Signifikansi Belt and Road Initiative (BRI) di Tiongkok

Pada akhir tahun 2013 China mencetuskan istilah Belt and Road Initiative . Setelah perang dingin berakhir, sebelum terputus dari sistem global banyak upaya yang dapat menghidupkan kembali jalur sutera darat. Pada 2013 China melakukan pemulihan ekonomi secara bertahap pada saat itu juga China menganggap bahwa dalam waktu yang bersamaan tepat waktunya untuk memulai Belt and Road Initiative atas dasar organisasi internasional dan juga upaya untuk pembangunan dasar Eropa. China mampu menjadi pemain utama politik global dan ekonomi global dengan jasa ekonominya (Anam & Ristiyani, 2018).

Tujuan dari Belt and Road Initiative (BRI) pada tahun 2013 itu sendiri yaitu untuk menghubungkan perdagangan, ekonomi Eurasia dengan infrastruktur dan juga investasi. Pada tahun 2002 Euro Asian Transport Links mulai dibangun dan dalam laporannya pada tahap II tahun 2013 telah mengidentifikasi sembilan koridor jalan dan sembilan rel. Kemudian pada tahun 2016 pemerintah China merencanakan akan ada peningkatan jumlah KA pada barang China-Eropa yang akan menjadi 5.000 pada tahun 2020. Yang sebelumnya dinyatakan bahwa pada tahun 2018 jumlah kereta ada 2497 (dengan 1943 ke Eropa dan 1014 ke China).

Untuk menerobos strategi industrialisasi yang berorientasi ekspor China diwajibkan untuk berhasil membangun perdagangan industri dan investasi langsung; (1) dengan cepat perdagangan yang berorientasi ekspor di wilayah pesisir Tenggara Cina telah mendorong industrialisasi dan juga kombinasi investasi asing langsung (FDI). Kemudian untuk pertama kalinya pada tahun 1997, bagian perdagangan umum yang merupakan puncak dari perluasan industri ekspor di China, telah diambil alih oleh perdagangan pengolahan industri. China telah meninggalkan ketergantungan pada proses industri yang bernilai rendah dan padat karya, juga pertumbuhan ekonomi dan proses industrialisasi. (2) Terlalu cepat dan juga terlalu banyak mengakumulasi devisa perdagangan China sehingga dapat mengundang gesekan perdagangan dengan mitra dagangnya. (3) Sekitar tahun 2010-an China juga telah mengalami kesuksesan pada industrialisasi sehingga dapat dikatakan China merupakan ekonomi terbesar di dunia serta ekonomi pengekspor terbesar di dunia dan juga telah menjadi ekonomi manufaktur.

Belt and Road Initiative (BRI) mempunyai dua komponen utama yang terdiri dari 21 Abad Maritim Sutra Jalan dan Silk Road Economic Belt. Tujuan dari Silk Road Economic Belt sebagai rute darat itu sendiri yaitu menghubung jalur yang tertinggal yang merupakan bagian barat China dengan Eropa melalui jalur Asia Tengah. Sedangkan the abad ke 21 Maritim Sutra Jalan yang sebagai rute laut bertujuan untuk menghubungkan provinsi pesisir Tiongkok dengan kawasan Asia Tenggara sampai dengan Afrika dengan melalui jalur kereta api dan juga pelabuhan. Belt and Road Initiative (BRI) merupakan proyek raksasa yang yang terdiri dari berbagai benua yang meliputi Asia, Eropa, dan Afrika. Untuk pembangunan Belt and Road Initiative itu sendiri pengeluaran Tiongkok sudah mencapai 100 miliar per tahun.

Pada jaringan transportasi China dan Asia Tengah yang merupakan kereta barang memeliki jarak lebih dekat karena memang letak negara yang berdekatan. Rute pada transportasi langsung antara pasar pedalaman Eropa dengan China merupakan jarak terpendek dan juga mengakibatkan penghematan pada biaya. China juga telah mengembangkan peraturan untuk mengirimkan barang dari Jepang, Taiwan, dan Korea ke pelabuhan pesisir China daratan dan menggabung kereta barang China-Eropa. Dalam hal itulah, transportasi dapat menghemat biaya dan juga waktu. Kemudian China mengembangkan perkerataapian di Afrika Timur, pembangunan ini merupakan kemauan politik China dan teknologi China yang telah menyelesaikan perkeretaapian utama di Afrika dan pembangunan.

Dalam tulisan ini penulis menggunakan teori neorealisme dimana neorealisme itu merupakan salah satu teori dalam hubungan internasional dimana Mearsheimer dan juga Kenneth Wals yang merupakan dua pemikir terkemuka neorealis. Kemudian salah satu konsep yang digunakan yaitu kepentingan nasional, dimana konsep inilah yang paling banyak dibicarakan. Biasanya kepentingan nasional digunakan untuk menjelaskan banyaknya negara yang berperan dan juga kebijakan luar negeri yang diambil. Neorealis menekankan bahwa kekuasaan diraih oleh perjuangan negara dan mereka juga mengatakan bahwa adanya sejumlah daya pada sistem.

Daftar Pustaka

Anam, S., & Ristiyani, R. (2018). Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok pada Masa Pemerintah Xi Jimping. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 14(2), 217-236. https://doi.org/10.26593/jihi.v14i2.2842.217-236

Chan, M. H. T. (2018). The Belt and Road Initiative – the New Silk Road: agenda penelitian. Jurnal Studi Asia Timur Kontemporer , 7 (2), 104-123. https://doi.org/10.1080/24761028.2019.1580407

Jackson, R., & Sorensen, G. (2014). Pengantar Studi Hubungan Internasional (D. Suryadipura dan P. Suyatiman, Pnrj.). Pustaka Pelajar. (Karya asli terbit pada tahun 2013)

3 thoughts on “Signifikansi Belt and Road Initiative (BRI) di Tiongkok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *