Kejahatan Dunia Maya terhadap Wanita : Kualifikasi dan Cara

Kekerasan terhadap perempuan telah terjadi sejak lama bahkan terjadi sebelum lahirnya media. menurut Deklarasi tentang Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 1993 yang dikeluarkan oleh PBB, kekerasaan terhadap perempuan adalah “suatu tindakan kekerasan berbasis gender yang mengakibatkan, atau bisa mengakibatkan, bahaya atau penderitaan secara mental,fisik dan seksual terhadap wanita, sudah termasuk juga dengan perampasan kebebasan dan pemaksaan secara semena-mena baik di publik atau pun di kehidupan pribadinya” (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, 2011). Kekerasan terhadap perempuan marak terjadi di segala belahan dunia dan tidak hanya terjadi di dunia nyata bahkan juga terjadi di dunia maya.

Lahirnya internet dan media sosial memicu peningkatan kekerasan terhadap perempuan dan tidak jarang perempuan di seluruh belahan dunia pernah mengalami kekerasan setidaknya satu kali dalam seumur hidup. Menurut penelitian dari World Health Organization bahwa satu dari tiga wanita akan mengalami kekerasan siber sejak umur 15 tahun (European Institute For Gender Equality, 2020). Akses ke internet dengan cepat menjadi kebutuhan untuk kesejahteraan ekonomi, dan semakin dipandang sebagai hak asasi manusia yang fundamental. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa ruang publik digital menjadi tempat yang aman dan memberdayakan semua orang, termasuk perempuan.

Terdapat beberapa bentuk kekerasan yang terjadi terhadap perempuan di dunia maya, seperti merendahkan, mempermalukan, merendahkan wanita dalam nilai kemanusiaannya. Ini diwujudkan dengan serangan verbal, penghinaan, kecemburuan, ancaman, tekanan, pemerasan, kontrol aktivitas, isolasi dari kerabat, teman, dan dunia luar. Cyber Stalking juga menjadi salahsatu bentuk kekerasan yang terjadi terhadap perempuan, contoh bentuk Cyber Stalking adalah surat elektronik atau e-mail dan pesan yang berisi ancaman kekerasan fisik atau seksual yang mana motivasi hal tersebut berasal dari kebencian, menyinggung, menghina, mengancam, atau menargetkan identitas seseorang seperti jenis kelamin atau orientasi seksual. Lebih dari 75% korban Cyber Stalking adalah perempuan.

Revenge porn, secara umum digambarkan sebagai saat seseorang (biasanya seorang pria) berbagi foto mesra untuk mempermalukan mantan pasangan (biasanya seorang wanita) (Boukemidja, 2018). Foto-foto yang telah diambil secara konsensual pada awalnya (meskipun ini sering tidak terjadi), tetapi kemudian digunakan oleh “kekasih yang ditolak” untuk balas dendam saat hubungan berakhir. Revenge Porn merupakan salahsatu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang sangat sering terjadi di masa sekarang, karena adanya kemudahan menggunggah segala jenis bentuk foto atau video ke media sosial yang bisa dilihat oleh orang banyak. Walaupun Revenge Porn sudah masuk ke dalam ranah hukum dan bisa dipidanakan, masih banyak orang-orang yang berani untuk melakukan Revenge Porn.

Kesulitan yang dihadapi saat mengatasi kekerasan terhadap perempuan adalah sulitnya untuk membuktikan jika suatu kekerasan telah terjadi. Perempuan yang menjadi korban kekerasan cenderung menutup diri atau menghindari konflik yang akan timbul. Kelemahan terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan adalah sulitnya untuk mengumpulkan bukti fisik namun dalam kasus kejahatan siber sulit untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan karena barang bukti bisa dengan mudahnya dihilangkan.

Kebanyakan kebijakan hukum dan undang-undang yang dikeluarkan oleh sebuah negara biasanya lebih terfokuskan kepada hukuman dan perlindungan, namun tidak dengan pencegahan. Penelitian telah menunjukkan bahwa konvensi dan undang-undang internasional tentang kejahatan dunia maya dapat mengurangi tingkat serangan internasional.
Negara-negara yang sepenuhnya merangkul konvensi ini, memungkinkan kolaborasi yang lebih besar dan berbagi informasi memiliki menunjukkan penurunan terbesar dalam tingkat serangan. Sehingga negara-negara yang telah meratifikasi konvensi mengenai perlindungan dari kejahatan dunia maya benar-benar bisa menekan angka penyerangan di dunia maya.

Daftar Pustaka

Boukemidja, N. B. (2018) Cyber Crimes against Women: Qualification and Means. European Journal of Social Sciences, 1(3), 34-36.  http://dx.doi.org/10.26417/ejss.v1i3.p34-44

European Institute For Gender Equality. (n.d.). Cyber violence against women. https://eige.europa.eu/gender-based-violence/cyber-violence-against-women

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. (2011, Juni 20). Kekerasan Terhadap Perempuan: Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Perdagangan Orang. https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/7970a-5a3f9-8.-kekerasan-terhadap-perempuan.pdf

Author:

14 thoughts on “Kejahatan Dunia Maya terhadap Wanita : Kualifikasi dan Cara

    1. Being a women is not easy, selalu ada saja celah untuk melecehkan. Banyak korban yg gak berani buat speak up, karna pasti akan dipandang sebelah mata juga dikehidupan sosial.

  1. Pingback:homes with pool
  2. Pingback:Dating website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *