Kohesivitas ASEAN Dalam Penanganan Isu Terorisme Kelompok Abu Sayyaf

Awal mulanya kelompok Abu Sayyaf dibentuk oleh anak dari seorang tokoh ulama di Basilon, Filipina yang bernama Abdurajak Abubakar Janjalani. Nama Abu Sayyaf ini mulai dikenal di kawasan ASEAN pada pertengahan tahun 1990. Abdurajak Abubakar Janjalani ini di ketahui bahwa ia pernah bertemu dengan tokoh al-Qaida yaitu Osman Bin Laden di Pakistan dan hal ini yang membuat Abdurajak Abubakar Janjalani mendapatkan ajaran radikal dari kawasan Timur Tengah. Salah satu motivasi berdirinya Kelompok Abu Sayyaf yakni untuk mencari keadilan bagi semua umat islam. Khususnya, umat islam yang berada di Filipina Selatan. Abdurajak Abubakar Janjalani ini juga menyebarkan ideologi radikal yang di mana ia berpendapat bahwa jihad itu di salah artikan oleh banyak umat muslim. Kelompok Abu Sayyaf ini memiliki markas di Filipina Selatan yakni seperti di Pulau Mindanao, Kepulauan Sulu, Pulau Basilan, dan Pulau Tawi-Tawi. Karena markas Kelompok Abu Sayyaf ini dekat dengan wilayah perbatasan, akhirnya kelompok ini sering melakukan aksinya di wilayah Malaysia dan mendekati wilayah perairan Indonesia. Sehingga, Malaysia dan Indonesia ini terkena dampak dari aksi kelompok Abu Sayyaf karena sebagian warga negaranya sering menjadi korban penculikan dan kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Abu Sayyaf. Selain itu, Kelompok Abu Sayyaf kerap melakukan tindakan aksi terorisme seperti melakukan penyerangan, pemenggalan, pengeboman dan aksi – aksi lainnya tidak hanya di negara Filipina, tetapi juga Kelompok Abu Sayyaf ini melakukan aksinya sampai melintasi batas wilayah negara lain. Oleh karena itu, tindakan terorisme yang telah dilakukan oleh Kelompok Abu Sayyaf ini menimbulkan kekhawatiran di antara negara anggota ASEAN. Tetapi, ASEAN masih belum memiliki peran yang signifikan dalam menghadapi upaya kontra – terorisme untuk menangani kasus terorisme yang dilakukan oleh Kelompok Abu Sayyaf. Walaupun ASEAN ini telah menguatkan integrasi yang mendalam melalui ASEAN Community, akan tetapi tanggapan ASEAN dalam penanganan terorisme Kelompok Abu Sayyaf di Filipina ini masih sebatas pada level nasional dan sub – regional.
Karena kurangnya implementasi dalam penanganan terorisme pada level regional yang mengikat negara di ASEAN ini, membuat negara anggota ASEAN lebih memilih menggunakan pola jalur bilateral atau trilateral. Pola ini didasari tingkat kepentingan kerja sama masing-masing negara anggota ASEAN (Yuniarti, 2010). Contohnya yakni, dalam merespons Kelompok Abu Sayyaf ini Indonesia, Malaysia dan Filipina terdapat kerja sama trilateral terkait tentang persetujuan anti terorisme dan kesepakatan pertukaran informasi dan pembentukan prosedur komunikasi (Soesilowati, 2011). Negara anggota ASEAN juga lebih menggunakan strategi individu dan memilih bekerja sama dalam upaya penanganan terorisme dengan pihak negara di luar ASEAN. Seperti negara Filipina mengatasi kasus terorisme Kelompok Abu Sayyaf setelah peristiwa 9/11 ini, Filipina lebih memilih bekerjasama kontra terorisme dengan AS dibandingkan dengan negara anggota ASEAN dalam meningkatkan kapabilitas militernya untuk melawan Abu Sayyaf.
Negara anggota ASEAN dalam menanggapi isu terorisme ini masih belum memiliki keyakinan yang kuat secara kolektif. Walaupun ASEAN memiliki kerangka kerja sama dalam penanganan terorisme, negara anggota ASEAN ini lebih memilih mengatasi terorisme dengan caranya masing-masing. Negara anggota ASEAN ini masih belum memiliki kapasitas dalam merespons kasus kontra terorisme secara kolektif, dikarenakan adanya perbedaan persepsi mengenai ancaman, kondisi domestik suatu negara dan kemauan dari negara anggota (Emmers, 2007). Negara anggota ASEAN juga belum mempunyai pandangan yang sama mengenai isu terorisme. Hal ini dikarenakan, pandangan dari setiap negara anggota ASEAN mengenai terorisme masih berdasarkan pada kepentingan nasional nya masing-masing. Perbedaan pandangan ini bisa dilihat dari negara anggota yang mengalami dampak dari aksi Kelompok Abu Sayyaf dan negara yang tidak terkena dampak dari kelompok Abu Sayyaf. Negara anggota ASEAN yang tidak terkena dampak terorisme ini cenderung tidak ingin melakukan kerja sama secara intensive dalam isu terorisme. Hal ini lah yang menyebabkan ASEAN belum bisa memerintahkan semua negara anggotanya untuk melakukan upaya kontra terhadap isu terorisme secara kolektif. Karena perbedaan respons di antara negara anggota ASEAN ini dapat diketahui bahwa belum adanya kohesivitas antar negara anggota ASEAN dalam kerja sama regional. Sebuah regionalisme yang ideal itu seharusnya dapat diikuti dengan adanya kohesivitas antar negara anggota dalam menangani suatu permasalahan yang berada di kawasan. Akan tetapi, dalam sebagian anggota negara ASEAN ini masih belum membantu untuk melakukan penanganan upaya kontra terorisme ini secara kolektif di kawasan Asia Tenggara. Sehingga, ASEAN sebagai organisasi regional dalam merespons isu terorisme masih belum mencapai regionalisme yang kohesif.
Dalam menanggapi isu terorisme Kelompok Abu Sayyaf, ASEAN membentuk pilar khusus dalam ASEAN Community yakni ASEAN Political Security Community (APSC). Pembentukan ASEAN Security Community ini mendorong kerja sama yang semakin kuat dan dapat menjadi sebuah ancaman prinsip non – intervensi dalam ASEAN Way, adanya konsep ASEAN Security Community masih berdasarkan adanya ketaatan terhadap norma ASEAN Way (Banlaoi, 2009). Tidak hanya itu, ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACTT) ini menjadi instrumen dalam implementasi penanganan upaya kontra terorisme dan didalam APSC juga berisikan prinsip-prinsip ASEAN Way. Walaupun ASEAN menguatkan regionalisme nya melalui ASEAN Community, ASEAN sebagai organisasi regional relatif sedikit berperan dalam menanggapi penanganan isu terorisme pada level regional. Kerja sama kontra terorisme ini masih kurang adanya kesepakatan yang kuat dari negara anggota ASEAN.

Referensi


Banlaoi, R. (2009). Philippine Security in the Age of Terror: National, Regional, and Global Challenges in the post 9/11 world. Taylor & Francis Group.


Emmers, R. (2007). Comprehensive Security and Resilience in Southeast Asia: ASEAN’s Approach to Terrorism and Sea Piracy. Journal of The Pacific Review. 22(2). 159-177. https://doi.org/10.1080/09512740902815300


Soesilowati, S. (2011). Asean’s Response to Challenge of Terrorism. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik (Society, Culture and Politics). 24(3). 228-241. http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/06%20sartika%20jurnal%20MKP%20terorismenew%20_tyas_%20_editan%20niken_.pdf


Yuniarti, A. (2010). Implementasi Mekanisme Regional ASEAN dalam Penanggulangan Masalah Terorisme di Asia Tenggara. Jurnal Diplomasi dan Keamanan. 2(1). 1-23. http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/7386

Author: Tatiek Dwi Pangesti

Hubungan Internasional di Asia Tenggara dan Asia Timur (A)

39 thoughts on “Kohesivitas ASEAN Dalam Penanganan Isu Terorisme Kelompok Abu Sayyaf

  1. Pingback:free fb login
  2. Pingback:find more info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *