Kerjasama Ekonomi Korea Selatan – Jepang Menguat, Masa Lalu Kelam Mulai Terlupakan

Kedekatan geografis Jepang dan Korea Selatan membuat kedua negara ini memiliki berbagai persamaan nilai dan budaya, akan tetapi ketegangan diantara hubungan bilateral kedua negara sering kali terjadi, dimana sejarah adalah faktor utama pemicu ketegangan tersebut. Pada tahun 1910, semenanjung Korea merupakan bagian resmi dari Koloni Jepang. Pada masa kolonialisasi Jepang di Korea, militer Jepang berlaku sangat kejam kepada seluruh rakyat Korea, seperti melarang penggunaan bahasa Korea, memaksa warga Korea untuk menerima sistem penamaan Jepang, serta pemaksaan yang dilakukan terhadap wanita- wanita Korea untuk dijadikan sebagai “comfort women” atau budak seks tentara Jepang (Lankov, 2015).

Perbuatan Jepang di masa lalu tersebut ternyata meninggalkan luka serta trauma yang membekas bagi rakyat Korea Selatan, dan menyebabkan sentimen atau persepsi negatif di kalangan masyarakat Korea Selatan dalam memandang Jepang hingga saat ini bahkan di kalangan muda yang sebenarnya tidak terlibat era kolonialisme Jepang. Bahkan, sentimen anti Jepang ini juga ditemukan di kalangan muda masyarakat Korea Selatan, yang notabene tidak terlibat dalam era penjajahan Jepang pada masa itu. Pada survey yang dilakukan oleh Koran Donga pada tahun 2005, persentase sentimentasi masyarakat Korea Selatan terhadap Jepang mencapai angka dengan lebih dari 50% responden menyatakan tidak menyukai Jepang (Shin & Sneider, 2007).

Sejak tahun 2000, banyak perusahaan Korea telah mencapai daya saing global dan meningkatkan kehadiran global mereka. Artinya, perusahaan Korea setara dengan perusahaan Jepang dalam hal tingkat daya saing global, tetapi pada saat yang sama memperkuat landasan bagi perusahaan Korea dan Jepang untuk bekerja sama dan saling melengkapi. Secara khusus, kerjasama ekonomi antara perusahaan Korea dan Jepang di negara ketiga telah sering diamati setelah krisis keuangan global tahun 2008 dan Gempa bumi besar Jepang Timur pada tahun 2011. Hal ini berarti bahwa hubungan ekonomi Korea dengan Jepang telah berubah dari ketergantungan sepihak menjadi bentuk yang saling bergantung.

Kasus kerjasama pertama antara perusahaan Korea dan Jepang di negara ketiga terjadi dalam bisnis pembangunan pabrik Pembangkit listrik Tihama di Arab Saudi pada bulan Desember 2003. Dalam hal ini, Industri Hyundai Korea mendapatkan bagian dari kontrak Perusahaan Mitsui Jepang. Ada 50 kasus kerjasama di bidang energi dan pengembangan sumber daya, dan bidang kerjasama tersebut meliputi sektor-sektor berikut: rencana pembangkit listrik siklus gabungan; pembangkit listrik tenaga panas batubara; pembangkit tenaga angin; pembangkit tenaga panas bumi; Pembangunan terminal gas alam cair; eksploitasi shale gas; pabrik pembuatan pupuk; pertambangan; dan desalinasi air laut. Di sektor manufaktur, terdapat empat kasus kerjasama di bidang baja, karet sintetis (Mukoyama, 2012).

Faktanya, sektor pengembangan energi dan sumber daya di negara-negara ketiga merupakan bidang yang paling umum di mana kerjasama antara perusahaan Korea dan Jepang terjadi. Sejak tahun 2000 ekonomi global didominasi oleh pasar negara berkembang dan permintaan energi serta pembangunan pabrik dan infrastruktur meningkat. Harga minyak internasional meroket pada tahun 2009 menciptakan kondisi yang menawarkan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi perusahaan Korea dan Jepang untuk bekerja sama di negara ketiga. Kerja sama ini dimungkinkan karena kekuatan yang saling melengkapi masing-masing. Misalnya, kemampuan pengumpulan informasi dan pembiayaan perusahaan perdagangan Jepang dan bank komersial Jepang serta kemampuan pembiayaan proyek Badan Kredit Ekspor disatukan dengan keterampilan konstruksi dan manufaktur Korea. Sejak 2006, kinerja konstruksi Korea telah melampaui Jepang dalam pasar pabrik dan sektor teknik di luar negeri. Karena status perusahaan Korea di pasar global telah ditingkatkan, bank komersial Jepang, Agen Kredit Ekspor, dan perusahaan perdagangan mulai mengenali kemampuan perusahaan Korea (Mukoyama, 2012).

Faktanya, karena harga minyak internasional telah anjlok dan pertumbuhan ekonomi pasar negara berkembang telah melambat sejak 2015, ada kekhawatiran besar tentang fakta bahwa perusahaan Korea dan Jepang menunjukkan tanda-tanda goyah dalam bisnis bersama mereka di negara ketiga. Meski demikian, kedua negara terus melanjutkan kerja sama di bidang energi dan pengembangan sumber daya. Selain itu, pemasok suku cadang mobil Korea berupaya memperluas kerja sama dengan pemasok Jepang dan mengekspor produk mereka ke perusahaan mobil di negara ketiga. Ini dapat dilihat sebagai contoh yang melampaui kerangka kerja yang ada yang terutama dipimpin oleh perusahaan perdagangan Jepang.

Melihat contoh-contoh positif tersebut, kerjasama ekonomi antara Korea dan Jepang diharapkan dapat semakin berkembang di masa mendatang. Kerjasama Korea Selatan dan Jepang menunjukan adanya hubungan yang mulai membaik. Korea Selatan mulai memikirkan kepentingan nasionalnya saat ini dibandingkan sentimen warisan sejarah lalu. Meningkatnya kerjasama ini membantu memperbaiki stigma Korea Selatan terhadap Jepang karena keuntungan yang dihasilkan bagi kedua negara.

Referensi

Lankov, A. (2015, 10 Maret). “South Korea’s Nationalist Passion. Aljazeera News. http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2015/03/south-korea-nationalist- passions-150308050755645.html.

Mukoyama, H. (2012). Japan-South Korea economic relations grow stronger in a globalized environment. Pacific business and industries, 12(43), 13-14. https://core.ac.uk/download/pdf/51178906.pdf

Shin, G. W., & Sneider, D. C. (Eds.). (2007). Cross Currents: regionalism and nationalism in Northeast Asia. Asia Pacific Research Institute.

Author: Jane Alice Kencana

Future International Relations Specialist who still learn !

32 thoughts on “Kerjasama Ekonomi Korea Selatan – Jepang Menguat, Masa Lalu Kelam Mulai Terlupakan

  1. sejarah korea selatan dan jepang memang sangat menyulitkan masyarakat korea selatan, tetapi dengan adanya kerjasama yang dilakukan kedua negara, semoga masyarakat dapat melupakan stigma negatif terhadap jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *