Latar Belakang Kelompok Terorisme di Wilayah Asia Tenggara

Permasalahan mengenai terorisme seringkali membuat sebuah negara menjadi khawatir akan kedaulatan negara yang merasa tercancam oleh aktivitas teror yang dilakukan oleh sekelompok maupun organisasi tindak kriminal terorisme. Berdasarkan Black, (1990) terorisme digunakan dengan maksud (i) mengintimidasi untuk mempengaruhi penduduk sipil, (ii) mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, atau (iii) mempengaruhi jalannya pelaksanaan dan penyelenggaraan bidang bidang dalam pemerintahaan dengan cara penculikan dan pembunuhan (hlm. 1473).

Saat ini kawasan Asia Tenggara sedang dihadapi permasalahan yang cukup rumit pada isu terorisme, dimana kelompok atau organisasi terorisme yang dihadapi berasal dari kelompok yang berbeda tetapi terhubung satu sama lain karena potensi tujuan dan aktivitas tertentu  (Kruglanski & Fishman, 2006). Perlu kita ketahui bagaimana mendefinisikan kelompok terorisme secara utuh agar dapat memahami bagaiman suatu kelompok atau organisasi terorisme bergerak di kawasan Asia Tenggara. Di kawasan Asia Tenggara sendiri terdapat 3 Wilayah negara dengan masalah terorisme yang sering terjadi yaitu Filipina,malaysia dan Indonesia. Di Filipina masalah terorisme hadir oleh organisai terorisme bernama Abu Sayyaf.

Asal usul Abu Sayyaf berasal dari keyakinan dan pengalaman Abdurajak Abubakar Janjalani, pendiri dan pemimpin organisasi separatis Abu Sayyaf yang ia dirikan pada tahun 1991 Pemikiran religius dan politik Abdurajak Janjalani memberikan dasar bagi ideologi asli.Premis awal pembentukan kelompok itu adalah untuk seorang mujahidin Muslim yang akan berkomitmen pada “perjuangan di jalan Allah” atau “berperang dan mati demi Islam. anjalani lebih dari sekadar seorang pemimpin, dia memberikan jalan ideologis dan pencerahan. Janjalani berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas tentang berbagai bidang yang memengaruhi populasi Muslim di Filipina. Ini termasuk kondisi sejarah, agama, ekonomi, politik, dan sosial yang ada pada saat itu. Dan itu adalah tujuannya untuk membangun idenya tentang negara Islam di Filipina selatan. kelompok Abu sayyaf membuat tindakan teror di Filipina dengan berbagai macam bentuk mulai dari pencurian, penculikan, membuat kekacauan pada suatu perusahaan dan meciptakan ketakutan di filipina. Tindak Terorisme diwilayah Filipina membuat daerah tidak stabil dan dengan demikian menjadi lokasi yang tidak menarik untuk investasi bisnis ketika personel perusahaan dan keluarganya tidak dapat dengan mudah dilindungi. Banyak bisnis mentransfer aset dan industri ke luar negeri setelah risiko terhadap personelnya menjadi terlalu tinggi, atau mereka berhenti berbisnis dengan suatu negara sepenuhnya karena aktivitas teroris dan masalah keamanan (Banlaoi,  2006). Akibatnya, risiko terorisme memiliki konsekuensi negatif di pasar tenaga kerja dengan penurunan substansial dalam kualitas kesempatan kerja lokal dan kompensasi yang tersedia untuk penduduk negara. Hal ini mempersulit kehidupan pekerja lokal untuk meningkatkan mutual kerja karena kekacauan yang telah diakibatkan dari kelompok terorisme.

Hal ini dapat tercermin dalam laporan status Filipina tahun 2002 yang menunjukkan pengangguran dan setengah pengangguran yang meluas dengan tingkat masing-masing 10,3% dan 15,9% meskipun angka tahun 2008 menunjukkan penurunan tingkat pengangguran menjadi 7,3% .53 Tindakan teroris Abu Sayyaf dan kelompok-kelompok terkait juga dapat mengganggu perdagangan dunia dan globalisasi seperti ekspo dan impor. Disisi Pencurian Ada semakin banyak laporan tentang pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal-kapal yang melakukan perjalanan di perairan teritorial dan lepas pantai Laut Cina Selatan di lepas barat laut. pantai di Kepulauan Filipina. Sejumlah kapal komersial telah diserang dan dibajak baik saat berlabuh maupun saat sedang berjalan, kargo dialihkan ke pelabuhan di Asia Timur, dan awaknya dibunuh atau diapungkan(Simon, 2005).

Kelompok abu sayyaf seing bergerak di wilayah Laut Sulu dan Sulawesi ,Meningkatnya jumlah kasus yang terjadi di Laut Sulu dan Sulawesi telah memberikan gambaran yang jelas bagi teroris bahwa perbatasan tiga negara tersebut belum dilindungi dengan kuat oleh Indonesia, Malaysia, dan Filipina dalam bentuk kerjasama keamanan apapun. Sehingga ASEAN sangat sulit untuk menghentikan aksi terorisme kelompok Abu Sayyaf. (RAND Corporation, 2006)

Berpindah kepada negara Malaysia, kelompok terorisme pada negara ini juga menyatu dalam taatanan masyarakat Malaysia sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya. Dikutip dari sebuah jurnal bahwa kelompok terorisme yang berasal dari basilian atau kelompok Abu Sayyad  selalu memiliki hubungan dekat dengan Sandakan dan Sabah di mana banyak dari Basilan bekerja sebagai buruh perkebunan atau kuli konstruksi, dan hubungan Malaysia telah menjadi sumber personel dan pendanaan selama bertahun-tahun. Banyak keluarga dengan kerabat di Sandakan juga memiliki anggota keluarga di Arab Saudi – keluarga Mundos (Khair dan saudaranya Borhan) dengan mudah berpindah-pindah ke Riyadh, Sandakan dan Basilan pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an. Kemudian jaringan anggota Darul Islam di Sabah, banyak dari mereka yang berbasis di Tawao dan terkait dengan faksi DI Indonesia di Makassar dan Kalimantan Timur, mengembangkan hubungan mereka sendiri dengan ASG, baik di Basilan maupun Sulu (Unson, 2018)

Fakta bahwa orang Malaysia yaitu Abu Anas dan Mahmud Ahmad termotivasi untuk pindah ke Basilan menunjukkan bahwa daya tariknya adalah jihad, dan komitmen mereka kemungkinan besar akan semakin dalam dengan janji kepada ISIS. Sejauh mana komunikasi mereka dengan orang Malaysia di Suriah, seperti Muhammad Wanndy dan Rafi Udin, tidak diketahui, tetapi akan mengejutkan jika mereka tidak bersentuhan langsung. Orang Malaysia, seperti orang asing lainnya, memiliki keuntungan karena tidak terikat oleh orang Filipina. klan dan keluarga, dan mereka dapat berpindah dengan mudah di antara kelompok yang berbeda. Mereka dapat memberikan keahlian, kontak internasional, dan mungkin pendanaan, tetapi ASG-Basilan harus terus mengandalkan sekutu lokal untuk bala bantuan militer (“Philippines thwarts terror attack with”, 2016) Hal ini menjadi satu kerangka terorisme yang saling teringtegrasi dengan lain nya yang membuat kelopok terorisme ini sulit untuk dilacak dan ditangkap.

Daftar Pustaka

Black, H, C. (1990). Black’s Law Dictionary 6th Edition. West Public Inc.

Kruglanski, A., W & Fishman, S. (2006). Terrorism Between syndrome and Tool. Current Directions in Psychological Science, 15(1), 45-48. https://scihubtw.tw/10.1111/j.0963-7214.2006.00404.x

Banlaoi, C. (2006). The Abu Sayyaf Group: From Mere Banditry to Genuine Terrorism. Southeast Asian Affairs, 247-262. https://www.jstor.org/stable/pdf/27913313.pdf?ab_segments=0%252Fbasic_SYC-5187_SYC-5188%252Fcontrol&refreqid=excelsior%3A53f70de883abcfdae011268ac59c94af

Simon, H. (2005). Terrorism Hurts World Trade. Transatlantic Internationale Politik.

RAND Corporation. (2006). Beyond al-Qaeda: Part 2, The Outer Rings of the Terrorist Universe. RAND Corporation Publishing https://www.rand.org/pubs/monographs/MG430.html

Unson, J. (2018, 21 April ). RMM helps former rebels return to normal life. Philstar. https://www.philstar.com/nation/2018/04/21/1808095/armm-helps-former-rebels-return-normal-life

Philippines thwarts terror attack with arrest of Malaysian bomb expert planning strike in Manila (2016, 11 Oktober). Straitstimes. https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/philippines-thwarts-terror-attack-with-arrest-of-malaysian-bomb-expert-planning-strik.

Author:

4 thoughts on “Latar Belakang Kelompok Terorisme di Wilayah Asia Tenggara

  1. Pingback:dark0de market
  2. Pingback:Home Valueation
  3. Pingback:dumps site

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *