Ekonomi Gelembung di Jepang, Kok Bisa Sih?

Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat pasca mengalami keterpurukan akibat kekalahannya di Perang Dunia II. Pada akhir tahun 1950an hingga 1960an pendapatan nasional Jepang tumbuh hingga menyentuh dengan rata-rata 9,1%  dan terus melaju hingga 10%. Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, sukses mengantarkan Jepang pada puncak kesuksesan ekonomi yang kemudian dikenal dengan “Keajaiban Ekonomi” Jepang. (Tsutsui & Mazzotta, 2015) Krisis minyak yang sempat melanda dunia di tahun 1970an dan 1980an akibat konflik kawasan di Timur Tengah, membuat Jepang tampil sebagai satu-satunya negara industri yang mengalami pemulihan ekonomi paling cepat jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Eropa. (Mugasejati, 1999) Dominasi Industri Jepang pada tingkat global semakin meluas dengan memproduksi sebagian besar produk elektronik yang inovatif membuat Jepang mendapat julukan sebagai “Raja Industri Elektronik Global”. “Keajaiban Ekonomi” membuat standar hidup Jepang  melonjak dan menjadi salah satu negara yang penduduknya memiliki terpanjang di dunia. Peningkatan perekomian Jepang yang terus melaju begitu pesat berbanding lurus dengan naiknya harga saham dan harga tanah di Jepang menjadi berlipat ganda. Hal ini membawa Jepang pada fase yang disebut ekonomi gelembung (Bubble Economy). Ekonomi gelembung adalah suatu situasi perekonomian dimana adanya kenaikan yang signifikan secara cepat terhadap nilai suatu objek, terutama harga aset dan properti. (cerdasco.com, 2020) Bagaimana Jepang dapat mengalami gelembung ekonomi yang sangat luar biasa ini?  

Pertama, adalah adanya deregulasi bank. Awalnya pada tahun 1985, adanya kebijakan deregulasi di pasar keuangan Jepang. Sehingga menyebabkan adanya persaingan yang kompetitif  antara bank lokal dan bank asing. Pada saat itu bank-bank harus mencari strategi dan peluang yang baru untuk dapat mengatasi penurunan profibiltas. Penurunan profibilitas ini akibat dimulainya persaingan, bank – bank Jepang kehilangan nasabah korporat besar karena para nasabah korporat besar mengalihkan dana mereka ke pembiayaan lain. Oleh sebab itu untuk mendapatkan surplus yang signifikan bank-bank di Jepang harus segera beralih mencari peminjam dan proyek baru. Kemudian untuk mengatasi penurunan profibilitas  tersebut, bank-bank Jepang bersaing dalam kompetisi kredit kemudian mencari pinjaman dan proyek-proyek baru tersebut melalui usaha kecil menengah (ukm) dan  investasi tanah dan properti (grips.ac.jp). Selain itu sebelum adanya deregulasi bank, bank-bank di Jepang tidak diperbolehkan untuk membayar deposito. Namun ketika adanya deregulasi bank ditahun 1985 kebijakan tersebut pun perlahan dihapus. Dengan pencabutan larangan ini pun membuka kesempatan kepada bank-bank di Jepang untuk mendapat simpanan lebih besar dengan adanya pembayaran bunga deposito. Kemudian bank-bank Jepang juga tidak menaikkan suku bunga yang mereka kenakan kepada pihak peminjam. Bank-bank tersebut mendapat surplus dengan cara menjual  saham yang mereka miliki untuk waktu yang lama dan menghitung keuntungan modal yang kemudian direalisasikan sebagai keuntungan. Tetapi karena kewajiban kepemilikan silang di antara anggota keiretsu dimana para anggota akan  segera membeli kembali saham tersebut dengan harga baru yang lebih tinggi sehingga capital gain dapat dihitung sebagai keuntungan. Peran anggota Keiretsu dalam memegang saham dapat menyebabkan surplus yang signifikan sehingga kakayaan perusahaan-perusahaan di Jepang pun semakin meningkat dengan harga saham yang terus naik. (Watkins, et al, ) 

Kedua, adanya kemudahan dalam pemberian dana yang diberikan oleh Bank “easing money”. Setelah Plaza Accords tahun 1985 membuat nilai Yen Jepang semakin meningkat. Dengan meningkatnya nilai Yen, Bank of Japan mengambil kebijakan untuk memberikan suku bunga yang rendah untuk merangsang investasi dan mencegah resesi domestik. (Tsutsui & Mazzotta, 2015)  Hal ini menyebabkan banyaknya masyarakat Jepang melakukan investasi terutama dalam bidang tanah dan properti. Jepang yang sangat percaya diri dengan kebijakan moneter yang longgar menyebabkan spekulasi agresif dalam saham domestik dan real estat, sehingga nilai harga-harga aset ini mengalami kenaikan. Indeks saham Nikkei Jepang naik 3 kali lipat dari tahun 1985 hingga 1989 menjadi 39.000. Dan kenaikan ini menyumbang lebih dari sepertiga saham dunia.  Bank-bank Jepang banyak memberikan kredit yang mudah kepada  masyarakat yang ingin memiliki tanah ataupun properti. Sebaliknya banyak masyarakat Jepang yang mengajukan kredit kepada bank kerena percaya bahwa harga tanah tidak akan pernah turun tetapi sebaliknya akan terus mengalami kenaikan. Timbulnya rasa keyakinan akan nilai tanah dan properti yang akan terus naik dipicu oleh  dengan harga tanah di Jepang yang terus menerus naik berlipat ganda. Dengan melonjaknya harga real estat dan saham menghasilkan “bubble wealth” di Jepang. (Colombo, 2012)

Daftar Pustaka

Colombo, J. (2012). Japan’s Bubble Economy of the 1980s. The Bubble Bubble. http://www.thebubblebubble.com/japan-bubble/

Cerdasco. (2020, 3 October). Gelembung Ekonomi. https://cerdasco.com/gelembung-ekonomi/

Mugasejati, N., P. (1999). Dimensi Politik Dalam Krisis Ekonomi Jepang. JSP, 3(1), 40-63. https://www.neliti.com/id/publications/37598/dimensi-politik-dalam-krisis-ekonomi-jepang

Tsutsui, W, M &  Mazzotta, S. (2015). The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective, 9(1), 57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

Grips. (n.d) The Bubble Burst and Recessesion: 1990s. https://www.grips.ac.jp/teacher/oono/hp/lecture_J/lec13.htm

Watkins, T., Valley, S., & Alley, T. Japan Bubble Economy. (n.d). San José State University Department of Economics https://www.sjsu.edu/faculty/watkins/bubble.htm

Author:

10 thoughts on “Ekonomi Gelembung di Jepang, Kok Bisa Sih?

  1. Artikel ini sangat menarik, sedikit membuka mata bagaimana kebijakan ekonomi Jepang terhadap negaranya. Masyarakatnya pun sekarang mempunyai jiwa investasi yang tinggi

  2. Terimakasih penulis.. untuk tulisan yang sangat menarik ini.. saya jadi tahu banyak informasi mengenai perekonomian di Jepang…

  3. Pingback:homes near me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *