Perang Dagang Antara Jepang – Korea Selatan: Apa Dampaknya?

Politik internasional merupakan sebuah studi kebijakan politik luar negeri yang mana didefinisikan sebagai keputusan-keputusan yang memiliki tujuan atau melakukan sebuah tindakan untuk mengimplementasikan tujuan tersebut. Politik internasional adalah hubungan aksi reaksi, tindakan suatu negara, dan juga respon dalam bidang politik yang biasanya dilakukan oleh dua negara atau juga bisa dilakukan lebih dari dua negara dan juga termasuk organisasi – organisasi internasional. Politik internasional juga bisa dibilang sebagai sebuah arena dimana negara-negara melakukan the game of power atau struggle of power untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan nasional nya. Salah satu tujuan dari kebijakan politik luar negeri yaitu Keamanan Nasional, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Jepang.

Jepang dan Korea Selatan merupakan dua negara yang memiliki perekonomian besar di dunia. Jepang merupakan negara yang menguasai pasokan dunia untuk produk material teknologi tinggi sedangkan Korea Selatan merupakan negara yang memproduksi chip terbesar di dunia. Namun, pada tanggal 1 Juli 2019, Kementerian Perdagangan Jepang mengumumkan bahwa mulai tanggal 4 Juli 2019 Jepang memberlakukan pembatasan ekspor bahan material teknologi tinggi untuk pembuatan semikonduktor seperti bahan baku tv, bahan baku pembuatan kulkas, dan bahan untuk produksi smart phone dan chip ke Korea Selatan . Jepang juga mengharuskan para eksportir untuk mendaftarkan diri apabila ingin mengekspor bahan baku semikonduktor ke Korea Selatan.

Kebijakan pembatasan ekspor oleh Jepang ini sangat berpengaruh pada perusahaan-perusahaan besar yang ada di Korea Selatan, seperti Samsung Electronic Company, LG Display, dan SK Hynix Company dimana perusahaan tersebut sangat berperan dalam produksi dua pertiga chip di dunia. Data dari Korean International Trade Association membuktikan bahwa Korea Selatan mengimpor sebanyak 94% Fluorinated Polyamide (bahan baku layar televisi dan layar handphone), 91,9% Photoresist (bahan untuk produksi chip), dan 43,9% hydrogen fluoride dari Jepang (Zulverdi & Pratomo, 2019). Akibat dari kebijakan ini yaitu membuat proses perizinan untuk setiap pengiriman ekspor melalui kapal dari Jepang ke Korea Selatan memakan waktu hingga 90 hari hal ini dapat memperlambat proses pengiriman bahan baku tersebut (Lisbet, 2019). Selain itu, Jepang juga menghapus Korea Selatan dari whitelist (negara yang mendapatkan kemudahan dalam perizinan ekspor/perlakuan khusus dalam perdagangan).

Pemerintah Jepang beralasan bahwa keputusan pembatasan ekspor ini diambil karena alasan keamanan nasional dalam bentuk pengawasan ekspor dan pemenuhan kewajiban internasional agar menjaga ketat alih teknologi yang bisa digunakan dalam bidang militer seperti pembuatan senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya , dimana menurut Jepang sistem kontrol ekspor Korea Selatan kurang bisa dipercaya (Lisbet, 2019). Beberapa laporan media massa mengklaim bahwa Korea Selatan mungkin telah menyelundupkan bahan kimia ke Uni Emirat Arab, Iran, atau Korea Utara.

Namun, banyak pihak mengatakan hal ini sebagai bentuk tindakan/balasan Jepang atas keputusan Mahkamah Agung Korea Selatan yang mewajibkan perusahaan Jepang membayar kompensasi atas korban kerja paksa Comfort Women pada masa Perang Dunia II yang mana pada saat itu banyak kebijakan dan perlakuan Jepang yang merugikan warga Korea Selatan seperti merekrut paksa wanita-wanita Korea Selatan untuk dijadikan budak seks untuk tentara Jepang. Wanita-wanita tersebut dipaksa untuk melayani 20 hingga 30 tentara militer Jepang, bukan hanya dipaksa tetapi mereka juga mengalami kekerasan hingga berujung pada kematian, cacat fisik dan juga cacat psikologi (Gracellia, 2019). Dan masih banyak lagi sejarah kelam yang terjadi antara Jepang dan Korea Selatan.

Jepang membuat keputusan untuk memberlakukan pembatasan ekspor ke Korea Selatan dan juga menghapus Korea Selatan dari white list, hal ini berdampak negatif pada Korea Selatan. Karena, untuk melakukan impor 857 produk dari jepang (dari 1.120 produk) Korea Selatan membutuhkan waktu pengurusan izin sekitar 90 hari dan akan mengalami kerugian ekspor tahunan mencapai KRW30,5 triliun (USD27 miliar). Negara ini juga akan mengalami disrupsi pasokan dan biaya input bahan baku untuk sektor otomotif dan industri elektronik mengalami peningkatan, yang pada akhirnya semua itu akan mengganggu global supply chains smartphones dan electronic device.

Pada 18 Juli 2019, Bank Sentral Korea Selatan melakukan pemangkasan suku bunganya ari 1,75% menjadi 1,5%. Bank of Korea juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya menjadi 2,2% dari sebelumnya 2,5%. Bank Sentral Korea Selatan menyatakan Korea Selatan tumbuh sangat lambat di kuartal III dengan hanya mampu berekspansi 0,4%  (Nam-ku, 2019). Dampak gejolak politik kedua negara juga melanda sektor jasa,terutama pariwisata. Dalam data terbaru, biro perjalanan JTB mencatat adanya penurunan reservasi hotel di Jepang oleh pelanggan Korea Selatan hingga 10%  (Bahri, 2019). Maskapai penerbangan Korea Selatan juga melihat adanya penurunan jumlah penumpang akibat aksi boikot produk Jepang, yang memutuskan untuk mengurangi dan juga menangguhkan penerbangan dari Korea Selatan ke beberapa kota di Jepang.

Bukan hanya Korea Selatan, namun Jepang pun juga merasakan dampaknya yaitu (i) dampak langsung mengurangi ekspor Jepang ke Korea Selatan sekitar JPY46,6 miliar setahun, atau kurang dari 1% nilai ekspor ke Korea Selatan dan 0,09% terhadap PDB Jepang pada 2018; (ii) apabila restriksi juga dilakukan pada seluruh input teknologi canggih maka dampaknya sekitar JPY256,5 miliar dari sektor semikonduktor saja; dan (iii) penurunan jumlah wisatawan sebesar 10% dari Korea Selatan ke Jepang, berpotensi menurunkan pendapatan sektor jasa Jepang lebih dari USD500 juta, angka ini lebih besar jika yang terjadi sebaliknya (hanya USD200 juta) (Zulverdi & Pratomo, 2019). Sebelumnya, Korea Selatan merupakan klien utama yang memberikan paling banyak pendapatan ekspor Jepang, namun dengan pembatasan ekspor ini perusahaan Jepang harus mengalihkan penjualan mereka ke negara lain (Gracellia, 2019).

Tiongkok dan Vietnam pun juga merasakan dampak dari resiko pembatasan ekspor Jepang pada Korea Selatan ini. Dampak terbesar dialami oleh Tiongkok karena Korea Selatan merupakan pengekspor sebanyak 69% produksi semikonduktor dan 81% memory chip. Tiongkok tidak memiliki perusahaan domestik yang bisa memproduksi DRAM dan NAND Flash Memory dengan jumlah yang banyak. Sementara Vietnam, mengimpor 42% kebutuhan semikonduktor dan 64% kebutuhan memory chip dari Korea Selatan.

Jepang dan Korea Selatan memiliki keterkaitan ekonomi yang sangat erat dan juga saling bergantung satu sama lain serta menjadi bagian yang penting dari jaringan rantai nilai global. Konflik yang terjadi antara Jepang dan Korea Selatan ini disebabkan oleh kebijakan pembatasan ekspor ber-teknologi tinggi ke Korea Selatan yang dibuat oleh Jepang dengan alasan keamanan nasional dalam bentuk pengawasan ekspor. Hal lain yaitu kebijakan ini sebagai bentuk balasan Jepang atas keputusan Mahkamah Agung Korea Selatan terkait permasalahan kerja paksa Comfort Women pada masa Perang Dunia II. Dampak dari perang dagang antara Jepang dan Korea Selatan bukan hanya dirasakan oleh kedua negara tersebut, namun negara lain seperti Tiongkok dan Vietnam terkena dampaknya juga.

Daftar Pustaka

Bahri, F. N. (2019). History and Japanese South Korea Trade Wars. Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture, 2(1), 46-59. https://doi.org/10.33633/jr.vlil.3353

Gracellia, J. (2019). The Impact of Resolving Comfort Women Issue to Japan and South Korea Relation During 2015-2019. UPH Journal of International Relations, 11(21), 44-55.  http://dx.doi.org/10.19166/verity.v11i21.2451

Lisbet. (2019). Ketegangan Hubungan Jepang – Korea Selatan dan Implikasinya. Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI Bidang Hubungan Internasional, 11(14), 7-11. http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XI-14-II-P3DI-Juli-2019-238.pdf

Nam-ku, J. (2019, Juli 19). Bank of Korea to Lower Benchmark Interest Rate. HANKYOREH. http://www.hani.co.kr/arti/english_edition/e_business/902549.html

Zulverdi, D., & Pratomo, W. (2019). Ketegangan Jepang-Korea Selatan dan Dampaknya pada Perekonomian. Dalam M. Suksmonohadi, & K. Nindya, Perkembanagan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional: Konflik Perdagangan Makin Menekan Perekonomian Global Edisi III (pp. 114-116). Bank Indonesia Bank Sentral Republik Indonesia.

Author:

48 thoughts on “Perang Dagang Antara Jepang – Korea Selatan: Apa Dampaknya?

  1. terimakasih untuk tulisannya, dampak perang dagang ini tidak hanya dirasakan oleh kedua negara yg berseteru namun berdampak jg bagi negara lain dikawasan asia timur terutama tiongkok.

  2. Penyebab historis dari perang dagang ini rasanya akan sulit dihilangkan. Luka lama seolah jadi luka selamanya yang kapan saja bisa jadi alat untuk perjuangkan kepentingan salah satu pihak. Dan lagi efek domino itu nyata. Mantap artikelnya! Keep up the good work! Salam.

  3. Artikelnya menarik penjelasan sebab dan dampak yang ditimbulkan sudah dituliskan secara rinci dan teratur, ditunggu artikel artikel selanjutnyaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *