Efektivitas Official Development Assistance Jepang Terhadap Malaysia

Pada dasarnya semua negara di dunia tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Negara perlu memenuhi kebutuhan pembangunan dalam negerinya agar dapat berkembang pesat. Oleh sebab itu, kemampuan untuk berhubungan dengan negara lain sangat penting dalam menghadapi dinamika hubungan internasional. Negara-negara dapat menjalin hubungan dengan negara lain melalui berbagai bentuk seperti kerja sama, forum internasional bahkan memberikan bantuan. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan luar negeri. Kebangkitan pasar modal internasional dan stagflasi ekonomi pada era tahun 1970 membuat bank-bank komersial Amerika Serikat, Eropa serta Jepang memberikan pinjaman dan bantuan kepada negara-negara berkembang (Prawoto, 2009). Salah satu bantuan luar negeri yang menarik untuk dibahas adalahbantuan luar negeri yang diberikan oleh Jepang. Pasca Perang Dunia II berakhir, Jepang berinisiasi untuk menjadi negara pendonor bantuan luar negeri yang ditujukan kepada negara-negara Asia sebagai usaha ganti rugi serta pertanggung jawaban secara sosial dan ekonomi yang rusak akibat perang tersebut. Kemudian bantuan-bantuan tersebut berlanjut dengan dikeluarkannya kebijakan program Official Development Assistance oleh pemerintah Jepang.

Official Development Assistance atau ODA merupakan kebijakan program yang dikeluarkan pemerintah Jepang berupa bantuan teknik dan finansial yang ditujukan kepada negara-negara berkembang sebagai bagian dari kerja sama ekonomi. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan di bidang sosial dan ekonomi negara berkembang. Salah satu negara penerima bantuan ODA tersebut adalah Malaysia. Malaysia merupakan salah satu negara di Kawasan Asia Tenggara yang menerima ODA. Pada tahun 2004, Malaysia merupakan negara penerima ODA Jepang terbesar ke-4 dengan menerima bantuan bilateral Jepang senilai US$ 256 juta yang di antaranya senilai US$ 210 juta diberikan sebagai pinjaman bilateral (Furuoka, 2013). Bantuan tersebut disalurkan melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Secara tidak langsung, hal ini membuktikan bahwa hubungan bilateral antara Jepang dan Malaysia berjalan dengan baik. Hadirnya JICA dan JBIC di respon dengan baik oleh Malaysia. Dalam perspektif liberalisme, bantuan luar negeri bukan hanya menawarkan peran dan nilai yang lebih penting namun mengenai langkah yang lebih jauh dengan menciptakan harapan akan suksesnya proses pembangunan dengan bantuan luar negeri (Ryantori, 2014).

Transfer Air Pahang-Selangor merupakan salah satu proyek antara Jepang dan Malaysia di bawah Inisiatif Miyazawa baru. Salah satu proyek yang merupakan program  ODA ini didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Dana yang dikucurkan sebesar US$ 8 Milyar (Furuoka, 2011). Pekerjaan konstruksi dilakukan di dua tempat. Jaringan pipa ganda, stasiun pemompaan dan pemasukan air Semantan serta terowongan bawah tanah dikerjakan di Pahang. Pekerjaan ini melibatkan Bendungan Kelau. Sedangkan di Selangor, pengerjaan konstruksi melibatkan sisa air bawah tanah terowongan transfer yang dimulai lebih dulu di Pahang (Nor-hisam, 2016). Proyek-proyek besar ini tentu memiliki hambatan dalam menjalankannya. Salah satu hambatannya adalah timbulnya kritik dari LSM Malaysia yaitu Sahabat Alam Malaysia (SAM) yang menilai bahwa AMDAL tidak memadai serta pembangunan bendungan baru tidak diperlukan. Namun, pemerintah Jepang dapat mengatasi hambatan tersebut dengan membantu SAM mendapatkan keunggulan atas pemerintah Malaysia. Tidak hanya itu, pemerintah Jepang juga memperpanjang dukungan atas proyek Transfer Air Pahang-Selangor tersebut dengan kembali mengucurkan dana sebesar JPY 82.04 Milyar (Furuoka, 2011).

Sebagai negara berkembang yang membutuhkan pembangunan dalam negerinya, Malaysia tentu berupaya agar proyek ini tetap berjalan dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Malaysia adalah dengan mendesak LSM Malaysia untuk tidak menentang rencana pemerintah. Upaya tersebut dikatakan berhasil terbukti dengan pujian yang diberikan oleh Menteri Air, Tanah dan Sumber Daya Alam Malaysia, Datuk Dr Xavier Jayakumar pada tanggal 23 Januari 2020 perihal pembangunan proyek terowongan air baku bernilai miliaran ringgit dari Pahang ke Selangor (Bernama, 2020). Dengan berhasilnya transfer air dari Pahang ke Pabrik Langat 2, terowongan air ini merupakan terowongan terpanjang di antara negara-negara ASEAN. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan bagi Malaysia. Selain itu juga, terowongan air ini memberikan banyak keuntungan bagi negara Malaysia. Keuntungan yang didapatkan tidak hanya bagi rumah tangga tetapi juga bagi industri, perusahaan, pabrik serta produsen pertanian.

Dengan demikian, Official Development Assistance Jepang Terhadap Malaysia melalui proyek Transfer Air ini dapat dikatakan efektif dengan melihat signifikansi yang ada. Meskipun proyek ini menimbulkan hambatan pada awalnya namun baik pemerintah Malaysia dan Jepang dapat mengatasi hal tersebut sehingga pembangunan dalam negeri Malaysia dapat terus berjalan dengan baik dan efektif.

Referensi

Prawoto, N. (2009). Dapatkah Bantuan Luar Negeri Mendorong Pertumbuhan Ekonomi?. Jurnal UNISIA, 32(72), 161. https://dx.doi.org/10.20885/unisia.vol32.iss72.art4

Furuoka, F. (2011). Japanese Aid to the Pahang-Selangor Water Transfer Project in Malaysia: Aid Guidelines and Decision-Making. New Zealand Journal of Asian Studies, 13(1), 33. https://www.nzasia.org.nz/uploads/1/3/2/1/132180707/jas_june2011_furuoko.pdf

Ryantori. (2014). Motif di Balik Bantuan Jepang untuk Palestina dalam Kerangka CEAPAD. Jurnal Hubungan Internasional. 3(2), 100. https://doi.org/10.18196/hi.2014.0052.99-106

Nor-Hisham, B.M.S & Ho, P. (2016). A Conditional Trinity as ‘no-go’ Against Non-Credible Development? Resettlement, Customary Rights and Malaysia’s Kelau Dam. The Journal of Peasant Studies, 43(6), 1183. http://doi.org/10.1080/03066150.2016.1253559

Bernama. (2020, 23 Januari). Japan’s role in Pahang-Selangor water transfer project wins praise. New Straits Times. https://www.nst.com.my/news/nation/2020/01/559120/japans-role-pahang-selangor-water-transfer-project-wins-praise

Author: Aulia Askha

Mahasiswa HI semester 7 yang ingin skripsi dengan lancar dan cepat lulus tepat pada waktunya......serta cumlaude. Saat ini sedang mengambil kelas Jepang dan Negara Industri Kel B.

27 thoughts on “Efektivitas Official Development Assistance Jepang Terhadap Malaysia

  1. your article truly useful, adding to my insight about the existence of Japan to developing countries, especially for Malaysia in one of its policies, namely using ODA. thankyou author for making it! good job!

  2. Informatif dan mampu memberikan insight yang lebih luas lagi terkait ODA Jepang, artikel yang ditulis Aca ini mampu menjelaskan secara terstruktur sehingga mampu dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat bukan hanya para mahasiswa HI. Keren Aca. Keep it up

  3. menarik artikelnya, sudah seharusnya Jepang sebagai negara penyelenggara ODA memberikan ODA dengan manfaat jangka panjang dengan meminimalisirkan dampak negatif dari bantuan tsb. Good job Aca!

  4. artikel yang menarik. bantuan ODA Jepang sebenarnya sangat membantu pembangunan negara-negara di Asia, terkhususnya dalam artikel ini yaitu Malaysia

  5. Pingback:더킹카지노

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *