Model Pembangunan Jepang

Development state Jepang merupakan implikasi dari langkah-langkah yang dilakukan dalam hal mereformasi ekonomi dan politik pemerintah yang digunakan dalam menanggulangi krisis ekonomi. Development state mengalami pergeseran dari arah pembangunan ekonomi negara ke arah model pembangunan ekonomi yang mirip dengan model Amerika Serikat dan negara industri maju lainnya. Model development state ini menggambarkan besarnya peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi negara tersebut. Pergeseran ini disebabkan oleh tekanan internal agar Jepang melakukan reformasi ekonomi politik. Krisis ekonomi Jepang selanjutnya merupakan upaya untuk menanggulangi krisis tersebut. Jepang merupakan negara yang dianggap sebagai negara yang dapat diandalkan. Jepang memiliki sektor industri yang kuat dan tenaga kerja yang trampil, dan masyarakat yang ingin bangkit.

Pertumbuhan negara Jepang menjadi suatu hal yang fenomenal dan patut untuk dikagumi dan bahkan ditakuti. Jepang mengalami kemakmuran yang besar. Seiring dengan pertumbuhannya Jepang dan negara Asia lainnya yang menikmati kemakmuran regional disebut oleh Bank Dunia sebagai “Keajaiban Asia Timur” (Ozawa, 2001, hlm. 472). Keberhasilan dalam model pembangunan ini sering disebut sebagai model pembangunan ekonomi, dengan penyebutan secara populer yang digambarkan sebagai suatu formasi angsa terbang “flying-geese” (FG). Model flying-geese ini berperan penting dalam peningkatan industri Jepang. Model FG ini merupakan model pembangunan ekonomi yang awalnya diperkenalkan oleh Kaname Akamatsu sekitar tahun 1930-an. Akamatsu merupakan salah satu yang menyadari bahwa ekonomi yang cenderung stabil merupakan tahap bagi pertumbuhan negara-negara (Ozawa, 2001, hlm. 472). Akamatsu menerbitkannya dalam bahasa Jepang di sebuah artikel dan menyajikan pada akademisi dunia setelah Perang Dunia II pada tahun 1962 dan artikel dalam bahasa Inggris pada tahun 1962 (GRIPS Development Forum, n.d.).

Flying-geese atau angsa terbang ini merupakan pembangunan ekonomi yang dipicu oleh penyebaran modal, teknologi dan kapabilitas manajemen dari Jepang sebagai negara maju di kawasan Asia Timur ke negara lain yang berada dalam kawasan yang sama (Voinea, 2019, hlm. 49). Disaat negara sudah berkembang dapat melakukan ekspor dan industri, negara yang sama akan melakukan ekspor produk yang canggih ke negara Jepang dan negara lain. Pola angasa terbang ini didasarkan dengan hubungan kerja sama dan integrasi regional di Asia dengan manfaat bagi jepang maupun negara lain.

Model FG ini diberlakukan untuk mengintegrasi negara di Asia Timur dalam suatu wadah integrasi regional, yang dalam hal ini Jepang menjadi pemimpin di integrasi regional ini. GRIPS Development Forum menjelaskan bahwa model FG ini merupakan proses mengejar ketertinggalan industrialisasi dari negara-negara yang terlambat dari tigas aspek yaitu aspek intra industri, antar industri dan aspek internasional yang dimana dalam aspek ini proses relokasi industri selanjutnya dari negara maju ke negara berkembang selama proses mengejar ketertinggalan. Dalam pengelompokan, analisa konsep “angsa-terbang” ini serupa dengan teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Wallerstain yang membagi tiga negara kedalam kategori negara sentral dan pusat, semi-periperal dan negara pinggiran. Persamaan antara kedua ini terdapat dalam istilah pembagian kerja yang disebabkan dalam industrialisasi yang berbeda. Jepang sangat tertarik dengan kemajuan teknologi yang bisa dilakukan untuk kontribusi dalam pembangunan infrastruktur. Dalam mendorong modernisasi, maka pemerintah Jepang mengembangkan lembaga-lembaga keuangan, mendorong tumbuhnya perusahaan saham, dan memikul beban utama dari proyek-proyek yang memerlukan penanaman modal besar. Identitas model pembangunan ekonomi Jepang lebih berorientasi pada kekuatan pasar.

Referensi

Ozawa, T. (2001). The “hidden” side of the “flying-geese” catch-up model: Japan’s dirigiste institutional setup and a deepening financial morass. Journal of Asian Economics, 12(4), 471-491. https://doi.org/10.1016/S1049-0078(01)00098-7

Voinea, I. (2019). The role of Japan in the development of emerging markets in Asia. Key lessons learned for China. Associatia Generala a Economistilor din Romania – AGER, 2(619), 47-62. https://ideas.repec.org/a/agr/journl/vxxviy2019i2(619)p47-62.html

GRIPS Development Forum. (n.d.). Flying Geese Model. https://www.grips.ac.jp/forum/module/prsp/FGeese.htm

Author: Rosa Lestari

keep moving.

51 thoughts on “Model Pembangunan Jepang

  1. Ooooohhh ternyata itu ya salah satu yang bikin Jepang jadi andalan dan bisa jadi contoh yang baik buat negara lain. Nice topic ka ocaaa!! Mantapp

  2. Artikel yang menarik untuk mengenal perkembangan dan pertumbuhan Jepang, akan lebih menarik bila mana ada beberapa contoh negara yang membentuk kerja sama dengan Jepang dan dalam hal. secara keselurahan mudah dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *