Hambatan Dalam Upaya Merealisasikan Kebijakan Energi Pasca Bencana Nuklir Fukushima di Jepang

 Jepang saat ini merupakan negara industri paling maju di kawasan Asia. Kemajuan di bidang industri yang terjadi pada suatu negara tidak terlepas dari ketersedian sumber daya energi yang sangat memadai. Selain itu juga dilihat dari sisi kelimpahan sumber daya alam, Jepang termasuk negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat terbatas. Oleh karenanya dengan segala keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki, Jepang berinisiasi untuk melakukan terobosan inovasi dengan upaya penerapan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya, sehingga menjadikan Jepang negara yang mampu mencukupi kebutuhan energi didalam negaranya. Jepang memiliki setidaknya 54 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sebelum terjadinya kejadian gempa bumi dan tsunami yang dapat memicu insiden kecelakaan PLTN Fukushima, energi nuklir sendiri menyumbangkan setidaknya 30% kebutuhan listrik Jepang dengan kapasitas 47,5 GWe. Oleh karenanya tahun 2009,  Jepang telah mampu membangkitkan energi listrik sebesar 1.048 GWh dengan detail perincian , untuk bauran energi sebesar 27% dari gas alam , 9% dari minyak bumi, 27% dari batubara, 27% dari nuklir , serta 7% dari air dan  untuk tingkat konsumsi energi perkapita mencapai 7.400 kWh per tahun (“Nuclear Power in Japan” , 2020).

Oleh karena itu bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang menimbulkan kekhawatiran di masyarakat serta dengan terjadinya kecelakaan nuklir , menempatkan masyarakat dalam kondisi ketidakpastian. Hal ini di picu oleh karena adanya ketidak transparansi informasi yang diberikan oleh pemerintah dan TEPCO atas dampak radiasi yang ditimbulkan oleh kecelakaan nuklir tersebut. Selain itu juga universitas, media massa, organisasi local maupun organisasi internasional menyampaikan informasi yang berbeda-beda mengenai tingkat dan dampak yang diberikan dari radiasi nuklir tersebut. Salah satunya  adalah informasi yang disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Yukio Edano pada tanggal 15 Maret 2011 atau sehari setelah meledaknya  reaktor nuklir tiga Daichi Fukushima. Yukio Edano mengumumkan pada masyarakat bahwa tingkat radiasi nuklir mencapai 400 mSv per jam. Akan tetapi, informasi yang diberikan tidak menjelaskan secara detail mengenai dampak yang diberikan dari radiasi nuklir terhadap tubuh manusia sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat (Aldrich, 2008, hlm. 59).

Selain itu gempa bumi yang terjadi menimbulkan kerugian jiwa maupun material yang sangat besar. Dampak yang diberikan adalah infrastruktur jalan, jaringan listrik, gas alam, dan minyak bumi mengalami kerusakan yang cukup parah . Sehingga hal tersebut menimbulkan terjadinya krisis energi di daerah yang terkena dampak secara langsung. Secara luas terjadi kekurangan pasokan listrik akibat tidak beroperasinya PLTN di sekitar daerah yang terkena terdampak karena pasokan TEPCO turun sekitar 27%. Dari sisi masyarakat umumnya merasa, ketakutan dengan bertambahnya insiden yang terjadi pada PLTN Fukushima . Kebocoran radiasi nuklir tersebut mengingatkan penduduk Jepang akan tragisnya tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Opini publik mengenai dampak yang diberikan oleh radiasi nuklir secara luas mengarah kepada isu keselamatan nuklir, dampak penyediaan listrik, dan publik mempertanyakan   keberlanjutan program nuklir Jepang di masa depan .

Bencana nuklir Fukushima memberikan pemahaman  bagi masyarakat Jepang mengenai dampak yang diberikan dari kebocoran energi nuklir bagi kesehatan masyarakat. Bagi sebagian besar masyarakat Jepang,menganggap bahwa saja nuklir tidak lagi dianggap sebagai energi yang aman, namun energi yang membahayakan kesehatan. Akan tetapi paparan radiasi yang diberikan tidak sampai menyebabkan kematian bagi manusia secara langsung, melainkan paparan radiasi yang dilepaskan dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya mengenai perdebatan dampak yang diberikan oleh radiasi nuklir setelah bencana Fukushima yang melibatkan banyak aktor menciptakan sebuah kondisi di mana adanya ketidakpastian dan ketidakamanan bagi masyarakat. Selain itu, menimbulkan hilangnya kepercayaan masyarakat Jepang terhadap pemerintah Jepang dalam upaya penanganan bencana nuklir Fukushima, hal tersebut mendorong masyarakat melakukan berbagai strategi untuk menghadapi kondisi ketidakpastian tersebut dan  terus berupaya untuk melindungi diri serta keluarganya terhadap ancaman radiasi nuklir. Strategi yang dilakukan oleh masyarakat Jepang adalah dengan melakukan protes, dan dengan demonstrasi massal, selain itu juga dengan negosiasi menuntut Pemerintah Jepang untuk menghentikan pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi di Jepang (Sarijati, 2018).

Bencana nuklir Fukushima memunculkan dilema mengenai energi nuklir, disatu sisi sumber energi fosil minyak bumi,  gas dan batubara tidak mampu mencukupi kebutuhan energi dunia yang terus melonjak tajam, ketergantungan negara-negara maju salah satunya Jepang akan tetapi energi nuklir juga menjadi solusi untuk menjawab kelangkaan energi dengan fasilitas reaktor yang efisien dan ketersediaan uranium yang melimpah , pada tragedi fukushima 2011 , memberikan dampak yang mengerikan dalam penggunaan energi nuklir dan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai bahaya dari energi nuklir ,dan munculnya aktivis-aktivis anti nuklir menimbulkan perdebatan publik mengenai legitimasi dari energi nuklir (Robertua, 2017).

Referensi 

Aldrich, D. P. (2008). Site Fights: Divisive Facilities and Civil Society in Japan and the West. Cornell University Press.

Robertua, V. (2017). Krisis Legitimasi Energi Nuklir dalam Ekonomi Politik Internasional: Studi Kasus Fukushima. Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Komunikasi, 7(1), 55-61. https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/52369.

Sarijati, U. (2018). Risiko Nuklir dan Respon Publik terhadap Bencana Nuklir Fukushima di Jepang. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1), 40-43. https://doi.org/10.14203/jkw.v9i1.785

Nuclear Power in Japan. (2020, September). World Nuclear. https://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/japan-nuclear-power.aspx

Author: Octania Dellavista

Jepang Industri

33 thoughts on “Hambatan Dalam Upaya Merealisasikan Kebijakan Energi Pasca Bencana Nuklir Fukushima di Jepang

  1. Artikel yg sangat ditunggu-tunggu, gak sia sia menunggunya karena ternyata isinya sangat bermanfaat bgt dan menambah wawasan, keren bgt👍🏻👍🏻

  2. Pemilihan tema hambatan dalam upaya merealisasikan kebijakan energi pasca bencana nuklir Fukushima di Jepang ini menurut saya sangat menarik, disajikan dengan sangat apik. Good job Octa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *