Situasi Politik Bagian Kawasan Afrika: Ada Apa Dengan Apartheid?

Berbicara politik di bagian Afrika Selatan yang merupakan salah satu negara mempunyai pengalaman perjalanan sejarah dalam waktu yang lama. Saksi bisu untuk menyaksikan pengalaman panjang dalam kekerasan. Beberapa faktor yang mendasari ini salah satunya ketika di mana sistem politik yang dianut ialah Apartheid melambangkan perpisahan pada intinya diskriminasi politik dan ras. Di mana faktor yang mendasari adanya kekerasan yaitu identitas etnis dan ras itu sendiri. Meskipun, Afrika Selatan terkenal dengan kekayaan sumber daya alam tidak menjamin negaranya sejahtera. Problematika politik di Afrika Selatan juga adanya pengaruh era pasca kolonialisme. Politik kolonialisme meninggalkan bentuk jejak dominasi kelompok atau ras, sehingga terbentuknya kelompok-kelompok khusus masih ingin lanjut dipertahankan. Oleh karena itu, penulis ingin membahas lebih lanjut seputar situasi politik di Afrika Selatan, aspek apa saja yang mempengaruhi keadaan politik di Afrika Selatan sehingga membuka wawasan untuk mengetahui korelasi sejarah panjang dengan Apartheid.

Lahirnya adanya Apartheid ini ada kaitannya era-kolonialisme. Pada era ini, memisahkan ras dan etnis dan dominasi orang dalam diskriminasi kulit bagi bangsa Eropa (kulit putih) biasa disebut White Supremacy. Supremasi putih ini berakar kuat di Afrika Selatan akibat kolonialisme Inggris, sehingga berkembanglah menjadi suatu diskriminasi sistematis mempengaruhi struktur ekonomi, sosial dan politik di negara. Dilihat dari sejarahnya, kolonialisme mempengaruhi prinsip politik dinegara jajahan (Worden, 2012). Selain itu juga dalam bentuk etnis sendiri memberikan pengelompokan berbeda. Pengaruh politik di Afrika juga mempengaruhi etnis seperti: Pemetaan kelompok etnis, konstruksi etnis, ideologi, perseteruan antar etnis mayoritas dan minoritas (Kon, 2015). Setelah kejadian sejarah tentang diskriminasi politik dan ras serta etnis ini, ada pemimpin yang menentang adanya Apartheid ini yaitu Nelson Mandela.

Nelson Mandela memiliki pemikiran anti Apartheid, harapan dirinya ingin memberhentikan tidak ada keadilan ini. Perjuangan dia tak sia-sia, dia menantang konsep supremasi kulit putih serta mempertanyakan legitimasi etis Apartheid, didasarkan pada ‘pengakuan posisi faktual’ perbedaan antara posisi orang kulit putih dan Afrika (Clark & Worger, 2011). Pemikiran Apartheid tidak hanya berbicara soal kulit putih dan kulit hitam, mereka juga menerapkan prinsip-prinsip hukum yang seharusnya orang kulit putih lebih di dahulukan daripada kulit hitam. Berbicara tentang HAM kesetaraan terhadap etnis dan ras tiada keadilan untuk dirasakan seperti mengungkapkan kebebasan pendapat, apabila menentang adanya pelecehan, separatisme, diskriminasi, pembantaian etnis.

Landasan teori mendukung penulisan artikel semakin jelas dan terarah, Penulis mengunakan Teori Postkolonialisme. Menurut Griffiths (2007) pemikiran ini membahas konsep pemikiran-pemikiran kolonialisme bagi bangsa eropa dimana mencerminkan perhatian bagi negara jajahan . Warisan seperti pemikiran dan ideologis mempengaruhi negara tersebut, akibatnya bentuk dominasi ras dan diskriminasi etnis terjadi di bekas negara kolonialisme. Dampak kolonialisme meninggalkan peninggalan seperti ilmu pengetahuan dan ideologis bahkan peninggalan bangunan sekalipun, dengan demikian hal ini memiliki relevansi terhadap kasus Apartheid di Afrika Selatan mengalami diskriminasi ras dan etnis serta secara sosialisasi. Oleh karena itu, teori ini sangat pas dalam menghubungkan penjelasan artikel ini menjadi lebih terarah.

Kesimpulan dalam penulisan artikel ini yang membahas situasi politik di Afrika Selatan adalah Afrika Selatan merupakan negara jajahan bagi bangsa Eropa khususnya Inggris. Sehingga meninggalkan prinsip kolonialisme dan terjadilah pembagian etnis dan ras lebih mana yang baik. Prinsip ini ditunjukkan pada White Supremacy membahas tentang bagaimana kulit putih mendominasi daripada masyarakat lokal disana yaitu kulit hitam Afrika. Keterkaitan dengan Apartheid adalah pemisahan kelompok yang menimbulkan adanya separatisme, diskriminasi, pelecehan seksual, tiada kesetaraan HAM. Sampai Tokoh bernama Nelson Mandela membicarakan anti Apartheid menuai kontroversi, di berbagai kalangan khususnya partai. Akan tetapi kaum kulit hitam mendukung penentangan anti Apartheid ini, pada akhirnya beberapa undang-undang yang mengandung diskriminatif sosial dan ras ditarik. Pernyataan dirinya yang diangkat menjadi salah satu presiden di pilih secara demokratis.

Daftar Pustaka

Griffiths, M. (2007). Internasional Relations Theory for The Twenty-First Century. Routledge

Kon, M. (2015). Institutional Development, Governance, and Ethnic Politic in South Sudan. Journal of Global Economic, 3(2), 1-6. https://doi.org/10.4172/2375-4389.1000147

Clark, N. L., & Worger, W. H. (2011). South Africa The Rise and Fall of Apartheid. Routledge

Worden, N. (2012). The Making of Modern South Africa. Blackwell Publishers

Author: debi putri

11 thoughts on “Situasi Politik Bagian Kawasan Afrika: Ada Apa Dengan Apartheid?

  1. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author๐Ÿ™

  2. Pingback:click for more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *