Respon Pemerintah China Terhadap Pandemi COVID-19

            Coronavirus seperti yang kita ketahui ditemukan di Wuhan, China pada bulan Desember 2019 yang lalu, dan baru saja di identifikasi sebagai virus baru pada Januari 2020. Pada awalnya, gejala Coronavirus yang sekarang dinamakan COVID-19 ini hampir mirip dengan pneumonia. Virus ini mudah sekali ditularkan bahkan tanpa kontak fisik sekalipun, biasanya lewat benda yang terkena cairan eksresi manusia seperti keringat dan liur. Virus ini juga cepat mematikan jika tidak langsung ditangani.

            Pada kasus COVID-19 di China, pemerintah sangat tanggap dan cepat dalam menangani ledakan orang-orang yang terkena infeksi. Dari mulai pemantauan situasi, pengawasan skala besar, serta persiapan fasilitas dan pasokan medis, semuanya berhasil mencegah meledaknya epidemi di China. Artikel ini akan menjelaskan secara mendetail apa saja tindakan pemerintah China dalam merespon pandemic COVID-19.

            Sejak awal penyebaran pandemi COVID-19 di China, pemerintah memfokuskan tindakannya pada pencegahan ledakan pada infected dan melakukan isolasi di daerah yang awalnya menjadi pusat penyebaran virus ini, yakni Wuhan. Sebelum adanya pandemic COVID-19 China sudah merasakan pandemic SARS dan MERS pada tahun 2002. SARS dan MERS yang saat itu juga merupakan pandemic yang sangat mematikan hingga mengakibatkan 8.098 infeksi dan 774 kematian dari 32 negara (Gumel et al., 2004). Meskipun saat itu China berhasil dalam mengkontrol pandemi SARS dan MERS, tetapi persiapan yang mereka lakukan masih dapat dibilang kurang. Sejak itupun pemerintah China bekerja keras untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas respons epidemi di negara mereka untuk kemungkinan adanya pandemic baru di masa depan.

            Dapat dikatakan bahwa identifikasi virus COVID-19 terbilang terlambat karena saat itu sudah ada sekitar 300 kasus infeksi dan 5 kematian. Sejak virus dilaporkan ke WHO dan sudah teridentifikasi, pemerintah China akhirnya mulai menyusuri pasar ikan karena menjadi salah satu kemungkinan awal mula munculnya virus (She et al., 2019). Akhirnya pemerintah China menutup pasar ikan pada awal Januari 2020 sebagai tindakan awal. Selain pasar ikan, pemerintah China juga menghentikan aktivitas jual beli daging-dagingan dan mulai melakukan peninjauan kembali terhadap lingkungan sebagai tindakan pencegahan penularan (World Health Organization, 2020).

            Sebagai tindakan lebih lanjut, para pihak berwenang di negara itu mulai melakukan penyelidikan mengenai virus tersebut secara epidemiologi dan etiologi. Pemerintah China juga dengan gencar meningkatkan fasilitas kesehatan dan laboratorium mereka. Selain itu mereka juga mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan handal untuk mencari informasi dan data lebih lanjut mengenai virus yang terbilang baru pada saat itu (Kupferschmidt & Cohen, 2020). Dengan metode diagnostik dan teknologi yang dimiliki China, tentu saja sangatlah membantu, karena para ilmuwan dengan mudah dapat mengidentifikasi, mengumpulkan data, dan merumuskan tindakan pencegahan yang cepat.

            Untuk orang-orang yang tertular virus ini sendiri, pemerintah China melakukan strategi pencegahan dengan cara isolasi diri dan meminimalisir kontak dengan orang lain. Pihak otoritas nasional juga mengerahkan sekitar 1.800 ahli epidemiologi untuk melacak setiap orang di Wuhan (World Health Organization, 2020). Pemerintah China juga mulai melakukan pemasangan thermometer inframerah di bandara, stasiun kereta api, terminal bus, dan terminal kapal feri. Pada Februari 2020, pemerintah memperkenalkan teknologi QR Code kepada masyarakat untuk mengecek siapa saja yang tertular dan yang tidak tertular.

            Pada bulan Maret 2020, pemerintah China mulai memfokuskan diri untuk menangani orang-orang yang pulang ke China dari negara lain dengan mengalihkan penerbangan ke bandara terdekat lain, agar mengurangi beban Beijing. Penerbangan Beijing akhrinya ditutup pada tanggal 22 Maret 2020. Hanya rumah sakit terpilih yang menjadi tempat penindakan para korban yang tertular virus ini.

            China memfokuskan diri untuk membangun fasilitas kesehatan untuk pasien-pasien tua, karena kebanyakan kematian berasal dari golongan masyarakat tua. Dalam pusat kesehatan khusus untuk menangani COVID-19 ini, China memiliki yang namanya “four concentrations” yang mana merupakan empat konsentrasi pemerintah China kepada Pasien, sumber daya, ahli medis, dan pengobatan (World Health Organization, 2020). Karena ini, China memiliki recovery Rate yang sangat tinggi, yakni sebesar 95%.

Daftar Pustaka

Gumel, A. B., Ruan, S., Day, T., Watmough, J., Brauer F., van den Driessche, P., Gabrielson, D., Bowman, C., Alexander, M. E., Ardal, S., Wu J., & Sahai, B. M. (2004).  Modelling strategies for controlling SARS outbreaks. Proceedings. Biological sciences271(1554), 2223–2232. https://doi.org/10.1098/rspb.2004.2800

Kupferschmidt, K,. & Cohen, J. (2020, 2 Maret). China’s aggressive measures have slowed the coronavirus. They May not Work in Other Countries. ScienceMag. https://www.sciencemag.org/news/2020/03/china-s-aggresive-measures-have-slowed-coronavirus-they-may-not-work-other-countries

She, J,. Jiang, J,. Ye, L., Hu, L,. Bai, C,. Song, Y,. (2020). 2019 novel coronavirus of pneumonia in Wuhan, China: emerging attack and management strategies. Clinical and translational medicine9(1), 19. https://doi.org/10.1186/s40169-020-00271-z

World Health Organization. (‎2020)‎. Novel Coronavirus (‎‎‎‎2019-nCoV)‎‎‎‎: situation report, 1. https://apps.who.int/iris/handle/10665/330760

World Health Organization. (‎2020)‎. Coronavirus disease 2019 (‎COVID-19)‎: situation report, 75. https://apps.who.int/iris/handle/10665/331688

Author:

35 thoughts on “Respon Pemerintah China Terhadap Pandemi COVID-19

  1. Pembahasan yang terdapat pada artikel sangat bagus. Kita semua dapat mengetahui bagaimana respon China terkait covid19 yg sedang melanda seluruh dunia. Terima kasih Author 💜

  2. Pingback:cdl training

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *