Kebangkitan Jepang di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara

Diliat dari sejarah , kebijakan politik yang dilakukan oleh jepang menjadikan Amerika Serikat ( AS ) sebagai tolak ukur bagi politik luar negeri Jepang, dimana kebijakan atau keputusan strategis yang dimiliki jepang baik ekonomi maupun politik selalu menempatkan Jepang dalam perspektif Amerika.Oleh karena itu, walaupun Amerika mendorong Jepang ikut serta “Dalam perjanjian keamanan kolektif di Asia merupakan bagian strategi Amerika dalam Perang Dingin, sebagaimana yang dilakukan AS dalam pembentukan NATO” (Cipto, 2007, hlm. 181), pada akhirnya jepang menolak ajakan tersebut karena tidak sejalan dengan politik luar negeri Jepang pasca PD II yang berfokus pada pembangunan ekonomi dalam negeri. Dalam politik global jepang di kawasan Asia Tenggara, Meski dengan begitu, sejak berakhirnya perang dingin, Jepang menunjukan sikap kemandiriannya dalam kebijakan ekonomi- politik Internasionalnya. Salah satu yang tampak adalah politik luar negeri jepang di kawasan Asia Tenggara. Sikap jepang dalam ketertarikannya di wilayah kawasan Asia Tenggara sudah ada cukup lama sejak berakhirnya periode perang dunia pertama dan ke dua jepang sudah memfokuskan kertertarikannya untuk melakukan hubungan diplomatis dengan negara kawasan di Asia Tenggara setelah adanya Intergrasi kawasan dengan dibentuknya Association of south East Asian Nation (ASEAN) .Kepentingan ekonomi Jepang serta potensi negara-negara di kawasan mendorong jepang untuk merangkul kawasan tersebut untuk menjalin kerjasama. Setelah perang dingin dimana berakhirnya persaingan dua kekuatan besar dalam politik internasional, perhatian jepang mulai berfokus pada kepentingan ekonomi di negara kawasan. Dibawah Perdana Menteri (PM) Junichiro Koizumi (2001-2006) , jepang mulai membangun kembali mimpi-mimpi politiknya di dunia internasional, apa yang telah di capai jepang secara politik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara setelah perang dingin menjadi sebuah keberhasilan sekaligus kemajuan dalam sejarah politik Jepang, Menurut Lim, (2014, hlm. 7) Jepang berhasil menempatkan dirinya sebagai aktor yang mandiri atau independen dan dominan yang menjadikan negaranya diterima oleh sebagaian besar negara di kawasan. Politik luar negeri jepang setelah PD II terhadap Asia pada umumnya dan Asia Tenggara khususnya lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi jepang. Selama 40 tahun pertama sejak bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima, kehancuran Jepang paska PD II memfokuskan urusan pembangunan ekonomi urutan pertama dalam pemikiran keputusan luar negeri Jepang. Menurut Fadhat (2019) “Secara ekonomis jepang pada akhirnya tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang setara dengan perekonomian barat, sepanjang dekade 50-an hingga 60-an jepang mulai memberikan bantuan ekonomi ke Asia Tenggara”(hlm. 2), disamping usaha jepang memberikan ganti rugi bagi negara bekas jajahannya, jepang juga mempersiapkan Asia Tenggara sebagai salah satu target pasar bagi ekspor barang-barang yang diproduksinya. Bantuan yang diberikan jepang kepada negara-negara Asia Tenggara yang disesuaikan dengan kebutuhan strategi ekspornya, sementara itu meningkatkatnya kebutuhan jepang akan sumber energi, baik minyak, maupun gas alam membuat hubungan jepang dengan negara penghasil SDA yang berlimpah semakin kuat, sehingga menjamin kebutuhan energi yang diperlukan jepang terpenuhi yang berakibat pada banyaknya bantuan luar negeri yang disalurkan untuk negara tersebut. Akan tetapi bantuan ekonomi yang diterima negara-negara ASEAN bukan tanpa alasan “Dalam persepsi publik apa yang dilakukan jepang adalah hanya mengeksploitasi kekayaaan alam negara-negara ASEAN saja tapi juga gagal dalam memberikan ganti yang seimbang” (Cipto, 2007, hlm. 185)

Kebangkitan dan dominasi jepang diwilayah Asia Tenggara tidak berjalan mulus diwilayah Asia Timur dikarenakan adanya pesaing baru yang muncul untuk menggeser dominasi Jepang di Asia Timur maupun di kawasan Asia Tenggara yang dilakukan oleh rivalnya yaitu china dan Korea Utara, 2 kekuatan baru tersebut menjadi ancaman yang nyata bagi Jepang. Serangkaian peristiwa di Asia Timur mendorong Jepang untuk tidak tergesa-gesa merangkul Asia karena kenyataan tidak sesuai yang diharapkan, pada Bulan Februari 2017 Korea Utara melakukan uji rudal tindakan agresif yang dilakukan Korea Utara membawa kecemasan bagi masyarakat jepang, belum lagi ujicoba rudal yang dilakukan China di Teluk Taiwan yang mengingatkan Jepang tentang kompleksitas “Asia khususnya Asia Timur yang begitu nyata, dominasi Jepang terhadap Asia juga terlihat ketika Jepang mengusulkan pebentukan Asian Monetary Fund (AMF) yang dimana Jepang menyediakan dana sebesar 100 juta dolar Amerika” (Fadhat, 2019, hlm. 135) langkah tersebut dilakukan Jepang untuk meningkatkan dominasinya di kawasan Asia. Langkah selanjutnya Jepang ialah mengambil hati China di peristiwa Lapangan Tiananmen Jepang menahan diri untuk tidak gegabah dalam memberikan atau menerapkan sanksi terhadap China insiden tersebut dimanfaatkan oleh Jepang untuk membutkikan pertemanan diantara mereka, dan pada tahun 1990 Jepang mengumumkan niatnya untuk mencabut pembekuan pinjaman ke China, upaya rekonsiliasi itu dibuktikan dengan diutusnya beberapa pemimpin politik dan pebisnis Jepang ke China untuk meyakinkan kepada dunia internasional khususunya barat untuk mengakhiri sanksi yang diberikan dunia internasional kepada China. Jepang dan China. Kedua kekuatan ini memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi aktor penggerak pembentukan mekanisme regional di Asia Timur, seperti East Asian Community (EAC) dan China-ASEAN Free Trade Area. Kerja sama ekonomi antara China dan Jepang di beberapa forum regional membawa harapan untuk mengakhiri ketegangan jangka panjang dan prospek rekonsiliasi di antara mereka.

Daftar Pustaka

Cipto, B. (2007). Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Pustaka Pelajar.

Lim, T., C. (2014). Politics in East Asia Explainning Change and Continuity. Lynne Rienner Publishers, Inc.

Fadhat, F. (2019). Ekonomi Politk Jepang di Asia Tenggara. Pustaka Pelajar.

Author: Hamm Ramadan

5 thoughts on “Kebangkitan Jepang di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara

  1. Pingback:DevOps Services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *