Inisiasi Perdamaian Thailand dan Kamboja dalam Sengketa Candi Preah Vihear oleh Asean

Awal mula perselisihan antara Thailand dan Kamboja merupakan perebutan wilayah yang memiliki situs warisan dunia yaitu candi Preah Vihear. Perselisihan ini terjadi semenjak United Nation Educational, Scientific and Cultural Oranization atau UNSECO meresmikan candi Preah Vihear adalah milik Thailand atau masuk kedalam wilayah Kamboja pada 7 Juli 2008. dalam bukunya definisi batas wilayah suatu negara dapat dipengaruhi oleh kolonialisme seperti okupasi, preskripsi, cesso, akresi, penaklukan, dan akusisi (Wahid, 2017, hlm. 7). Thailand tidak menerima ketetapan UNESCO tersebut dikarenakan kepemilikan wilayahnya masih berstatus quo atau belum memiliki wilayah kedaulatan antar negara. Wilayah persengketaan seluas 4 Kilometer persegi itu diperebutkan sejak tahun 1962. Mahkamah Internasional menetapkan bahwa candi tersebut adalah milik Kamboja, tetapi untuk kepemilikan wilayahnya tidak ditetapkan. Kamboja dan Thailand sama – sama ingin menyelesaikan permasalahan sengketa ini secara damai hanya saja caranya yang berbeda.

Thailand ingin menyelesaikan permasalahan sengketa ini secara langsung atau bilateral, tanpa adanya ikut campur dari negara lain, tetapi Kamboja justru sebaliknya yaitu menginginkan adanya pihak ketiga melalui negara atau organisasi internasional untuk dapat menyelesaikan permasalahan sengketa tersebut. Pihak ketiga yang diinginkan oleh Kamboja merupakan organisasi internasional yaitu ASEAN melalui amanah PBB. Thailand setuju untuk melibatkan ASEAN sebagai sarana mediasi antara kedua negara tersebut. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa Kamboja yang sudah lebih dulu mendapatkan dukungan dari Oragnisasi internasional dalam mengklaim situs candi Preah Vihear, ingin tetap mendapatkan dukungan dari organisasi internasional dalam penyelesaian sengketa disaat thailand ingin menyelesaikan permasalahan ini secara bilateral atau tanpa adanya bantuan dari pihak ketiga. Namun seiring berjalannya waktu, Thailand mau untuk menyelesaikan sengketa melalui pihak ketiga.

Pada tahun 2011, Indonesia sebagai ketua ASEAN memiliki tanggung jawab terhadap kedua anggota ASEAN tersebut yang sedang berkecamuk dalam aspek sengketa wilayah. Indonesia melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan perdamaian antara keduanya yaitu dengan membentuk “shuttle diplomacy” yang mana Indonesia sebagai penyelenggara pertemuan tersebut mengundang para menteri luar negeri dari kedua negara tersebut untuk dapat mereda. Namun inisiasi pertemuan tersebut gagal dikarenakan UNESCO mengumumkan bahwa Kamboja berhak atas kepemilikan situs candi tersebut. ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia berinisiatif dalam menyikapi permasalahan ini, yaitu ikut berperan aktif dalam melakukan perdamaian antara kedua negara tersebut. Berbeda dengan ASEAN disaat belum dipimpin oleh Indonesia, yang lebih senyap dan hanya memberikan gagasan atau saran daripada praktik dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Pada faktanya kehadiran Indonesia sebagai mediator antara kedua negara tersebut merupakan permintaan dari Kamboja dan Thailand. Indonesia mendapatkan kepercayaan dari PBB untuk bisa menyelesaikan persengketaan tersebut. Upaya yang dilakukan Indonesia adalah melakukan Shuttle Diplomacy namun Indonesia diposisikan hanya sebagai mediator integrator. Upaya ASEAN untuk menyelesaikan sengketa antara Thailand dan Kamboja adalah upaya diplomasi (Elfia, 2012, hlm. 65). Diplomasi ini sangat penting agar terhindar dari terjadinya tindakan militer di antara kedua negara tersebut. Pada bulan Mei 2011 Indonesia mengundang pejabat negara dari Thailand dan Kamboja untuk melakukan diplomasi di Bogor. Namun upaya tersebut gagal dikarenakan hanya delegasi dari Kamboja yang bersedia untuk hadir, sedangkan Thailand tidak menghadirkan delegasinya.

Pada tanggal 18 Juli 2012, pemerintah Kamboja dan Thailand sama-sama menarik pasukan militernya dari wilayah candi Preah Vihear tersebut. Dan digantikan hanya oleh personel kepolisian dan penjaga keamanan sebagai pengganti tentara. Penarikan pasukan tersebut ditujukan untuk memastikan wilayah demitilerisasi yang akan ditempati oleh tim observer Indonesia. Untuk menunjang proses perdamaian tersebut, Kamboja dan Thailand akhirnya sama-sama mebentuk tim yang nantinya akan bekerjasama dengan tim observer dari Indonesia untuk melihat perkembangan proses perdamaian tersebut.

Daftar Pustaka

Wahid, A., & Subagiyo, A. (2017). Pengelolaan Wilayah Perbatasan. Universitas Brawijaya Press.

Elfia, F. (2012). Penyelesaian Sengketa Perbatasan Antara Thailand Dan Kamboja Melalui Mekanisme Asean. Masalah-Masalah Hukum, 45(1). https://doi.org/10.14710/mmh.43.1.2014.57-66

 

Author: Kemal Arif W.

3 thoughts on “Inisiasi Perdamaian Thailand dan Kamboja dalam Sengketa Candi Preah Vihear oleh Asean

  1. Pingback:슬롯머신

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *