Sekilas Mengenai China dan ASEAN di Laut China Selatan

Klaim China di Laut China Selatan diawali tahun 1947, China masih dikuasai oleh Partai Kuomintang yang dipimpin oleh Chiang Kai Sek dan mengklaim teritorialnya di Laut China Selatan. Saat itu pemerintahan Kuomintang mendeklarasikan garis dalam peta LCS yang disebut “eleven-dash line” dengan klaim ini China menguasai hampir seluruh wilayah Laut China Selatan termasuk Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel yang China dapatkan dari Jepang sesudah Perang Dunia II. Perang saudara antara kaum komunis dan kaum nasionalis pada tahun 1949 dimenangkan oleh kaum komunis dan kemudian kaum nasionalis pergi melarikan diri ke Taiwan dan partai komunis China mengizinkan rezim Vietnam Utara untuk membangun stasiun radar dan titik transit barang di salah satu rantai pulau di LCS dan tahun 1957, mereka menandatangani perjanjian rahasia yang menyerahkan Pulau Bailongwei di kepulauan China kepada pemerintah Hanoi sehingga garis yang disebut eleven-dash line menjadi nine-dashed line (Pu, 2015).

Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas ketika pertama kalinya China menerbitkan peta wilayahnya yang mencakup empat gugus kepulauan di LCS yang ditandai dengan nine-dashed line atau sembilan garis putus-putus pada tahun 2009. Tran Truong Thuy mengatakan bahwa peta ini diperlihatkan kepada publik internasional dengan melampirkannya dalam Nota Verbal kepada United Nations Commission on The Limits of The Continental Shelf sebagai aksi protes terhadap kerja sama antara Malaysia dan Vietnam yang dalam prosesnya dilakukan di batas terluar landas kontinen kedua negara di Laut China Selatan (Farhana, 2014, hlm. 168). Dalam masalah klaim nya, China mengajukan tuntutan yang didasari oleh fakta sejarah, penemuan situs, dokumen kuno, peta dan penggunaan gugus-gugus pulau oleh nelayannya. Dalam sejarah China, sejak 2000 tahun lalu banyak nelayannya yang telah melintasi perairan tersebut untuk mencari ikan. China juga menegaskan bahwa negaranya adalah negara yang pertama menemukan dan menduduki kepulauan Spratly dengan adanya dukungan bukti-bukti arkeologis. Kemudian klaim yang dilakukan China berlanjut dengan menunjukkan powernya melalui aksi provokatif terhadap negara-negara pengklaim lainnya. China kemudian mulai secara intensif menunjukkan simbol-simbol dan tak jarang pula secara agresif melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal asing yang melintasi perairan Laut China Selatan guna mempertahankan sumber-sumber potensial barunya yang dapat mendukung kepentingan nasionalnya.

China dan negara lain yang bersengketa dalam Laut China Selatan ini tentu memiliki kepentingan yang jelas dan mungkin minat yang sama di LCS. Seperti kita ketahui, China saat ini sedang bangkit dan pasti akan memperluas kekuatan serta pengaruhnya. Kekuatan China ini akan memunculkan pertanyaan di antara negara-negara tetangga. Negara lain akan merasa khawatir akan kekuatan yang dimiliki oleh China. Sengketa di LCS ini telah menyebabkan ketegangan dalam hubungan China dan negara yang berada di sekitar wilayah LCS, khususnya negara anggota ASEAN.

Pasca Perang Dingin yang baru, China memiliki kebijakan “Good Neigbourhood” atau yang berarti bertetangga yang baik (Weissmann, 2014). Hal ini memiliki tujuan untuk menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai suatu model bagi kebangkitan China secara damai (Weissmann, 2014). China dan ASEAN berusaha untuk menjaga hubungan dan mengubah cara bersikap satu dengan yang lain. Hubungan yang dimiliki China dan ASEAN telah berkembang maju menuju arah yang lebih baik termasuk mengenai hubungan terkait LCS. China dan ASEAN mulai melihat bahwa kerja sama regional merupakan hal yang penting. Seperti yang dipimpin oleh ASEAN sendiri, yaitu ASEAN+1 (China), ASEAN+3 (China, Korea, Jepang), ASEAN+6 (Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru). Proses kerja sama ini membantu meningkatkan hubungan harmonis antar negara secara regional maupun multilateral. Hubungan ASEAN dan China telah diperdalam dan ditingkatkan. China dan ASEAN juga menandatangani Declaration on Conduct (DOC) di LCS, China dan ASEAN berkomitmen untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di LCS dengan cara damai (Yunling & Yuzhu, n.d). Bagi ASEAN sendiri, pembahasan mengenai LCS sangatlah penting, mengingat keamanan di LCS sendiri merupakan indikator stabilitas keamanan kawasan. Saat ini telah terdapat landasan dengan tujuan mempromosikan perdamaian di LCS yaitu persetujuan Treaty of Amity and Cooperation (TAC), namun persetujuan ini ditandatangani oleh Tiongkok, AS, Jepang, Korea Selatan dan Rusia (Pudjiastuti & Prayoga, 2015).

Dalam penyelesaian sengketa di LCS, ASEAN dan China melakukan diplomasi dan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Declaration On The Conduct of Parties In The South China Sea (DOC). ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara yang tertua pastinya memiliki kesempatan dalam menawarkan dan mengembangkan strategi penyelesaian konflik ini secara damai. DOC merupakan suatu pedoman berperilaku bagi negara anggota ASEAN dan bagi China sendiri di wilayah Laut China Selatan. Namun DOC ini dianggap kurang berhasil sehingga Code of Conduct (COC) merupakan langkah berikutnya dalam menahan dominasi China atas klaimnya di Laut China Selatan. Namun butuh waktu yang lama bagi China untuk menyetujui COC dalam mengatasi masalah sengketa di Laut China Selatan. Peralihan DOC ke COC juga merupakan bagian untuk upaya transformasi konflik di Laut China Selatan. Diharapkan agar pihak yang bersangkutan baik negara anggota ASEAN yang terlibat dalam LCS dan China mematuhi kesepakatan dan saling menghargai atas segala upaya yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik ini melalui jalur damai.

Membutuhkan waktu delapan belas tahun untuk ASEAN dan China berdiskusi mengenai hal ini. Konsultasi antara ASEAN dan China mengenai COC ini dilaksanakan pertama di Suzhou, China pada pertengahan september (Thayer, 2013, hlm. 82). Upaya diplomasi untuk memfasilitasi kemajuan diskusi mengenai COC ini lebih diprioritaskan, Laut China Selatan akan terus menjadi agenda yang utama dalam pertemuan ASEAN dan China. Dalam hal ini ASEAN menunjukkan kekuatannya sebagai organisasi regional yang dapat mempertahankan sentralitasnya dan menjaga keamanan kawasan (Thayer, 2013, hlm. 83).

Referensi

Farhana, F. (2014). Memahami Perspektif Tiongkok Dalam Upaya Penyelesaian Sengketa Laut Cina Selatan. Jurnal Penelitian Politik, 11(1), 167-180. http://ejournal.politik.lipi.go.id/index.php/jpp/article/viewFile/196/80

Pudjiastuti, T. N., & Prayoga, P. (2015). Asean dan Isu Laut Cina Selatan: Transformasi Konflik Menuju Tata Kelola Keamanan Regional Asia Timur. Jurnal Penelitian Politik, 12(1), 99-115. https://ejournal.politik.lipi.go.id/index.php/jpp/article/viewFile/532/340

Thayer, C. (2013). ASEAN, China and the Code of Conduct in the South China Sea. SAIS Review of International Affairs, 33(2), 75-84. https://doi.org/10.1353/sais.2013.0022

Weissmann, M. (2014). Diplomasi ‘Soft Power’ Cina dan Kebijakan ‘Constructive Engagement’ ASEAN: Hubungan Sino-ASEAN dan Laut Cina Selatan (M., Andreas, Penrj.). Kyoto Review of Southeast Asia. (Karya asli terbit tahun 2010). https://kyotoreview.org/issue-15/diplomasi-soft-power-cina-dan-kebijakan-constructive-engagement-asean-hubungan-sino-asean-dan-laut-cina-selatan/

Pu, W. (2015, 16 Juli). How The Eleven-Dash Line Became a Nine-Dash Line, And Other Stories. RFA. https://www.rfa.org/english/commentaries/line-07162015121333.html

Yunling, Z., & Yuzhu, W. (n.d). ASEAN in China’s Grand Strategy. Chinese Academy of Social Sciences. https://www.eria.org/ASEAN_at_50_4A.9_Zhang_and_Wang_final.pdf

Author: Rosa Lestari

keep moving.

53 thoughts on “Sekilas Mengenai China dan ASEAN di Laut China Selatan

  1. Buat anak lintas jurusan mungkin rada mumet ya memahaminya. Tapi jujur ini nambah wawasan banget!! Lumayan nambah pengetahuan. Makasih yaaa ka ocaaa

  2. Kayanya konflik ini gak akan pernah ada abisnya dah, dan selalu berujung status quo. Tp semoga bisa solve segera. Thanks Oca, artikelnya menarik ^^

  3. Topik yang informatif untuk di bahas. Semoga penulis melanjutkan pembahasannya di artikel-artikel berikutnya karena begitu banyak hal yang bisa dibahas didalam ASEAN dan seluruh negara-negara di ASIA serta dampak bagi negara di benua lain serta Dunia. Sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *