Fenomena Pink Tide

Amerika Latin membuat kejutan pada akhir abad ke-21 lalu. Tidak ada yang menyangka bahwa Amerika Latin di penghujung abad melahirkan suatu gerakan serentak pada beberapa negara kawasan. Gerakan tersebut adalah Pink Tide. Pink Tide sendiri merupakan sebuah fenomena gerakan perlawanan yang dilakukan oleh para pemimpin politik sayap kiri di Amerika Latin terhadap eksistensi neo-liberalisme. Munculnya gelombang ini sangat menarik perhatian karena ketika rezim sayap kiri mengambil kendali atas aparatur negara dan melibatkan diri dalam akumulasi kapital di luar cara-cara yang biasa dilakukan oleh pelaku ekonomi neo-liberal (Wylde, 2012).

Di Amerika Latin, kebijakan neo-liberal mulai masuk pasca krisis hutang awal tahun 1980-an. Krisis ekonomi tersebut membuat negara-negara Amerika Latin berpaling kepada lembaga donor internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank atas saran penasehat ekonomi dan politik masing-masing negara (Abidin, 2013). Kehadiran IMF dan World Bank dengan kebijakannya yang “satu untuk semua” dan juga program Structural Adjustment Program (SAP), menjadikan negara-negara Amerika Latin yang pada sebelumnya tertutup, jadi membuka diri terhadap reformasi neo-liberal dan pasar global. Kebijakan Open Economy ini mengakhiri jalan panjang State-led Industrialization, Inward-looking Policy dan Import Substitution Industry yang selama 20 tahun lebih digunakan negara-negara Amerika Latin sebagai kebijakan pembangunannya (Abidin, 2013).

Dominasi kelompok neo-liberal di negara-negara Amerika Latin pada tahun-tahun awal 1990-an memang susah untuk dibendung pada saat itu. Dukungan secara penuh dari institusi-institusi internasional seperti World Bank dan IMF merupakan faktor utama mengapa pada masa itu neo-liberal dapat mendominasi wilayah Amerika Latin. Terlebih lagi ketika itu bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet, yang membuat mereka harus mencari alternatif baru dalam menjalankan perekonomian. Sebagai sebuah struktur internasional, hubungan antar-negara di Amerika Latin saling mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, besarnya perubahan kebijakan ditentukan oleh struktur dengan menjadikan ekonomi neo-liberal sebagai dasar dalam mengeluarkan kebijakan, maka dampak yang ditimbulkan pada struktur juga dapat menjadi besar.

Peralihan konstruksi negara-negara Amerika Latin ke model neo-liberalisme ini dianggap tidak menyelesaikan masalah yang terdapat pada negara-negara Amerika Latin. Bukannya menyelesaikan, justru negara-negara Amerika Latin jadi terjebak dalam masalah baru. Sebut saja pengangguran dan kemiskinan yang meningkat dibandingkan pada tahun 1980-an. Kemudian kesenjangan sosial yang begitu lebar, contohnya di Argentina yang dimana pada tahun 1975 rasio pendapatan tertinggi dan terendah adalah 8:1 dan pada tahun 1997 menjadi 25:1 (Abidin, 2013). Kemudian di Bolivia yang dimana negara tersebut mengalami inflasi sebesar 4,4% per tahun dan anggaran yang mengalami defisit 5,9% dari GDP pada tahun 2004 (Marten, 2016). Penurunan ekonomi juga dialami oleh Ekuador dari tahun 1997 hingga 1998 yang mengakibatkan krisis finansial tahun 1999 (Marten, 2016).

Munculnya Pink Tide sendiri ditandai dengan sebagian besar pemilu yang dilakukan secara demokratis oleh negara-negara Amerika Latin dimenangi oleh pemimpin-pemimpin sayap kiri. Sebut saja Lula da Silva di Brazil pada tahun 2002 dan 2006, Evo Morales di Bolivia pada tahun 2005, Daniel Ortega di Nikaragua pada tahun 2006, Rafael Correa di Ekuador pada tahun 2006, Hugo Chavez di Venezuela pada tahun 2006, dan Nestor Kirchner di Argentina pada tahun 2003 (Marten, 2016). Selain itu, model-model kebijakan yang diterapkan oleh para pemimpin-pemimpin tersebut juga mencerminkan tradisi sosialis.

Kebangkitan pemimpin-pemimpin sayap kiri di Amerika Latin ini tidak sama dengan gelombang kiri revolusioner seperti di Uni Soviet, Tiongkok, dan Vietnam. Perbedaannya dapat terlihat dari beberapa aspek, seperti kebangkitan mereka yang dilalui dengan jalur pemilu yang demokratis, pemimpin-pemimpin yang mempunyai ciri khas dan gayanya masing-masing, pemimpin-pemimpin yang tidak isolasionis dalam membangun perekonomiannya, dan kerja keras mereka dalam melakukan perlawanan terhadap hegemoni neo-liberal.

Dari tradisi sosialisme yang khas di Amerika Latin, prakteknya dapat terlihat melalui model kebijakan ekonomi-politik yang lebih menitikberatkan pada program-program jaminan sosial, subsidi, pendidikan murah, dan berbagai macam kebijakan populis lainnya. Dengan kadar yang berbeda-beda, dan cara yang tidak sama pula, perilaku para pemimpin kiri di Amerika Latin dapat dibedakan. Mulai dari yang lunak sampai yang paling keras, seperti yang dianut oleh pemerintahan di beberapa negara Amerika Latin saat ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok sayap kanan sedang menebar ancaman untuk menghentikan dominasi kelompok sayap kiri yang memang selama dua dekade terakhir mendominasi konstelasi politik di Amerika Latin akibat adanya fenomena Pink Tide. Hal tersebut terlihat dari berhasilnya Jair Bolsonaro, seorang pemimpin kelompok sayap kanan yang berhasil menjadi Presiden Brazil, sebuah negara terbesar dan paling penting di Amerika Latin. Apabila Juan Guaido, seorang politisi Venezuela dapat menyingkirkan presiden sayap kiri Nicholas Maduro, Venezuela akan menyusul Brazil yang tidak lagi dipimpin oleh kelompok sayap kiri (Farrow, 2019). Hal tersebut tentu dapat membuat kembalinya periode neo-liberalisme yang dimana banyak terjadi ketimpangan ketimpangan sosial akibat didukungnya para diktator oleh Amerika Serikat.

Referensi

Abidin, E. E. (2013). Pembangunan, Neoliberalisme, dan Kesenjangan: Belajar Dari Pengalaman Amerika Latin. Jurnal Interdependence Hubungan Internasional, 1(1), 37-45. http://e-journals.unmul.ac.id/index.php/JHII/article/view/1724

Farrow, A. (2019, 5 Februari). Latin America and the Rise of the Right. Socialist Worker. https://socialistworker.co.uk/art/47843/Latin+America+and+the+rise+of+the+right

Marten, M. (2016). Pink Tide: Gelombang Kemenangan Presiden Kiri pada Pemilihan Umum di Amerika Latin. Forum, 41(1), 13-22.
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/forum/article/view/11824

Wylde, C. (2012). Latin America After Neoliberalism: Developmental Regimes in Post-Crisis States. Palgrave Macmillan.

Author: Furqaan Hanif

32 thoughts on “Fenomena Pink Tide

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *