Kerja Sama Join Credit Mechanism (JCM) Dalam Mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon Antara Jepang dan Indonesia

Saat ini, masalah lingkungan menjadi krusial dalam politik global. Nilai-nilai lingkungan digunakan sebagai standar moral melalui sertifikasi ramah lingkungan. Selain itu, isu lingkungan kini lebih populer terkait dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) yang diusung oleh PBB. SDGs merupakan perpanjangan dari agenda Millennium Development Goals (MDGs) yang mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan, yang kontras dengan peningkatan degradasi lingkungan akibat penerapan kapitalisme (van Asselt, dkk, 2009), salah satu isu mengenai lingkungan adalah perubahan iklim. Tata kelola global di bidang perubahan iklim ditandai dengan semakin beragamnya pengaturan yang bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut. Sejumlah besar pengaturan tata kelola baru terkait isu perubahan lingkungan telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, yang melibatkan tidak hanya negara bangsa tetapi juga aktor non-negara termasuk swasta, masyarakat sipil dan otoritas pemerintah lokal dan regional.

Berdasarkan pengalaman mekanisme berbasis pasar di bawah Protokol Kyoto, banyak negara sepakat bahwa mekanisme baru, terutama mekanisme berbasis pasar, harus menjadi bagian dari pembangunan perubahan iklim internasional di masa depan. Mekanisme berbasis pasar berpotensi untuk memobilisasi sumber daya, terutama dari sektor swasta, untuk tindakan mitigasi yang hemat biaya dan ambisius. Jepang merupakan negara industri yang dikenal memiliki masalah lingkungan tertinggi selama tahun 1950 hingga 1960-an, yang berakibat pada timbulnya permasalahan lingkungan dan masalah kesehatan, yang membuat Jepang secara tidak langsung harus berperan dalam mengatasi permasalahan ini salah satunya dengan berpartisipasi dalam protokol Kyoto. Namun pada tahun 2013 Jepang menyatakan untuk tidak berpartisipasi dalam komitmen kedua protokol kedua Kyoto dikarenakan terdapat banyak masalah dalam mekanisme Kyoto yaitu CDM (Clean Development Mechanism). Jepang lebih memilih untuk menciptakan inisiatif baru dengan membentuk Bilateral Offset Mechanism (BOM) yaitu JCM (Chotimah & Winanti, 2018)

Mekanisme Pemberian Kredit Bersama (JCM) adalah mekanisme bilateral pemberian kredit penggantian kerugian (offset crediting mechanism) yang diprakarsai oleh Pemerintah Jepang. JCM bertujuan untuk memfasilitasi penyebaran teknologi, produk, sistem, layanan, dan infrastruktur rendah karbon terkemuka yang menghasilkan mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang. JCM mencakup aspek transfer teknologi, melalui langkah-langkah mitigasi yang terukur dan terverifikasi, untuk berkontribusi terhadap pencapaian tujuan utama UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) melalui fasilitas langkah-langkah global dalam pengurangan emisi GRK, Mekanisme. Untuk mencapai target penurunan emisi di negaranya, Jepang melakukan investasi dalam kegiatan pengurangan emisi di negara berkembang melalui mekanisme baru ini.

Joint Crediting Mechanism yang merupakan usulan Pemerintah Jepang berusaha untuk mendorong organisasi swasta Jepang berinvestasi pada kegiatan Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia dengan memberikan insentif. Kegiatan JCM mencakup banyak cakupan sektoral, termasuk efisiensi energi, energi terbarukan, deforestasi dan degradasi hutan, pengelolaan limbah, emisi buron, dan industri manufaktur. Dengan adanya kerja sama ini Indonesia berharap JCM dapat menjadi alternatif yang menarik untuk mendukung kegiatan pengurangan emisi GRK yang dilakukan oleh sektor swasta dan publik Indonesia serta mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan. Kerja sama JCM ini telah dirundingkan sejak tahun 2010. Sampai akhir tahun 2017 telah dilakukan sebanyak 115 studi kelayakan atas kerja sama kemitraan yang dilakukan antara Perusahaan Jepang dengan perusahaan swasta Indonesia serta pemerintah pusat dan daerah. Studi kelayakan yang telah dilakukan melalui mekanisme bilateral ini meliputi bidang energi terbarukan, efisiensi energi, kehutanan, transportasi, penangkapan dan penyimpanan karbon, dan pertanian (Join Crediting Mechanism Indonesia Secretariat, n.d.).

Pembentukan kemitraan pertumbuhan rendah karbon antara Jepang dan Indonesia tidak terlepas dari pengaruh politik domestik Jepang dalam pelaksanaan green capitalism baik dari peran yang dimainkan oleh domestic political groups maupun domestic societal interest groups Jepang, terlepas dari kenyataan bahwa Jepang sudah tidak lagi berkomitmen pada protokol Kyoto. Jepang sendiri merupakan negara industri besar yang memproduksi banyak kendaraan dan sebagian besar emisi dihasilkan dari kendaraan-kendaraan ini. Isu lingkungan ini dianggap Jepang sebagai suatu cara untuk memperoleh kerja sama demi kepentingan negaranya. Mekanisme JCM menunjukkan bahwa afiliasi bisnis Jepang membutuhkan dukungan finansial dari pemerintah Jepang serta pemerintah (negara) lainnya agar industri dapat saling bekerja sama satu sama lain.

Jepang menganggap Indonesia sebagai potensi, mengingat masih minimnya penggunaan teknologi rendah karbon secara domestik. Tidak dapat dipungkiri bahwa kerja sama ini mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, Pemerintah Jepang diuntungkan karena sebagian dari hasil penurunan emisi GRK di proyek-proyek investasi di Indonesia akan dapat diklaim sebagai penurunan emisi negaranya, bagi Jepang pula adanya mekanisme ini secara khusus mampu menjadi media promosi dan pasar bagi teknologi rendah karbon yang dimilikinya. Indonesia juga mendapatkan manfaat yang besar, baik manfaat ekonomi maupun lingkungan, dari kerjasama JCM tersebut, kegiatan tersebut akan mampu mendorong partisipasi swasta dalam menciptakan efisiensi energi serta mendukung pembangunan rendah karbon sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Indonesia.

Adanya upaya pemerintah menurunkan emisi karbon melalui JCM telah berhasil meningkatkan investasi di Indonesia. Sejak tahun 2013 melalui kerja sama perdagangan Karbon dengan mekanisme JCM telah membuahkan investasi bagi Indonesia sebanyak US$ 150 juta atau setara dengan hampir Rp 2 Triliun. (Nasution, 2016). Indonesia juga telah berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 29 persen melalui usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional, seperti yang disampaikan dalam Nationally Determined Contribution (NDC) (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, 2019). Pemerintah Indonesia secara konsisten terus mengembangkan pembangunan rendah karbon di Indonesia, salah satunya dengan mendorong sektor swasta sebagai pemain utama mengurangi emisi melalui mekanisme JCM ini.

Pemerintah Jepang secara proaktif memajukan proyek JCM dengan negara-negara berkembang dengan tujuan mempromosikan penyebaran teknologi dan produk rendah karbon Jepang yang luar biasa ke negara-negara berkembang untuk memajukan penanggulangan tingkat global melawan pemanasan global. Melalui mekanisme kerja sama jepang menawarkan kerangka kerja di mana upaya Jepang untuk target pengurangan dievaluasi secara tepat sebagai kontribusi Jepang terhadap pengurangan dan penghilangan emisi gas rumah kaca di negara-negara mitra dengan mentransfer teknologi dan produk rendah karbon Jepang yang luar biasa ke negara-negara tersebut. Melalui JCM kegiatan investasi Jepang di Indonesia dapat meningkat baik dari segi volume maupun kualitas, termasuk penggunaan teknologi ramah lingkungan dan hemat energi. JCM dianggap sebagai wujud nyata dari komitmen kedua negara dalam menangani isu perubahan iklim, khususnya melalui proyek rendah emisi karbon terlepas dari pro dan kontra adanya mekanisme ini.

Referensi

Chotimah, H. C., & Winanti, P. S. (2018, May 23). The Politics of Green Capitalism: Formulating the Low Carbon Growth Partnership between Japan and Indonesia. [Paper Presentation]. The 1st International Conference on South East Asia Studies, Yogyakarta, Indonesia. https://doi.org/10.18502/kss.v3i5.2339

Join Crediting Mechanism Indonesia Secretariat. (n.d.). Overview of JCM Indonesia. http://jcm.ekon.go.id/en/index.php/content/MTE%253D/overview_of_jcm_in_indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. (2019). Program JCM, Upaya Indonesia Kurangi Emisi Karbon Sekaligus Tingkatkan Kapasitas dan Teknologi. https://old.ekon.go.id/berita/view/program-jcm-upaya-indonesia.5025.html.

Nasution, A. D. (2016, 29 Agustus). Kerjasama Emisi Karbon dengan Jepang Buahkan Investasi Rp 2 Triliun. Katadata.co.id. https://katadata.co.id/yurasyahrul/berita/5e9a56c383f5e/kerjasama-emisi-karbon-dengan-jepang-buahkan-investasi-rp-2-triliun.

Van Asselt, H., Kanie, N., & Iguchi, M. (2009). Japan’s position in international Climate Policy: Navigating Between Kyoto and the APP. International Environmental Agreements: Politics, Law and Economics, 9(3), 319–336. https://doi.org/10.1007/s10784-009-9098-6.

23 thoughts on “Kerja Sama Join Credit Mechanism (JCM) Dalam Mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon Antara Jepang dan Indonesia

  1. Artikel yang sangat informative mampu menambah wawasan baru terkait Kerjasama Indonesia dan Jepang. Good job. Keep it up Widha

  2. such a good article! semoga saja kerja sama Jepang ini memberikan dampak jangka panjang untuk lingkungan kita. Good job author!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *