun 2020, menjadi tahun 2015 (Burmansyah, 2014).

Kemudian pada KTT ke-13 ASEAN tahun 2007 di Singapura, AEC Blueprint ditandatangani bersamaan dengan pengesahan Piagam ASEAN. Dalam AEC Blueprint tersebut terdapat empat pilar utama, yaitu: (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2009)

  1. High Competitiveness. AEC di sini memberikan peluang pada negara-negara ASEAN untuk meningkatkan daya saing setiap negara yang terlibat sekaligus kawasan. Kerjasama ini diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk menaikkan competitive advantage.
  2. Single Market and Production Base. Di sini ASEAN membuka komunitas ekonomi pasar dengan tujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai satu entitas pasar. Setiap negara menjadi aktor yang dapat menawarkan berbagai barang dan jasa kepada seluruh masyarakat ASEAN.
  3. Equitable Growth. AEC adalah upaya bersama untuk mensejahterakan semua anggotanya, meski dalam berbisnis selalu ada persaingan.
  4. Economic Integration to the Global Economy. AEC sendiri bertujuan untuk mengintegrasikan ekonomi kawasan dengan ekonomi global dengan harapan mampu menawarkan diri dengan nilai yang lebih tinggi.

Keempat pilar AEC ini saling berhubungan satu sama lain. ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional harus memilki daya saing ekonomi yang tinggi, baik sebagai kawasan dalam rangka persaingan dengan kawasan/negara lain, maupun antar anggota. Oleh sebab itu, kesenjangan pembangunan ekonomi antar negara anggota harus diatasi, sehingga potensi dari antar-negara anggota menjadi setara. Kesenjangan pembangunan yang terjadi akibat globalisasi secara potensial dapat menciptakan kerenggangan dan memperlemah solidaritas ASEAN.

AEC ini merupakan capaian utama dari langkah-langkah integrasi ekonomi, seperti tertera dalam Visi ASEAN 2020. Tujuan pembentukan AEC ini adalah untuk menciptakan kawasan yang stabil, makmur, dan kompetitif yang dimana terdapat pasar tunggal dan basis produksi yang memberikan kebebasan aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang dan modal. Untuk memfasilitasi integrasi ke pasar tunggal dan basis produksi dengan lebih cepat, AEC memfokuskan wilayah khusus bagi sektor-sektor integrasi prioritas yang berjumlah sekitar 12 sektor, yaitu produk-produk berbasis pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil & pakaian, produk berbasis kayu, perjalanan udara, e-ASEAN, kesehatan, pariwisata, dan logistik (Chia, 2013).

Untuk memastikan realisasi AEC tepat waktu, ASEAN membentuk mekanisme monitoring yang disebut AEC Scorecard (Burmansyah, 2014). Dibentuknya AEC Scorecard ini bertujuan untuk pelaporan kemajuan pelaksanaan berbagai langkah yang ditempuh negara-negara anggota AEC, dan juga sebagai media untuk menganalisis berbagai implementasi dan tantangan dari masing-masing negara dalama AEC ini. AEC Blueprint meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (Burmansyah, 2014)

  1. Memberikan indikasi kualitatif dan kuantitatif dari ratifikasi, adopsi, dan transposisi menjadi hukum nasional, peraturan dan prosedur administratif kewajiban yang telah disepakati.
  2. Pelaksanaan perjanjian dan komitmen dalam Jadwal Strategis AEC.
  3. Berfungsi sebagai indikator statistik pada AEC.

Integrasi Indonesia dalam AEC ini diharapkan dapat memberikan keuntungan maksimal untuk mendorong liberalisasi arus barang, jasa, investasi, serta aliran modal. Pembentukan AEC ini akan memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas skala ekonomi. AEC juga dapat memberantas kemiskinan, mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, meningkatkan daya saing investasi di kawasan, mengurangi pengeluaran saat terjadinya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis, serta meningkatkan daya saing sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pembentukan AEC ini juga dapat memberikan kemudahan dalam peningkatan untuk mengakses pasar ASEAN, dan juga meningkatkan transparansi dan melakukan penyesuaian peraturan-peraturan sesuai dengan standar domestik. Namun, Indonesia perlu bekerja keras dan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dan berkompeten. Diharapkan Indonesia dapat menarik manfaat dan juga keuntungan dari integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan terintegrasi dalam ekonomi global.

Referensi

Burmansyah, E. (2014). Rezim Baru ASEAN: Memahami Rantai Pasokan dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pustaka Sempu.

Chia, S. Y. (2013). The ASEAN Economic Community: Progress, Challenges, and Prospects (ADBI Working Paper, No. 440). Asian Development Bank Institute. http://hdl.handle.net/10419/101189

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. (2009). Menuju ASEAN Economic Community 2015. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file%3Ffile%3Ddigital/143093-%255B_Konten_%255D-Konten%2520D64.pdf&ved=2ahUKEwiYjtbw_vTtAhXc7nMBHRu5DyoQFjADegQICxAB&usg=AOvVaw1LeyhTQwzlc_oV0zFbhdjj

Author: Furqaan Hanif

33 thoughts on “Apa itu ASEAN Economic Community?

  1. Pingback:click here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *