Rusaknya Hubungan Diplomatik Arab Saudi dan Qatar Tahun 2017

Timur Tengah merupakan salah satu kawasan yang paling rawan terjadinya konflik, secara geografis memiliki karaktersitik wilayah yang unik dan sumber daya yang melimpah, kawasan ini telah dirusak dengan konflik yang intens. Salah satu faktor yang menyebabkan sering terjadinya konflik di kawasan Timur Tengah adalah faktor shatterbelt. Istilah “shatterbelt” mengacu pada wilayah geografis yang dilanda konflik lokal di dalam atau antar negara di wilayah tersebut dan oleh keterlibatan kekuatan besar ekstra-regional yang bersaing. Studi tentang konflik di daerah-daerah yang terpecah belah menunjukkan bahwa negara, karena perpecahan etnis, agama atau bahasa membuat mereka jatuh ke dalam perang saudara dengan kemungkinan eskalasi konflik yang lebih tinggi karena keterlibatan kekuatan eksternal. Timur Tengah sebagai wilayah shatterbelt karena seringkali terjadi perpecahan di dalam dan antara negara dan masyarakat yang berdaulat, yang kemudian dipicu oleh persaingan kekuatan yang besar. Perselisihan agama, etnis dan ras semakin diintensifkan oleh sumber daya tanah dan air yang langka serta klaim yang bertentangan atas sumber daya minyak dan gas (Zulfqar, 2018).

Pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi dan Qatar pada tahun 2017 merupakan salah satu konflik yang disebabkan oleh faktor shatterbelt. Arab Saudi dan Qatar merupakan dua negara yang terletak di kawasan teluk, dalam sejarahnya sejak awal kemerdekaan Qatar pada tahun 1971 Qatar telah memiliki hubungan diplomatik dengan Arab Saudi bahkan jauh lebih lama dari itu. Secara historis imam dari negara Qatar merupakan orang yang berasal dari suku yang sama dengan Arab Saudi. Arab Saudi dan Qatar tergabung dalam GCC (Gulf Cooperation Council) atau negara-negara di teluk Arab dimana kelompok ini saling bekerjasama dalam rangka untuk mengelola perbatasan teluk Arab. Namun keanggotaan Arab Saudi dan Qatar di GCC tidak menjadi penghalang bagi kedua negara ini untuk tetap bersaing di perbatasan. Persaingan antara kedua negara ini secara historis dimulai ketika Arab Saudi mengklaim di semenanjung Qatar. Ada banyak kedekatan budaya antara kedua negara. Banyak orang Badui membawa paspor Arab Saudi dan Qatar. Kedua negara secara resmi adalah penganut Sunni, negara-negara Wahhabi, meskipun Qatar memiliki kebijakan yang lebih ramah terhadap keragaman agama lain dibanding Arab Saudi, yang beberapa orang membandingkan dengan budaya maritim Qatar melawan budaya padang pasir Arab Saudi (Robert&Georg, 1999).

Arab Saudi dan Qatar pernah berkomitmen dalam hal keamanan kawasan yang dikenal dengan “Perjanjian Riyadh”, perjanjian tersebut berisi mengenai komitmen negara-negara Arab dalam menghindari urusan internal setiap negara dan tidak memberikan biaya maupun dukungan politik terhadap kelompok yang dianggap melakukan penyimpangan. Namun, secara mengejutkan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, tepatnya pada 5 Juni 2017. Arab Saudi merupakan negara pertama yang memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar setelah menuduh Qatar mendukung kelompok militan dan menyebarkan ideologi kekerasan. Seperti yang sudah dijelaskan mengenai shatterbelt, pada umumnya konflik antar regional di kawasan Timur Tengah terjadi salah satunya karena adanya perselisihan yang disebabkan karena perbedaan paham, organisasi Ikhwanul muslimin memiliki aliran yang berbeda dengan Arab Saudi, sedangkan Arab Saudi seringkali beranggapan bahwa aliran yang berbeda dengan aliran yang ada di Arab Saudi dianggap pemberontak atau bahkan dikategorikan sebagai teroris, konflik lokal di dalam atau antar negara di wilayah tersebut dan oleh keterlibatan kekuatan besar ekstra-regional yang bersaing.

Hal yang membuat  Arab  Saudi  geram  ialah  lemahnya kebijakan  dalam  negeri  Qatar  mengenai  perlawanan  terhadap  kelompok  terorisme.  Pemerintahan Qatar sendiri memberikan pernyataan bahwa yang memberikan sumbangan dan bantuan senjata kepada pihak terorisme itu bukanlah pemerintah namun dari orang-orang kaya yang ada di Qatar. Qatar sendiri menyanggah bahwa mereka memberikan bantuan kepada Al-Nusra dan Al   Qaeda,   namun   mereka   memang   memiliki   hubungan   dengan Ikhwanul Muslimin yang berada di Arab Saudi (Robbins, 2017). Dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin ini membuat Saudi dan beberapa negara Teluk meradang mengingat negara-negara ini mengklasifikasikan Ikhwanul Muslimin, serta kelompok-kelompok lain yang didukung oleh Qatar, sebagai kelompok terror.

Ikhwanul Muslimin adalah organisasi yang didirikan oleh Hassan al-Banna pada tahun 1928 yang merupakan organisasi Islam tertua dan terbesar di Mesir. Organisasi ini pada awalnya didirikan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, tetapi kemudian tumbuh menjadi gerakan politik (Andriyanto, 2019). Ikhwanul muslimin sendiri dianggap sebagai kelompok terror karena pada 1952, kelompok Ikhwan Muslimin mendukung kudeta militer oleh Gerakan Opsir Merdeka pimpinan Gamal Abdel Nasser. Hubungan dengan militer memburuk akibat kecurigaan Gamal Abdel Nasser bahwa organisasi Ikhwan berada di balik peristiwa percobaan pembunuhan dirinya. Setelah adanya kecurigaan tersebut, ribuan anggota Ikhwanul Muslimin ditangkapi serta dihukum mati rezim Nasser. Hal tersebut menyebabkan gerakan terpaksa bergerak di bawah tanah, dikejar-kejar dan disiksa. Beberapa anggota Ikhwan Muslimin akhirnya mendorong penggunaan senjata untuk melawan sikap rezim. Bentuk perlawanan Ikhwan Muslimin ini dianggap sebagai pemberontakan dan dukungannya terhadap kudeta militer Gerakan Opsir Merdeka dinilai dapat mempengaruhi warga negara Arab untuk ikut juga melakukan pemberontakan terhadap rezim.

Pada 5 Juni 2017 Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar, pemutusan hubungan diplomatik ini dilakukan sebagai bentuk kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh Arab Saudi terhadap Qatar. Kebijakan luar negeri adalah tindakan atau gagasan yang dirancang untuk memecahkan masalah ataumembuat perubahan dalam suatu lingkungan (Holsti, 1983). Negara pada umumnya mengeluarkan kebijakan luar negerinya untuk memenuhi kepentingan nasionalnya, dalam hal ini Arab Saudi mengeluarkan kebijakan untuk memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar. Dalam keputusan ini, terlihat bahwa ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang Arab Saudi terhadap Qatar salah satunya adalah tuduhan Arab Saudi bahwa Qatar mendukung kelompok militan dan menyebarkan ideologi kekerasan mereka. Dengan adanya pernyataan bahwa Qatar mempunyai hubungan dengan Ikhwan Muslimin maka keputusan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar semakin kuat karena Qatar dinilai memberikan dukungan kepada kelompok yang dicap ekstrimis oleh Arab Saudi yaitu kelompok Ikhwanul Muslimin.

Daftar Pustaka

Holsti, K., J. (1983). International Politics: A Framework For Analysis. University of British Columbia Press.

Robert, J., & Georg, S. (1999). Introduction to International Relations. University Press.

Zulfqar, S. (2018). Competing Interest of Major Powers in the Middle East: The Case Study of Syria and Its Implications for Regional Stability. Perceptions, 23(1), 121-147. https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/815459

Adrianto, H. (2019, 1 Mei). Sejarah Ikhwanul Muslimin Hingga Disebut Kelompok Teroris. Berita Satu. https://www.beritasatu.com/dunia/551720/sejarah-ikhwanul-muslimin-hingga-disebut-kelompok-teroris

Robbins, J. (2017, 16 Juni). World: Middle East. BBC. http://www.bbc.com/news/world-middle-east-4020092

Author: Dyah Ronauly

9 thoughts on “Rusaknya Hubungan Diplomatik Arab Saudi dan Qatar Tahun 2017

  1. Artikelnya sangat bagus, mungkin ada beberapa kata yang kurang awam, namun dijelaskan secara singkat dan jelas. Good job buat penulisnya. Ditunggu bahasan2 menarik yang lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *