Kebijakan Abenomics dalam Mengatasi Bubble Economy

Terjadinya bom Hiroshima dan Nagasaki sangat memberikan dampak terhadap Jepang khususnya dalam bidang ekonomi. Bom tersebut telah meluluhlantakkan wilayah Jepang dan menjatuhkan perekonomian Jepang seperti meningkatnya angka pengangguran, persediaan makanan yang terbatas, menurunnya produksi pertanian, terjadinya inflasi, tidak tersedianya bahan mentah untuk industri serta kehilangan pasar luar negeri untuk kegiatan ekspornya (Tsutsui & Mazzotta, 2015). Namun potensi ekonomi masih dapat terlihat, dimana Jepang memiliki pekerja yang memiliki skill, rajin, terdidik, dan memiliki pengalaman yang cukup baik dalam produksi industri modern.

Perekonomian Jepang pada pertengahan tahun 1980-an mengalami peningkatan harga aset yang cukup pesat, hal tersebut biasa disebut bubble economy. Bubble economy atau gelembung ekonomi sendiri adalah adanya peningkatan yang sangat pesat dan cepat terhadap suatu objek seperti harga aset yang disebabkan oleh tingkat konsumsi masyarakat terhadap suatu produk meningkat. Bubble economy dapat dikarakterisasi menjadi tiga faktor yakni kenaikan harga aset yang pesat, aktivitas ekonomi yang agresif, dan peningkatan jumlah uang yang beredar serta kredit yang cukup besar.  Dalam jurnalnya Tsutsui & Mazzotta (2015) menyatakan bahwa setelah adanya Perjanjian Plaza pada tahun 1985 yang dimana berusaha untuk mengoreksi surplus perdagangan Jepang dengan melemahkan dollar dan memperkuat yen, Bank of Japan pun melakukan kebijakan moneter untuk mencegah resesi sehingga menyebabkan ledakan spekulatif dan menimbulkan persaingan ketat di sektor perbankan. Bank of Japan menurunkan suku bunga jangka pendek dan meningkatkan jumlah uang beredar, yang bertujuan untuk merangsang ekspor dan investasi untuk mengimbangi dampak negatif dari apresiasi yen (Ohno, 2017). Pada tahun 1986, harga saham Nikkei 225 mulai meningkat dan memuncak pada tahun 1989. Harga tanah perkotaan pun meningkat mengikuti kenaikan harga saham, selain itu terjadi peningkatan jumlah uang yang beredar dari tahun ke tahunnya.

Inflasi yang terjadi pada tahun 1991 membuat Jepang cukup menurun dalam segi perekonomian. Dengan berakhirnya bubble economy tersebut sangat berdampak khususnya bagi perusahaan-perusahaan Jepang, sehingga mengakibatkan perusahaan memutuskan untuk mengurangi jumlah karyawan tetap namun tetap mempertahankan karyawan temporer. Setelah pecahnya bubble economy menimbulkan masalah-masalah baru dimana status sulit didapatkan dan juga standar gaji diturunkan.  Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika bubble economy berakhir, pinjaman yang diberikan bank menjadi tumpukan besar hutang. Ohno (2017) menyatakan bahwa adanya faktor-faktor yang menyebabkan perekonomian Jepang mengalami stagnasi maupun perkembangan yang terkesan lambat yakni krisis keuangan Asia pada 1997-1998, krisis keuangan global pada 2007-2008, serta krisis ekonomi dan politik Euro mulai tahun 2011 (Chapter 13). Faktor internal pun dihadapi oleh Jepang yakni krisis perbankan pada tahun 1997-1998, gempa Kobe pada tahun 1995, gempa bumi Jepang Timur dan kecelakaan nuklir Fukushima, dan adanya ketidakstabilan politik. Kondisi tersebutlah yang mempengaruhi terciptanya kebijakan Abenomics.

Pada akhirnya di tahun 2012 Shinzo Abe kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang untuk melakukan suatu terobosan yakni kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah ekonomi di Jepang, kebijakan tersebut sering disebut Abenomics yang dijelaskan dalam jurnal Rehesa (2015) dimana kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan PDB tahunan dan meningkatkan inflasi. Dalam jurnalnya Abas (2018) menyatakan bahwa kebijakan Abenomics terdiri dari tiga kebijakan yakni kebijakan fiskal yang dilakukan melalui peningkatan pengeluaran pemerintah dan penurunan penerimaan pajak, kebijakan ini berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang dalam jangka pendek. Yang kedua adalah kebijakan moneter yang bersifat ekspansioner dan kontraksioner yakni kebijakan moneter yang dilakukan melalui peningkatan jumlah uang yang beredar dan pengurangan tingkat bunga. Organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya adalah Bank of Japan, Bank of Japan melalui kebijakan quantitative easing berhasil menurunkan nilai yen. Dan kebijakan yang terakhir adalah kebijakan reformasi struktural yang berupa program reformasi seperti agriculture, energi, reformasi pajak, cool Japan, keterbukaan terhadap orang asing serta peningkatan partisipasi tenaga kerja wanita. Kebijakan-kebijakan tersebut dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri, ekonomi, dan konteks internasional.

Kebijakan tersebut tidak terlepas dari hambatan, menurut Abas (2018) terdapat tiga hal yang dapat menghambat pelaksanaan kebijakan Abenomics yakni setiap individu maupun kelompok masyarakat memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda; sikap-sikap dan sumber yang dimiliki kelompok (terjadi pertentangan khususnya antara pemerintah dengan petani); dan kondisi sosial dimana masyarakat Jepang yang memiliki sifat apatis atau tidak peduli dengan politik.

Referensi

Abas, A. (2018). Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang Tahun 2012-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 443-458. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/02/ejurnal%20Adi%20Abas%20(02-12-18-05-30-19).pdf

Ohno, K. (2017). The Asset Bubble and Prolonged Recession. Dalam K. Ohno (Eds.), The History of Japanese Economic Development: Origins of Private Dynamism and Policy Competence (eds. 1, 162-178). Routledge.

Rehesa. (2015). Kepentingan Jepang Bekerjasama dengan Tiongkok Dalam Abenomics Tahun 2013. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 2(1), 1-13. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/5000/4882

Tsutsui, W. M. & Mazzotta, S. (2015). The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective, 9(6), 57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

Author: Apria Rahma

Mahasiswa Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik jurusan Hubungan Internasional

37 thoughts on “Kebijakan Abenomics dalam Mengatasi Bubble Economy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *