Kepentingan Amerika Serikat Dalam Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Jika melihat dinamika hubungan antara bangsa Arab dan Israel, bisa dilihat sejarah dari Palestina itu sendiri. Bangsa Arab ataupun bangsa Yahudi keduanya pernah menguasai wilayah tersebut, dengan klaimnya yang dimiliki masing-masing pihak.  Bangsa Yahudi menempati wilayah Palestina dalam kurun waktu 1400 hingga 586 SM, karena menurut kepercayaan mereka tanah Palestina “dihadiahkan” oleh Tuhan kepada nenek moyang bangsa Yahudi. Sedangkan, bangsa Arab mengakui bahwasanya tanah Palestina adalah tanah air mereka, hal ini didasarkan pada peristiwa perebutan wilayah tersebut oleh bangsa Arab dari Kekaisaran Byzantium pada 637-1517 Masehi. Mayoritas masyarakat Palestina didominasi oleh bangsa Arab, begitupun dengan budaya, bahasa dan lainnya (Susmihara, 2011).

Awal mula konflik antara negara Arab-Israel dimulai manakala Theodore Heltz membentuk gerakan Zionisme pada 1895 yang identik dengan bangsa Yahudi. Dicirikan sebagai gerakan nasionalis yang bertujuan untuk membentuk sebuah negara di tanah Palestina, yaitu negara yang memiliki dasar hukum yang jelas dan diakui oleh dunia. Atas dasar inilah rasa persaudaraan Arab-Yahudi berubah menjadi saling bermusuhan. Campur tangan dari pihak asing, semakin memperkeruh keadaan diantara keduanya. Hal ini bermula saat gejolak Perang Dunia I (PD I), dimana Inggris meminta dukungan kepada bangsa Yahudi dalam kepentingan perjuangannya di PD I ketika melawan Kesultanan Utsmaniyah. Inggris pun mengapresiasi sikap bangsa Yahudi tersebut dengan mengeluarkan Balfour Declaration yang digagas oleh Arthur James Balfour pada 1917, yang dimana isi deklarasi ini berupa janji kepada bangsa Yahudi untuk mendirikan tanah air bagi kaumnya di Palestina. Sampai akhirnya, pada 1948 bangsa Yahudi mendeklarasikan pendirian sebuah negara bernama Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat (Nurjannah & Fakhruddin, 2019). Dimulailah konflik berkepanjangan antara Israel (Yahudi) dengan negara-negara Arab di sekitarnya.

Konflik yang cukup terkenal antara Israel-Arab, salah satunya adalah Six-Day War atau Perang Enam Hari yang terjadi pada bulan Juni 1967. Perang ini sendiri melibatkan Israel dengan beberapa negara Arab seperti Mesir, Suriah dan Yordania. Beberapa peristiwa perihal sengketa perbatasan menjadi penyebab utama Perang Enam Hari. Kemudian, pertengahan 1960-an, pasukan gerilyawan Palestina yang mendapat bantuan dari Suriah melakukan aksi penyerangan melewati perbatasan Israel. Fase akhir dari konflik ini, terjadi pertempuran sepanjang perbatasan Timur Laut Israel dengan Suriah dan terjadi pemboman udara serta masuknya tank dan infanteri Israel ke wilayah Dataran Tinggi Golan yang dijaga oleh Suriah. Israel pun berhasil menduduki Dataran Tinggi Golan pada 10 Juni 1967, kemudian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) memberlakukan gencatan senjata sehingga perang ini berakhir begitu saja. Perang ini memakan cukup banyak korban jiwa, yaitu sekitar 20.000 pasukan Arab dan 800 pasukan Israel dalam kurun waktu 132 jam (“Six-Day War”, 2018). Atas kekalahan telak yang diterima oleh Pihak Arab, kemudian diadakan pertemuan pada bulan Agustus untuk membahas masa depan Timur Tengah. Para pemimpin Arab tersebut membuat kebijakan tidak ada perdamaian dan negosiasi, serta tidak mengakui keberadaan negara Israel. Sikap ini sejalan dengan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat Arab Palestina yang mendapat tindakan diskriminatif dari Israel. Inilah peristiwa panjang yang menjadi cikal bakal kebencian negara-negara Arab terhadap Israel.

Dewasa sekarang, dengan semakin berpengaruhnya Amerika Serikat dalam percaturan politik Dunia, khusunya Timur Tengah serta harmonisnya hubungan dengan Israel, Amerika Serikat tentu melihat kawasan Timur Tengah sebagai kawasan yang harus “dikuasai” untuk melanjutkan hegemoni Amerika Serikat selama ini. Hal ini, tentu akan mempengaruhi dinamika hubungan negara-negara Arab dengan Israel yang selama ini selalu bertentangan (Zulfqar, 2018). Normalisasi hubungan dengan Israel menjadi sejarah baru bagi kawasan ini, sekarang beberapa negara arab telah menyusul Mesir yang telah melakukan perjanjian damai dengan Israel pada 1979.

Gelombang normalisasi hubungan ini ditandai dengan, penandatanganan perjanjian yang disebut sebagai Abraham Accord kesepakatan Israel dengan Bahrain dan Uni Emirat Arab yang resmi menjalin hubungan diplomatik lewat perjanjian yang ditengahi oleh Amerika Serikat pada bulan Agustus 2020. Disinyalir, latar belakang Bahrain dan Uni Emirat Arab melakukan normalisasi hubungan ini karena sebelumnya sudah terjalin hubungan dagang secara informal dengan Israel (“Normalisasi Arab-Israel dan Nasib Palestina”, 2020). Normalisasi hubungan antar negara Arab-Israel, tentunya merupakan kepentingan Amerika Serikat dalam menanamkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Bisa dilihat pasca normalisasi hubungan dengan Israel, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab menjalin kesepakatan perihal pembelian pesawat temput F-35 dan EA-18G Growler. Serta keindahan alam negara teluk akan menjadi daya tarik besar bagi warga Israel untuk berkunjung ke negara-negara tersebut (Naufal, 2020).

Kemudian menyusul negara Sudan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, melalui Menteri Kehakiman Sudan, Nasruddeen Abdulhari manyatakan bahwa Pemerintah transisi Sudan membangun hubungan diplomatik dengan Israel pada Juni 2020. Hasil dari kesepakatan ini, akan memberikan Sudan akses ke teknologi canggih yang dimiliki Israel di bidang pertanian, kedokteran, dan lainnya. Sebelumnya, Sudan masuk kedalam daftar hitam setelah menjadi sponsor bagi gerakan terorisme, karena pemimpin Al-Qaeda yaitu Osama bin Laden diberikan jaminan perlindungan di Sudan. Amerika Serikat sebagai pihak ketiga, mendukung penuh pemerintahan transisi di Sudan sehingga dapat bergabung kembali dengan sistem keuangan dunia (Atit, 2020).

Gelombang normalisasi yang dilakukan Israel dengan negara-negara Arab, perlahan merubah peta politik kawasan Timur Tengah. Permusuhan yang sudah terjalin sejak lama, perlahan kembali bersemi diantaranya negara-negara tersebut. Amerika Serikat dan Israel cenderung memiliki keuntungan dari normalisasi hubungan yang dilakukan ini, pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah dan mendukung mereka untuk melawan ekspansi Iran dan Turki di kawasan ini. Selain itu, angkatan udara Israel secara tidak langsung mendapatkan keuntungan dari kesepakatan yang terjalin dengan Amerika Serikat perihal penjualan alutsista kepada beberapa negara Timur Tengah yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Daftar Pustaka

Zulfqar, S. (2018). Competing interests of major powers in the Middle East: The case study of Syria and its implications for regional stability. Perceptions23(1), 121-148. https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/815459

Susmihara, S. (2011). Konflik Arab–Israel Di Palestina. Jurnal Adabiyah11(1), 44-52. http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/adabiyah/article/view/2367/pdf

Nurjannah, E. P., & Fakhruddin, M. (2019). Deklarasi Balfour: Awal Mula Konflik Israel Palestina. PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah1(1), 15-26. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/periode/article/view/10479/6705

Six-Day War. (2018). History. https://www.history.com/topics/middle-east/six-day-war

Normalisasi Arab-Israel dan Nasib Palestina. (2020). CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200914151333-120-546306/normalisasi-arab-israel-dan-nasib-palestina

Naufal, A. (2020, 19 September). Mengapa Sejumlah Negara Arab Kini Memilih Berdamai dengan Israel. Kompas. https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/19/080900865/mengapa-sejumlah-negara-arab-kini-memilih-berdamai-dengan-israel?page=all

Atit, M. (2020, 26 Oktober). Sudan: Normalization With Israel Was US Condition But Will Be Beneficial. VOA News. https://www.voanews.com/africa/south-sudan-focus/sudan-normalization-israel-was-us-condition-will-be-beneficial

20 thoughts on “Kepentingan Amerika Serikat Dalam Normalisasi Hubungan Arab-Israel

  1. Artikel nya yang menarik dan bisa jadi tambahan referensi bagi orang lain. Semangat kevin, ditunggu artikel berikutnya ..

  2. Artikelnya sangat menarik, dan bisa di jadikan informasi bagi orang lain. Thank you to Kevin, and waiting for the next interesting article. 😉

  3. Keren banget pembahasan yang disampaikan kevin, lugas dan mudah dipahami. Semoga bisa lebih banyak lagi artikel yang seperti ini !!!

  4. Pingback:cc dumps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *