Kebijakan War on Terrorism dalam Kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah

Masalah keamanan pada awalnya hanya berfokus pada keamanan negara saja, namun kini mengalami pergeseran yang awalnya hanya pada perspektif tradisional yang terbatas akan perang dan damai kini menjadi perspektif non-tradisional yang mana lebih memfokuskan keamanan manusia seperti isu terorisme. Terorisme menjadi isu yang cukup berkembang dengan cepat di dalam isu keamanan Internasional. Isu terorisme mulai muncul sebagai global issues setelah serangan pemboman yang terjadi di gedung World Trade Center Amerika Serikat pada 11 September 2001 atau biasa dikenal dengan peristiwa 9/11 (Nine Eleven) (Spear et al., 2008). Setelah serangan 9/11 tersebut Amerika Serikat pada saat itu mendeklarasikan kebijakan Global War on Terrorism. Amerika Serikat sebagai pelopor Global War on Terrorism yang merupakan sebuah kebijakan untuk memerangi terorisme di seluruh dunia kebijakan ini dan juga melawan taktik, penyebaran idelogi terorisme dan segala bentuk terorisme di seluruh dunia.

Negara Suriah menjadi perhatian dunia dikarenakan konflik berkepanjangan yang tidak usai hingga kini. Apakah yang menyebabkan perang ini begitu panjang? Terdapat tiga kelompok yang terlibat dalam konflik berkepanjangan di Suriah. Kelompok pertama, Presiden Bashar Al Assad beserta koalisi nya yaitu seperti Rusia, Iran, China, dan Hezbullah. Kelompok kedua, kelompok oposisi yang menginginkan reformasi serta turunnya Bashar Al Assad di dukung oleh AS. Kelompok ketiga, kelompok yang diduga teroris bertujuan ingin mendirikan negara Islam atau Khilafah di Suriah, contohnya Islamic State of Iraq dan Syriadan Jabhat Al Nusra. Dua kelompok ini dianggap teroris paling kuat yang ada di Suriah. Hal tersebut yang menjadi sebuah alasan Amerika Serikat ikut campur dalam konflik di Suriah ini.

Pada Desember 2014, Amerika Serikat membentuk koalisi bertujuan untuk memerangi terorisme. Amerika Serikat beserta koalisinya menggunakan kekuatan militernya, melatih pasukan oposisi yaitu Pasukan Demokratik Suriah, Free Syrian Army, dan Syrian National Council, memutus aliran dana serta menghentikan pergerakan terorisme, AS juga melakukan gencatan senjata dengan Rusia pada September 2016 bertujuan agar AS dan Rusia bersama memerangi terorisme, hal ini diumumkan oleh kedua belah pihak agar pemerintah Suriah dan pihak oposisi untuk berhenti bertarung sehingga AS dan Rusia dapat memerangi terorisme di Suriah.

Jika kita telaah, mengapa AS selalu hadir dalam konflik di Timur Tengah salah satunya di Suriah? Terdapat beberapa tujuan AS di kawasan Timur Tengah antara lain, untuk mempertahankan dominasinya di kawasan tersebut ditambah bantuan AS terhadap Israel agar mendapat pengakuan di Timur Tengah. Amerika Serikat akan menggunakan semua elemen kekuatan nasional termasuk penggunaan kekuatan militer. Berkiblat pada Doktrin Eisenhower 1957 dikatakan bahwa AS berkomitmen terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan Timur Tengah dengan menggunakan cara-cara damai, bantuan ekonomi atau militer serta penggunaan kekuatan (Zulfqar, 2018).

Dibalik kepentingan memberantas terorisme, AS memiliki kepentingan lain serta tetap bersikukuh untuk memperkeruh konflik di Suriah. Berikut ini beberapa pendapat mengenai kepentingan AS di Timur Tengah.

Kepentingan Ekonomi

Amerika Serikat adalah negara industri yang sangat kuat, mengharuskan Amerika Serikat menjadi pengkonsumsi energi minyak dan gas terbesar di dunia, hampir lebih dari 22,8% persediaan minyak bumi di dunia (Sulaeman, 2013). Suriah adalah negara yang menggoda untuk Amerika Serikat dikarenakan cekungan laut Mediterania menyimpan gas alam terbesar di dunia. Hal tersebut menjadi tujuan AS dikarenakan Suriah adalah negara dengan penghasil minyak dan gas alam terbesar di laut Mediterania.

Akan sangat menuntungkan bagi AS jika Suriah berhasil di taklukan. Kepentingan ekonomi AS di Suriah bisa terbilang kecil dibanding ke negara Timur Tengah lainnya, namun sebagai negara kapitalis, kecil atau besar jumlah minyak sangat penting untuk AS dikarenakan sebagai penggerak industri mereka yang sangat tinggi membutuhkan bahan bakar (Pratama, 2019). AS bertujuan merebut jalur pipa minyak dan gas alam dengan Rusia. Jalur pipa yang dibuat AS dimulai dari Qatar, Arab Saudi hingga ke Jordania. AS menginginkan agar jalur pipa masuk ke Suriah akan tetapi ditolak oleh Bashar Al Assad atas persetujuan Rusia. Rusia menolak dikarenakan Suriah menjadi jalur distribusi Rusia untuk menyalurkan gas alam ke negara Eropa. Apabila AS berhasil menguasai jalur pipa yang ada di Suriah tentunya Rusia menjadi melemah dikarenakan ketergantungan gas alam Eropa bergantung kepada Rusia dan gas alam merupakan pendapatan terbesar bagi Rusia.

Kepentingan Politik

AS bersimpati kepada rakyat Suriah yang menginginkan revolusi di Suriah. AS menggunakan HAM sebagai alat politik untuk mencapai kepentingannya. Kepentingan politik AS sendiri di Suriah ialah menurunkan rezim berkuasa. AS menginginkan turunnya rezim Al Assad untuk melindungi kepentingan Israel dikarenakan Bashar Al Assad merupakan pemimpin yang anti Barat dan Israel (Cahyo, 2011). Alasan kuat yang dianggap sebagai alasan politis AS menginginkan rezim Al Assad tumbang dikarenakan akan memperkuat Israel di Timur Tengah dan juga untuk mengamankan minyak yang dibutuhkan AS, hanya Israel lah Israel yang siap membantu AS, sehingga AS terus memberi bantuan militer dan ekonomi agar Israel menjadi sekutu yang kuat di Timur Tengah. Apabila Bashar Al Assad jatuh tentunya ini akan menjadi momentum Amerika Serikat memperkuat hegemoninya di kawasan Timur Tengah.

Demokratisasi

Demokratisasi yang dijalankan AS tentunya akan menjadikannya aman dari ancaman, karena AS beranggapan bahwa paham terorisme dan radikalisme lahir karena tidak adanya kebebasan masyarakat dan pemerintahan yang otoriter. Pada nyatanya Timur Tengah ingin dijadikan demokrasi ala Amerika Serikat agar kepentingan energi maupun ancaman terorisme dapat terjaga dan tentunya untuk mengamankan sekutu AS yaitu Israel (Pratama, 2019). Apabila demokratisasi AS berhasil di Suriah maka Suriah tentunya akan mengizinkan perusahaan asing masuk ke Suriah dan menjadikan ekonomi Suriah menjadi ekonomi liberal yang tentunya menguntungkan AS.

Daftar Pustaka

Pratama, A. W. (2019). Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi Terorisme di Suriah Pada Masa Pemerintahan Barack Obama. [Doctoral dissertation, Universitas Komputer Indonesia]. Elibrary Unikom. https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/1914/

Zulfqar, S. (2018). Competing interests of major powers in the Middle East: The case study of Syria and its implications for regional stability. Perceptions, 23(1), 121-148. https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/815459

Cahyo, N., A. (2011). Tokoh-tokoh Timur Tengah yang diam-diam jadi antek Amerika dan Sekutunya. DIVA Press.

Sulaeman, D., Y. (2013). Prahara Suriah: Membongkar Persekongkolan Multinasional. Pustaka IIMaN.

Spear, J., & Williams, P. D. (2008). Security Studies: An Introduction. Routledge.

35 thoughts on “Kebijakan War on Terrorism dalam Kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah

  1. Artikel yang sangat menarik, semoga masyarakat awam yang minim informasi akan terroris bisa tercerahkan dan Islam bisa terlepas dari stigma negatif ini.
    Good job, terima kasih.

  2. Pingback:gymwear clothing
  3. Pingback:pic5678

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *