Keluarnya Qatar dari OPEC

Organization Petroleum Exporter Countries (OPEC) merupakan organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi. Organisasi ini secara resmi terbentuk pada 14 September 1960. Setahun kemudian, Qatar ikut bergabung setelah produksi minyak di Negerinya meningkat. Namun pada tanggal 3 Desember 2018, melalui Menteri Energi Negara Teluk yaitu Saad Sherida Al-Kabbi, mengumumkan bahwa Qatar keluar dari keanggotaan OPEC pada 1 Januari 2019. Lalu mengapa Qatar keluar dari keanggotaan OPEC?

Qatar adalah negara Teluk pertama yang meninggalkan blok negara-negara penghasil minyak. Keluarnya Qatar dari OPEC menjadi perdebatan tentang retaknya hubungan dengan Arab Saudi. Selain itu, hal ini juga dapat hubungan antara keduanya semakin rumit. Atmosfer di kawasan Teluk setelah blockade politik yang dipimpin Arab Saudi terhadap Qatar sejak pertengahan tahun 2017 menjadi salah satu langkah Qatar untuk keluar dari keanggotaan OPEC. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain secara mendadak melakukan blockade perdagangan dan perjalanan terhadap Qatar, negara-negara tersebut menuduh Qatar memicu terorisme dengan mendukung kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir dan menjaga hubungan dengan Iran (“Qatar Keluar dari OPEC, Pakar Ingatkan ‘Keretakan’ di Teluk”, 2019).

Hal ini memang benar, Qatar memang melakukan hal tersebut. Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan Qatar keluar dari keanggotaan OPEC. Pertama, Pemerintah Qatar sudah tidak percaya lagi dengan OPEC dimana organisasi tersebut sudah menjadi alat bagi negara tertentu untuk menjalankan kepentingan nasionalnya. Salah satunya adalah setiap kebijakan yang mengatasnamakan OPEC terkadang dilandasi kepentingan Arab Saudi untuk menyerang Iran. Bagi Qatar, OPEC sudah tidak bisa diikuti lagi, selain itu juga tidak membawa keuntungan apapun bagi Qatar. Kedua, Qatar ingin mengutamakan produksi gas alamnya. Saat Qatar mengalami krisis minyak selama tujuh tahun yaitu dari tahun 1982 hingga 1989, Qatar menyadari bahwa perekonomiannya tidak bisa digantungkan pada minyak saja, karena harga minyak yang tidak menentu. Produksi minyak di Qatar hanya sekitar 600.000 barrel per hari yaitu sekitar 1,8% dari total cadangan minyak di OPEC. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pengaruh Qatar di OPEC menjadi sangat terbatas (Kollewe, 2018). Pengeboran di North Field pada 1991 menjadi awal beralihnya Qatar dari minyak ke gas alam. Setelah pergantian pemimpin pada 1995 yaitu Hamad al-Thani, Qatar pun mengutamakan sumber daya dari minyak menuju gas alam cair (LNG) (Hartalis, 2020). Bahkan Qatar hanya kalah dari Rusia dalam jumlah ekspor. Secara global, gas alam memang lebih menjanjikan dan menguntungkan dibanding minyak, karena harganya yang stabil dan merupakan energi yang baru (Sartori, 2018).

Dalam pengelolaan produksi energi barunya ini, Qatar pun melakukan kerjasama dengan Iran di wilayah Teluk Persia. Qatar dan Iran sama-sama memiliki ladang Gas-Kondensat South Pars atau North Dome. Hal ini membuat Qatar dan Iran saling mengontrol ladang gas alam tersebut bersama-saa. Qatar memiliki 13% cadangan gas di dunia dan memproduksi 650 juta meter kubik gas per hari dari bagian ladangnya, sedangkan Iran dapat memproduksi hingga 5.750 juta meter kubik gas dari ladangnya tersebut. Kepemilikan sumber daya tersebut mampu memiliki pengaruh geostrategis yang signifikan bagi kedua negara. Secara bilateral, jumlah cadangan gas alam tersebut memberikan prospek yang baik terhadap pendapatan serta peningkatan ekonomi domestik serta mampu menimbulkan hubungan bilateral yang akan semakin kuat antara Qatar dengan Iran (Rudiany & Lubis, 2020).

Keluarnya Qatar dari keanggotaan OPEC memang bersamaan dengan retaknya hubungan antara Qatar dengan Arab Saudi. Namun ada menjadi faktor lain yang menyebabkan Qatar keluar dari keanggotaan tersebut. Faktor tersebut adalah Qatar ingin mengutamakan produktivitas gas alamnya, yang menjadi sumber utama pemasukan Qatar. Selain itu, mereka merasa OPEC sudah dikendalikan oleh suatu negara demi mencapai kepentingannya.

Referensi

Hartalis. (2020). Kepentingan Qatar Keluar dari Keanggotaan Organization of The Petroleum Exporting Countries (OPEC) Tahun 2019. JOM FISIP, 7(1), 2. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://e-journal.unair.ac.id/JHI/article/download/18136/10691&ved=2ahUKEwj887zJqpjuAhVPeX0KHTtpA3YQFjAEegQIEBAB&usg=AOvVaw2G3UCXY_vxuLoiVuj1jdQG

Rudiany, N. P., & Lubis, F. R. (2020). Analisis Kebijakan Luar Negeri Qatar untuk Mengakhiri Keanggotaan dalam OPEC Tahun 2019. Jurnal Hubungan Internasional, 13(1), 112-113. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/download/26596/25713&ved=2ahUKEwjBq4HIq5juAhXmlEsFHYlmDjIQFjAAegQIBBAC&usg=AOvVaw1ufGTa5uRvtwB5taFqNBQq

Kollewe, J. (2018, Desember 3). Qatar Pulls out of OPEC to Focus on Gas Production. The Guardian. https://www.theguardian.com/business/2018/dec/03/qatar-pulls-out-of-opec-to-focus-on-gas-production

Qatar Keluar dari OPEC, Pakar Ingatkan ‘Keretakan’ di Teluk. (2019, 3 Januari). VOA Indonesia. https://www.google.com/amp/s/www.voaindonesia.com/amp/qatar-keluar-dari-opec-pakar-ingatkan-keretakan-di-teluk-/4726838.html

Sartori, N. (2018, Desember). The Gulf Cooperation Councilʹs Shift to Gas. Avoiding Another Fossil Fuel Trap. IAI. https://www.iai.it/en/pubblicazioni/gulf-cooperation-councils-shift-gas-avoiding-another-fossil-fuel-trap

Author:

11 thoughts on “Keluarnya Qatar dari OPEC

  1. Pingback:dumps pin 101

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *