Dampak Asean-China Free Trade Area (ACFTA) Terhadap Sektor Industri Indonesia

ASEAN-China Free Trade Area merupakan sebuah kesepakatan perjanjian perdagangan bebas yang disepakati oleh negara-negara anggota ASEAN bersama China. Pembentukan perjanjian ini bertujuan untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas yang dilakukan dengan cara menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan tarif maupun non-tarif dalam kegiatan perdagangan bebas antara ASEAN dengan China. Selain itu, ACFTA ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara negara-negara ASEAN dengen China dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China. ASEAN memilih China sebagai partner dalam perdagangan bebas adalah karena China merupakan negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar sehingga diharapan perolehan keuntungan ekonomi yang akan membawa kemajuan pada ekonomi kawasan. Kesepakatan perjanjian perdangangan bebas ini kemudian ditandatangani pada tanggal 6 November 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam.

Pemberlakuan ACFTA tentu memberikan sejumlah dampak bagi Indonesia di berbagai bidang atau sektor. Pada sektor pertanian, ACFTA memberikan dampak negatif. Pemberlakukan ACFTA membuat laju impor pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan laju ekspor. Hal ini kemudian menyebabkan pertumbuhan dan surplus perdagangan sektor pertanian mengalami penurunan. Indonesia juga menghadapi tantangan serta tekanan persaingan yang datang dari sesama negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang juga bergerak pada sektor pertanian. Kapasitas produksi dari produsen lokal belum mampu melakukan produksi sesuai dengan permintaan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya inovasi dan ketersediaan teknologi sehingga produksi pada sektor pertanian menjadi tidak efisien dan hanya bergerak dalam skala kecil. Kondisi infrastruktur dan sistem logistik Indonesia belum memadai sehingga berdampak pada lemahnya sistem distribusi.

ACFTA juga memberikan dampak pada sektor industri. Indonesia menghadapi tantangan dari masuknya barang-barang impor China ke ASEAN. Dari hasil model GTAP, diperoleh penurunan ekspor Indonesia sebesar 4,4% sedangkan ekspor China ke ASEAN mengalami peningkatan sebesar 50,5% (Ibrahim dkk., 2010). Hal ini kemudian dapat memberikan dampak negatif bagi Indonesia. Dampak negatif dari pemberlakuan ACFTA terhadap industri Indonesia adalah defisitnya neraca ekspor impor Indonesia-China dan menurunnya jumlah industri dalam negeri atau bisa disebut dengan deindustrialisasi (Tyas, 2014). Resiko mengenai deindustrialisasi ini semakin nyata dengan sebuah fakta bahwa tingkat pertumbuhan industri di Indonesia mengalami penuruan. Sebelum era reformasi, industri pengolahan bisa tumbuh sebesar 14% dengan keadaan ekonomi yang tumbuh sebesar 7%, sedangkan sekarang dengan keadaan ekonomi yang tumbuh sekitar 6%, industri pengolahan hanya bisa tumbuh kurang dari 2% (Kementerian Perindustrian RI, 2012). Penurunan pertumbuhan industri ini disebabkan oleh kurangnya pasokan bahan baku karena maraknya ekspor bahan mentah yang dilakukan pemerintah yang membuat industri lokal tidak bisa memproduksi sesuai dengan permintaan pasar. Hal ini kemudian mempengaruhi daya saing industri lokal dengan industri asing yang masuk ke dalam negeri sebagai dampak dari perdagangan bebas ACTA. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Indonesia belum benar-benar siap menghadapi perdangangan bebas ACFTA.

Agar ACFTA dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian dan sektor pertanian Indonesia, pemerintah sebaiknya memberikan porsi yang besar pada belanja modal untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi, khususnya untuk pengembangan inovasi, riset, aplikasi dan penguatan teknologi (Nasrudin dkk., 2015). Dengan demikian produksi pada sektor pertanian dan industri Indonesia dapat dimaksimalkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar baik pasar domestik maupun pasar internasional. Pemerintah juga diharapkan untuk menekan laju ekspor bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Jika produksi dalam sektor pertanian dan sektor industri bisa maksimal, maka pemerintah juga dapat secara maksimal melakukan ekspor hasil produksi lokal ke pasar internasional.

Referensi

Ibrahim, I., Permata, M. I., & Ari Wibowo, W. (2010). Dampak Pelaksanaan Acfta Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan, 13(1), 23 -. https://doi.org/10.21098/bemp.v13i1.254

Kementerian Perindustrian RI. (2012). Lalai Dampak Buruk ACFTA, Indonesia Kebanjiran Produk China. https://www.kemenperin.go.id/artikel/3817/Lalai-Dampak-Buruk-ACFTA,-Indonesia-Kebanjiran-Produk-China

Nasrudin, N., Sinaga, B. M., & Walujadi, D. (2015). Dampak Asean-China Free Trade Agreement (Acfta) Terhadap Kinerja Perekonomian Dan Sektor Pertanian Indonesia. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 9(1), 1-23. https://doi.org/10.30908/bilp.v9i1.13

Tyas, T.A. (2014). Dampak Negatif Pemberlakuan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) terhadap Industri Indonesia. [Skripsi, Universitas Jember]. UT-Faculty of Social and Political Sciences. http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/23420

Author: Theresia Dewi Ekaristi

International Relation Student

22 thoughts on “Dampak Asean-China Free Trade Area (ACFTA) Terhadap Sektor Industri Indonesia

  1. Pingback:benelli shotguns

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *