Kepentingan Indonesia Dalam Belt And Road Initiative (BRI)

Istilah Belt and Road Initiative dicetuskan oleh China pada akhir tahun 2013. Setelah berakhirnya perang dingin, terdapat banyak upaya untuk menghidupkan kembali jalur sutera didarat yang sebelumnya terputus dari sistem global lainnya (Chan, 2018). Anam & Ristiyani (2018) memaparkan beberapa upaya hegemoni China melalui BRI terbagi dalam dua bidang, yaitu: Pertama, bidang keamanan. Melalui kebijakan BRI, China membangun tatanan politik dan keamanan baru di Asia bahkan kawasan lainnya. Dalam kebijakan maritimnya, China memperlihatkan dua sisi yang berbeda yaitu kerjasama dan kedaulatannya. Disatu sisi China mengambil sikap tegas atas beberapa permasalahan maritim yang dianggap melanggar kedaulatan maritimnya, namun disisi lain China juga aktif membangun kerjasama dan diplomasi terhadap negara-negara tetangganya. BRI memainkan peran penting dalam pengaturan kembali tatanan keamanan di kawasan Asia. Indonesia secara alami menghubungkan navigasi maritim antar dua samudra, dua benua dan pasar utama di Asia Tenggara. Dengan populasi kurang lebih 250 juta orang, pendapatan yang meningkat dengan PDB stabil dengan angka 6 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pemain ekonomi yang sangat penting dan pada tahun 2030 diperkirakan perekonomian Indonesia terbesar ke tujuh di dunia dan pada tahun 2050 diprediksi menjadi perekonomian terbesar keempat dalam hal jual beli pasar. Presiden Xi Jinping sendiri telah mendukung strategis maritim Indonesia dimana Indonesia juga mendukung strategi maritim milik China. Sumber pembiayaan proyek-proyek yang berada di Indonesia berasal dari sumber dana China salah satunya Maritime Silk Road. Indonesia tidak perlu memikirkan strategi kerja sama regional bahkan internasional. Karena BRI telah menghubungkan banyak negara untuk melakukan kerja sama ekonomi dunia. Adanya jalur maritim menjadikan Indonesia bagian penting dari BRI sehingga sangat mungkin dalam pembangunan pelabuhan di Indonesia setidaknya akan dibiayai oleh Asia Investasi Infrastruktur Bank (AIIB) dari Maritime Silk Road Indonesia dan Maritime Silk Road dari China memungkinkan dapat bekerjasama membangun perekonomian terlebih untuk Indonesia.

Peluang Investasi Membangun Infrastruktur, Presiden Jokowi juga melihat peluang ekonomi di BRI, terutama akses ke dana besar yang tersedia dari China yang dapat digunakan untuk membiayai program infrastruktur mahal. Indonesia sangat membutuhkan investasi dalam infrastruktur untuk membantu mempertahankan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum. kepentingan politik maupun ekonomi Indonesia yang menjadi Alasan Indonesia bekerja sama dengan China dalam Belt and Road Initiative. Dengan adanya BRI ini juga dapat mempermudah visi presiden Jokowi untuk menjadikan indonesia Poros Maritim Dunia agar adanya pemerataan perekonomian antar daerah di dalam maupun di luar pulau Jawa, Deputi Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin juga mengatakan dalam kerja sama ini, tak ada skema utang pemerintah Indonesia. Dalam proyek-proyek diempat koridor tersebut pasti terjadi kerja sama antar pelaku industri dari kedua negara. Dan pihak swasta di Indonesia yang akan mengelola jika ada dana dari pemerintah China, Dengan demikian, kalau ada proyek gagal, tak dihitung sebagai utang pemerintah. Indonesia sebenarnya lebih diuntungkan dalam skema ini ketimbang China. Kerja sama bilateral ekonomi Indonesia dan China bukanlah tanpa masalah. Diskusi masyarakat yang berlebihan ini dapat menghambat pertumbuhan potensi ekonomi Indonesia. Terlihat bahwa peluang kerja sama Belt and Road Initiative ini dapat memberikan peluang yang bagus untuk ekonomi politik Indonesia dilihat dari sudut pandang Interdependence (Saling ketergantungan) yang mana terkait studi kasus Belt and Road Initiative ini, terlihat bahwa hubungan kerja sama yang sudah telah lama terjadi antara Indonesia dan China menimbulkan interdependence (saling ketergantungan) antara kedua negara khususnya dibidang ekonomi politik. Negara pengekspor barang-barang manufaktur terbesar di Indonesia adalah China, hampir semua produk yang dijual di pasar Indonesia adalah hasil impor dari China. Terlihat bahwa Indonesia jelas merupakan partner kerja sama ekonomi yang cukup potensial untuk China.

Referensi

Chan, M. H. T. (2018). The Belt and Road Initiative-the New Silk Road: a research agenda. Journal of Contemporary East Asia Studies, 7(2), 104-123.  https://doi.org/10.1080/24761028.2019.1580407

Anam, S., & Ristiyani, R. (2018). Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok pada Masa Pemerintahan Xi Jinping. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 14(2), 228-233.  https://doi.org/10.26593/jihi.v14i2.2842.217-236

Author:

11 thoughts on “Kepentingan Indonesia Dalam Belt And Road Initiative (BRI)

  1. Terimakasih Rigel buat artikelnya. Cukup senang juga bisa baca tulisan dari Rigel wkwk. Ada beberapa bagian yg menarik, yg sebenernya juga menjadi bahan pertanyaan saya. Pertama, mengapa dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Indonesia lebih diuntungkan dalam proyek BRI ini? Kedua, apakah Indonesia sendiri telah memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari kerja sama BRI? Apakah nantinya kerja sama yg bersifat interdependensi tersebut dapat berubah menjadi dependensi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *