Kebangkitan Ekonomi China Dan Pengaruhnya Terhadap Kawasan Asia

Kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi baru mempunyai ciri pertumbuhan ekonominya yang sampai angka dua digit. Pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2010 mencapai 10,4%. Pada tahun 2011 ekonomi China menurun  dari 9,3% menjadi 7,7%. Sampai tahun 2013 pertumbuhannya tetap diangka 7,7%. Walaupun pertumbuhan ekonominya menurun, hal ini tetap membuat China menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang terbesar di dunia secara kuantitatif. China mempunyai strategi seperti gaji buruh yang murah, impor diaspora, geopolitik minyak, penguasaan sektor yang strategis, dan pengembangan riset menjadi senjata utama China. Dibalik strategi itu China juga memiliki beberapa hambatan seperti usia tua yang meningkat, kesenjangan ekonomi, dan degradasi lingkungan. Perkembangan ekonomi China dimulai sejak revolusi kebudayaan oleh Mao Tse Tung. Akhir tahun 1949, setelah invasi jepang di perang dunia II, China merevolusi kebudayaannya dengan meningkatkan pembangunan, kemudian infrastruktur pendidikan, dan kesejahteraan. Revolusi kebudayaan yang dilakukan China ini menjadi politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang paling berbahaya di dunia (Straszheim, 2008). Pertumbuhan China dalam ekonomi dunia sudah melampaui Amerika Serikat sebagai yang terbesar di dunia selama kurang lebih tiga dekade terakhir. China saat ini adalah pabrik dunia yang tidak hanya membuat garmen tetapi juga komponen komputer, pesawat terbang dan mobil. China berhasil menjalankan misinya ke luar angkasa dan mempunyai rencana akan melakukan eksplorasi lanjutan. China melakukan investasi besar pada bidang teknologi tinggi seperti nanoteknologi dan sel bahan bakar yang bisa membantu negara menjadi pimpinan perekonomian dunia (Shenkar, 2006). 

 Dalam beberapa tahun terakhir China menjadi sasaran utama investasi industri di dunia. Konsumsi bahan seperti aluminium, tembaga, besi, dan baja mencapai 20% dari konsumsi dunia/global. China memiliki strategi yaitu menguasai perusahaan di sektor strategis. Sektor yang dianggap strategis adalah telekomunikasi, tambang, persenjataan, minyak, perikanan, Electric Power, baja, besi, petrokimia dan lain-lain. Terdapat semboyan di masing-masing industri, yaitu “don’t call us, we’ll call you”. Hal ini menunjukkan bahwa China ingin perusahaan dalam negerinya atau milik negaranya menjadi perusahaan kelas dunia. Tetapi hal yang masih diragukan adalah kemampuan negara untuk menjadikan perusahaan tersebut dapat bersaing di tingkat dunia (Straszheim, 2008). Konsekuensi dari hal itu, aparatur negara menjadi lebih diutamakan dari pada kepentingan perusahaan milik negara. Walau begitu perusahaan milik negara menjadi kekuatan utama China. Negara juga menetapkan moneter dan kebijakan pajak. 35% dari ekonomi China dikendalikan oleh perusahaan milik negara. Sejak 1995, perusahaan milik negara sudah di restrukturisasi. 

China menggunakan sovereign wealth sebagai kebijakan luar negeri. Sebagai hasil dari gaji buruh yang rendah dan biaya produksi yang murah, serta impor teknologi dan SDA, neraca perdagangan China mengalami kenaikan atau surplus. Konsekuensinya China mengembangkan cadangan valuta asing yang didistribusikan dalam sovereign wealth fund – the China Investment Corporation (CIC). Dari valuta asing China yang berkisar antara 1.850 triliun dolar as, atau sekitar 200 triliun dialokasikan untuk investasi CIC diluar negeri. China menggunakan cadangan valuta asing ini untuk berinvestasi dibanyak negara dan kemudian mengakumulasikan kepemilikan perusahaan global dan mengembangkan teknologi dan SDA di sektor domestik (Staszheim, 2008). CIC sendiri memiliki tujuan yaitu membuat pengembalian jangka panjang dari pemilik saham (the State Council) hal ini tercatat dalam laporan CIC tahun 2009. Untuk mencapai hal tersebut, CIC membuat prinsip dalam berinvestasi. Pertama, memilih investasi berdasarkan pada kriteria komersial. Kedua sebagai langkah pasif dan investor keuangan. Ketiga, CIC sebisa mungkin menyesuaikan regulasi dari lokasi perusahaan itu beroperasi. Terakhir, investasi dipilih berdasarkan standar penggunaan riset dalam teknis evaluasi. CIC sendiri adalah anggota dari forum Internasional Sovereign Wealth Funds (IFSWF) (Martin, 2010). Kebangkitan China memberikan dampak yang signifikan kepada beberapa negara kawasan Asia. Kemajuan pesat pembangunan ekonomi China bisa memberikan banyak peluang bagi kerja sama bilateral antara China dan negara kawasan dalam hubungan ekonomi politik dan bisa menjadi mitra dagang yang penting, hal ini bisa dilihat dari meningkatnya nilai perdagangan antara China dengan negara kawasan Asia. Tercatat ekonomi China pada tahun 2018 tumbuh diangka 6,8%. Angka itu diatas target yang dipatok China sebesar 6,5%. Bagi Indonesia sendiri, hal ini memberikan peluang untuk meningkatkan permintaan impor bahan baku, khususnya bahan baku energi seperti gas dan batu bara. Meningkatnya konsumsi domestik China juga memberikan peluang untuk penetrasi produk ekspor barang jadi dari Indonesia seperti kertas, karet olahan, barang dari bahan baku kayu, dan produk turunan CPO. 

Referensi

Martin, M. F. (2010). China’s sovereign wealth fund: Developments and policy implications. Diane Publishing.  

Shenkar, O. (2006). China’s economic rise and the new geopolitics. International Journal, 61(2), 313-319. https://doi.org/10.1177/002070200606100204

Straszheim, D., H. (2008). China rising. World Policy Journal, 25(3), 157-170. https://www.jstor.org/stable/40210156 

Author:

3 thoughts on “Kebangkitan Ekonomi China Dan Pengaruhnya Terhadap Kawasan Asia

  1. Pingback:rv garage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *