Peran Rusia di Timur Tengah Pasca Perang Dingin

Rusia merupakan sebuah negara besar yang telah mengalami perubahan tenntang sistem ketatanearaan yang unik. Rusia merupakan kekaisaran yang dipimpin seorang Tsar yaitu sebelum tahun 1917, tetapi pada akhirnya Rusia mengalami perubahan dalam revolusi dan kemudian dipimpin Lenin menjadi sebuah Konfederasi Uni Soviet Sosialis Rusia yang telah berhaluan menjadi Komunisme. Pada akhirnya Uni Soviet mengalami kemunduran dan juga keruntuhan, terkhusus pada saat pergulingan kekuasaan Mikhail Gorbachev oleh Gennady Yanayev. Pada masa Presiden Boris Yeltsin pun, Uni Soviet mengalami perbubaran dan telah berubah menjadi Federasi Rusia (Yunus, 2017).

Adapun kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang menjadi salah satu paling rawan terjadinya konflik di dunia, karena kawasannya berada dalam keadaan tidak kondusif karena terjadi pergesekan lanskap geopolitik wilayah. Kawasan Timur Tengah khususnya Teluk Persia memiliki nilai strategis yang sangat penting karena kawasan tersebut memiliki sumber daya alam yang melimpah. Telah diperkirakan bahwa terdapat total cadangan minyak mentah sebanyak 52,5% dari banyaknya total cadangan minyak dunia, dan juga 44,6% dari banyaknya total cadangan gas alam dunia. Dataran Timur Tengah yang dibatasi oleh lima kawasan laut merupakan geografis unik lainnya yang telah dimiliki oleh karakteristik daerah tersebut. Lima kawasan laut tersebut meliputi, Laut Mediterania di arah Timur, Laut Kaspia di arah Timur  Laut, Laut Hitam di Utara, Laut Merah / Teluk Aden dan Teluk Arab / Persia – semuanya memiliki peran penting dalam kekuatan ektra-regional serta kawasan regional yang telah dimiki secara historis dan berusaha untuk mencapai kendali atas kawasan mereka.

Kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki interaksi dan juga problematika yang sangat kompleks yaitu yang meliputi isu laten Israel – Palestina hingga isu kontemporer sejak Arab Spring: perpecahan Qatar – Saudi, krisis Yaman, aliansi anti-Iran dan revatilasi Iran (Arab Saudi – Israel – AS) hingga konflik Suriah. Arab Spring yang telah melanda Timur Tengah merupakan babak lanjut dari meletusnya konflik di Suriah. Sementara itu, gerakan Arab Spring di Suriah tujuan awalnya yaitu untuk menuntut dan memprotes perubahan terhadap sistem politik perintahanan al-Assad (Mudore & Safitri, 2019).

Kembalinya Rusia dalam perpolitikan Timur Tengah teraktualisasi lewat strategi geopolitik yang menjadi kejutan bagi masyarakat internasional khusunya Amerika Serikat. Bagi Amerika Serikat langkah Rusia ini telah menjadi tantangan baru bagi hegemon di Timur Tengah. Rusia telah berupaya menciptakan momentum baru dalam proyeksi kekuatannya di Timur Tengah lewat safari politik dan juga bergabungb dalam OIC (Organization of Islamic Cooperation States) sejak tahun 2005. Tetapi sayangnya langkah tersebut belum atau tidak mampu mencapai momentum yang dicari. Ketika Arab Spring pada tahun 2011 momentum tersebut baru dapat diperoleh walaupun telah menimbulkan kekacauan di kawasan akibat eskalasi konflik bersenjata dan juga runtuhnya institusi negara kemudia telah diikuti oleh berkembangnya kelompok-kelompok pseudo-states (ISIS, dan lain-lain). Dalam pandangan Rusia situasi ini menciptakan ketidakpastian keamanan yang merupakan potensi berbahaya, terutama potensi untuk mencapai agendanya dalam meradikalisasi Timur Tengah bagi pihak yang tidak diinginkan (kelompok radikal ekstrem) (Fajar & Nashir, 2019).

Di era pasca Perang Dingin ini kepentingan Rusia di Timur Tengah dapat dilihat melalui gerakan melawan saparatis di Kaukasus Utara. Separatis dan ekstrimis di Rusia telah ditandai dengan tuduhan Moskow terhadap entitas Teluk. Kemudian di masa lalu organisasi yang berbasis di Teluk juga dituduh oleh Moskow karena telah memperkenalkan redikalisme yang ditandai dengan kelompok-kelompok ekstrimis di Kaukakus Utara.

Dalam konflik di Suriah Rusia telah berpartisipasi sebagai bagian dari kelompok pejuang asing dan juga pasukan pemberontak terbesar kedua di Suriah setelah Libya. Hubungan ekonomi menjadikan energi sebagai komponen yang paling penting dalam hubungan Rusia dengan negara-negara Teluk tersebut. Rusia juga terus menerus melibatkan Qatar, Libya, Iran dan Aljazair sebagai produsen gas utama di kawasan itu serta untuk bekerja sama dalam mengoordinasikan kebijakan terkait gas. Tujuan Rusia sendiri yaitu untuk menahan upaya Eropa terhadap diversifikasi sumber.

Untuk mencapai tujuannya Rusia telah mengadopsi tiga cabang strategi. Pertama yaitu, memastikan bahwa jaringan pipa alternatif yang menghindari Rusia dan juga rute pipa yang telah dikendalikan Rusia – South Stream dan Nord Stream – dibangun tidak bisa dikembangkan. Kedua, terlibatnya negara-negara Asia Tengah yang telah memproduksi gas dan untuk memastikan bahwa mereka menjul gas melalui jaringan pipa yang dikendalikan oleh Rusia, negara Asia Tengah tersebut yaitu seperti Kazakhstan, Uzbekistan dan juga Turkmenistan. Ketiga, mengajak kolaborasi dan berkoordinasi negara-negara penghasil gas lainnya ( Timur Tengah) dengan Rusia dalam menentukan pangsa pasar di pasar Eropa (Zulfqar, 2018).

Referensi

Fajar, C., & Nashir, A., K. (2019). Intervensi Militer Rusia dalam Tatanan Keamanan Kawasan    Timur Tengah. Jurnal ICMES, 3(1), 75-100. https://doi.org/10.35748/jurnalicmes.v3i1.41

Mudore, S., B., & Safitri, N. (2019). Dinamika Perang Suriah: Aktor dan Kepentingan. Jurnal      Kajian Politik Islam, 2(2), 68-92.

Yunus, N., R. (2017). Reformasi Radikal Konstitusi Negara Rusia. Jurnal Adalah Buletin Hukum & Keadilan, 1(5a), 41-42. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/adalah/article/download/9004/4710

Zulfqar, S. (2018). Competing Interests of Major Powers in the Middle East: The Case Study of  Syria and Its Implications for Regional Stability. Jurnal Pertceptions Spring, XXIII(1),    121-147.

32 thoughts on “Peran Rusia di Timur Tengah Pasca Perang Dingin

  1. maaf, nextnya jangan banyak kesalahan redaksional ya. Baca 2-3 kali dan lakukan pembetulan redaksional sebelum di-upload… sukses yak

  2. Pingback:fresh dumps pw
  3. Pingback:Scott Schulte
  4. Pingback:check this out

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *