Dinamika Politik Restructuring Malta dan Perancis di Eropa Barat

      Kiri dan kanan merupakan representasi antitesis yang sederhana dimana dari sekumpulan pandangan yang dapat dikatakan mewakili idelogi politik. Inilah pola dalam kepercayaan yang menentukan visi manusia tentang dunia apa adanya serta sebagaimana yang diinginkan. Dalam artian ‘kiri’ memunculkan beragam bentuk politik seperti hal nya ‘merah muda’. Pasca perang yang menyebabkan kondisi dimana sistem politik internasional di wilayah Eropa Barat menjadi reaksi terhadap politik dan kebijakan negara. Dengan kombinasi keadaan, yang seperti itu, pemerintah barat menjadi semakin bertanggung jawab atas pengelolaan ekonomi serta keberadaan masyarakat (Baldacchino, 1989, hlm.100). Ekonomi politik internasional dapat diartikan sebagai sebuah interaksi global diantara politik dan ekonomi. Robert Gilpin berpendapat bahwa suatu konsep ekonomi politik sebagai dinamika interaksi global antara kepentingan politik dan kepentingan ekonomi. Didalam pengertian ini terdapat hubungan timbal balik dari politik dan ekonomi tersebut (Perwita, 2015, hlm.76).

         Dari pada itu Spero berpikir bahwa Politik Internasional merupakan interaksi diantara negara-negara demi tercapainya tujuan dari setiap masing-masing negara. Dinamika dalam restrukturasi yang juga terjadi sebagai hasil dari fenomena sosiologis yang diperhatikan dengan baik. Mengingat dinamika restrukturisasi ini, sistem kepartaian Eropa Barat yang dipengaruhi oleh proses seperti, Pergeseran arah ‘kanan’ di dalam preferensi pemilihan. Komposisi pemilih yang berubah dalam istilah kelas sosial serta dampak dari krisis ekonomi makro telah berkontribusi pada peningkatan dukungan untuk partai-partai ‘kanan’ dalam pemilihan umum di Eropa Barat dalam beberapa dekade terakhir ini. Permohonan rekonsiliasi kelas, kepedulian terhadap keamanan individu, memutar balik mesin negara, keringanan pajak ataupun kebijakan lain yang lebih ekstremis (seperti UU anti-imigran yang sulit dan golongan pembalasan) telah berkontribusi pada pergeseran yang signifikan secara keseluruhan ke ‘kanan’ dalam preferensi pemilu di seluruh Eropa Barat selama tahun 1980-an (Baldacchino, 1989, hlm.105). Malta telah menunjukan dukungan mereka selama dua puluhtahun terakhir dengan dua politik utama nya yang telah menjadi partai yang cukup terlembaga dan bertujuan untuk menjadi kekuatan dominan dalam konteks demokrasi. Diantaranya Partai Buruh Malta (MLP) serta Partai Nasionalis (NP) muncul dari kelas regional untuk menarik semua pemilih di Malta dan Gozo. Sama halnya bila dibandingkan dengan Perancis, Perancis merupakan negara yang merdeka di dalam kawasan Eropa Barat serta merupakan pusat pemerintahan yang besar. Peristiwa paling bersejarah di Eropa salah satunya dengan adanya keterlibatan Prancis. Saat ini Prancis telah mengalami krisis, bukan hanya dalam segi ekonomi tetapi juga dalam segi politik dan sosial. Bertahun-tahun Prancis telah mengalami penurunan ekonomi yang bertahap, tanpa adanya Pemimpin negara yang melakukan perbaikan. Dua jabatan dari pemerintahan terakhir yang membuat masa terburuk di Prancis, yang meninggalkan warisan di angka pengangguran tertinggi, terhentinya ekonomi serta kekacauan dalam politik. Dua Presiden tersebut yaitu Nicholas Sarkozy dari partai UMP (2007-2012), dan presiden yang kedua di saat Prancis dipimpin oleh Francois Hollande (2012-2017). Di masa pemerintahan Hollande, situasi dan kondisi di Perancis mengalami perpecahan politik, Sampai di masa jabatan nya di tahun pertama, kehilangan popularitas dikalangan masyarakat juga para elit politiknya sudah dialami oleh Hollande. Bahkan perombakan dalam kabinet didasari oleh situasi kondisi Perancis yang mengalami ketidakpuasan sosial masyarakat (Wall, 2014, hlm.60-61).

   Permasalahan ekonomi yang secara terus menerus menurun mempengaruhi ketidakstabilan di Perancis. Tahun 2017 merupakan tahun dimana partai sayap kanan dapat maju serta mengikuti agenda pemilu dibeberapa negara Eropa. Di Perancis sendiri, Marine Lee Pen dengan Partai Sayap kanan-jauh Front Nasional (FN) dapat berhasil maju ke dalam putaran kedua sebagai kandidat presiden yang dimana partai tersebut telah mampu menjadi oposisi utama di Perancis. Dalam budaya politik Perancis gerakan sayap kanan Front Nasional (FN) telah menjadi partai yang sangat penting dan menjadi partai yang lebih kuat dari sebelumnya. Dalam hal tersebut menguatnya partai Front Nasional (FN) didasari oleh adanya situasi yang buruk di Perancis pada masa pemerintahan Hollande. Partai Le Pen mempublikasikan kebijakan yang berisikan, kebijakan domestik serta kebijakan internasional. Kebijakan domestik ini berisikan program dengan tujuan untuk kepentingan rakyat serta kepentingan nasional Prancis, diantaranya yakni memproteksi ekonomi, kedaulatan moneter dan menolak perjanjian perdagangan bebas, serta menolak impor. Selesai dilaksanakannya pemilu di Prancis pada bulan mei, hasil dari poling telah memenangkan Emanuel Macron sebagai Presiden Prancis, dimana Macron telah mendapatkan hampir dari dua pertiga suara serta mengalahkan Le Pen dengan telak. hasil poling terakhir Macron yang mendapat 66%, Dibandingkan dengan Macron Le Pen mendapat hanya 34% suara. Pada putaran pertama sebelumnya yang dilaksanakan tanggal 23 April 2017, Emanuel Macron mendapatkan 23% disusul oleh Marine Lee Pen yang mendapat hasil 21,53%. Marine Le Pen ini berhasil menggeser kandidat dari partai lain diantaranya Franccois Fillon dari Partai Republik (LR) dengan 19,91%, JEAN-Luc Melenchon dari La France insoumise (FI) dengan 19,64% dan terakhir diperoleh oleh Partai Sosialis (PS) Benoit Hamon dengan 6,2%. 7,6 juta di putaran pertama telah didapatkan Marine Le Pen sehingga membuat dirinya berhasil maju dalam putaran kedua sebagai oposisi utama. Meskipun hasil akhir putaran yang kedua tidak membawa Le Pen naik ke kursi kepresidenan, tetapi ia dapat memperoleh 11 juta pemilih. Untuk yang pertama kalinya peningkatan jumlah dukungan tersebut terjadi dalam partai FN dimana hal ini menunjukan bahwa seberapa sukses strategi normalisasi persepsi FN dalam opini publik. Dapat dikatakan bahwa Kebijakan wacana “Marine Le Pen 2017” yang didalamnya berisikan beberapa komitmen Presiden telah berhasil mempengaruhi politik masyarakat di negara Perancis.

Referensi

Baldacchino, G. (1989). The Dynamics Of Political Restructuring In Western Europe and Malta. Hyphen, 6(2), 99-116. https://www.um.edu.mt/library/oar//handle/123456789/2518

Perwita, A., A., B., & Yanyan, Y. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. PT Remaja Rosdakary.

Wall, I. (2014). France Votes: The Election of François Hollande. Palgrave
Macmillan.





Author: R.A Endah Purnamasari

Politik Internasional

47 thoughts on “Dinamika Politik Restructuring Malta dan Perancis di Eropa Barat

  1. Penjelasan bagus dan sangat jelas, tidak bertele tele dan juga bermanfaat sekali untuk menambah wawasan. Ditunggu artikel selanjutnya yaaaaa

  2. Artikel ini sangat informatif serta membuka wawasan baru mengenai politik internasional. Semangat. Ditunggu untuk artikel selanjutnya.

  3. Terima kasih sudah memposting article ini!! Sangat bermanfaat informatif dan pembahasan yang bagus. Mudah dipahami and good job Endah 👍

  4. Waah seru banget baca dinamika pemilihan umum di Perancis, penuh lika-liku ternyata yaa. Nambah wawasan baru banget, Kereenn! semangat author, ditunggu artikel selanjutnya yaa thor 😀

  5. Artikelnya bermanfaat banget nih. Apalagi ditulis lebih ringkas dan jelas, jadi mudah dipahami. Ditunggu artikel selanjutnya, penulis keren 🤗🤗

  6. wahh. menarik untuk disimak, kondisi sosial politik Eropa jarang dibahas, namun disini diulas dengan baik dan singkat. Good Job endah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *