Developmental State Jepang Melalui Transfer Teknologi Industri Otomotif Malaysia

Developmental state merupakan perencanaan ekonomi yang dipelopori oleh Negara-negara Asia Timur, model ekonomi ini disebut sebagai kapitalisme pembangunan Negara yang dimana Negara memiliki kekuasaan politik yang lebih mandiri serta intervensi Negara yang sangat kuat atas kendali ekonomi melalui pertumbuhan industri baru.

Jepang memiliki ciri khas dalam developmental state yang diterapkan oleh negaranya yaitu pembentukan suatu lembaga berupa international governed market bagi industri domestiknya melalui pola kelembagaan regional dilihat berdasarkan pertumbuhan produktivitas, kompetisi, dan ekonomi dengan dominasi kepemimpinan tunggal negara tersebut. Jepang dalam Developmental state nya meraih kedudukan sebagai pemimpin negara berkembang. Mereka menjadi model state-led development di Asia Tenggara khususnya pada kasus di Malaysia ketika Mitsubishi melakukan transfer teknologi terhadap perusahaan otomotif Malaysia. Dalam kasus developmental state kepemilikan industri oleh pemerintah hanya sedikit tetapi sektor swasta dibimbing secara kaku dan dibatasi oleh elit pemerintahan birokrasi (Ismiyatun, 2016).

Dalam implementasi depelopmental state Jepang disini Malaysia mengambil langkah melalui kebijakan the New Economic Policy yang pertama kali dikenalkan di Malaysia pada tahun 1969 dan kebijakan ini mulai berjalan pada tahun 1971 dan kebijakan Look East Policy. Kebijakan the New Economic Policy dan Look East Policy yang diterapkan oleh Malaysia memiliki tujuan untuk membawa Malaysia keluar dari permasalahan ekonomi dan kemiskinan serta kembali membenahi struktur sosial di dalam negeri. Mahatir Muhammad selaku perdana menteri dan juga penggagas kebijakan industry otomotif merupakan orang yang sangat banyak berpengaruh dalam memformat Malaysia sejak tahun awal pengangkatannya sebagai Perdana Menteri. Bahkan Mahatir disebut sebagai orang yang paling mampu bertahan dalam masa pemerintahannya, tidak hanya dalam menyikapi tekanan politik di Malaysia, ia juga diangap berhasil membawa Malaysia keluar dari jeratan krisis.

Pemerintah Malaysia melakukan upaya dalam mencapai rencanannya serta merespon pandangan sebagian masyarakat yang menentang kebijakan ini, perdana menteri Malaysia  mengadakan survey ke banyak perusahaan mobil asing, khususnya perusahaan otomotif dari Jepang, misalnya Daihatsu. Usaha yang dilakukan ini ialah dalam upaya untuk menemukan perusahan yang bisa bekerjasama dalam bentuk kerjasama berupa joint venture di satu sisi, dan mampu mencapai tujuan pemerintah Malaysia di sisi lain. Setelah melakukan survey terhadap beberapa perusahaan otomotif milik Jepang, Mahatir memilih Mitsubishi sebagai Mitra dalam pembangunan perusahaan mobil nasional ini. Salah satu pertimbangan yang Mahatir adalah bahwa perusahaan otomotif Mitsubishi merupakan perusahaan asal Jepang pembuat mobil terbaik dengan teknologi yang canggih.

Pada awalnya, pendirian industri otomotif dalam bentuk perusahaan mobil nasional Malaysia ini berfungsi sebagai penyuplai kebutuhan pasar dalam negeri Malaysia. Kebijakan untuk menyuplai kebutuhan pasar domestik ini sesuai dengan tujuan prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah pada awal 80an yaitu pada masa kebijakan industri berat atau HICOM mulai dilaksanakan. Pemerintah Malaysia memiliki rencana untuk mengekspor mobil Nasional ini ke luar negeri. Alasannya adalah karena Proton sudah mampu menguasai pasar domestik.

Dalam kerjasama ini pihak Mitsubishi merasa keberatan dengan rencana pemerintah Malaysia dalam program ekspor mobil Proton ke luar negeri. Pihak Mitshubishi memiliki tiga alasan kenapa merasa keberatan untuk melakukan dukungan terhadap rencana pemerintah Malaysia yang ingin mengekspor mobil Proton ke luar negeri. Pertama, pihak Mitsubishi tidak ingin adanya kompetisi antara Mitshubishi dengan Proton. Kedua, karena Jepang merasa bahwa produk Proton yang akan segera dikeluarkan akan terlalu cepat menimbulkan kejenuhan pasar, sehingga produk tersebut tidak akan bisa bertahan lama. Karena dalam waktu bersamaan, produk mobil internasional, selalu berlomba-lomba untuk mengelurkan model terbaru tentu dengan teknologi yang canggih, sementara itu Jepang merasa kurang yakin bahwa Proton akan mampu melakukan hal tersebut. Ketiga, faktor perfeksionis Jepang. Mitshubishi menilai bahwa Proton belum mampu memproduksi mobil yang berkualitas sehingga pihak Mitshubishi beranggapan bahwa mobil Proton tidak akan laku dipasaran.

Transfer teknologi yang terjadi di Malaysia oleh perusahaan Jepang memang dilakukan, namun tetap saja hasil yang diinginkan tidak maksimal. Dalam rangka transfer teknologi pihak Jepang disini Mitsubishi melakukan pelatihan-pelatihan yang diberikan untuk mengajarkan para pekerja professional di Malaysia, sering kali hanya pelatihan dengan menggunakan teknologi oleh perusahaan besar Jepang dari pada mengajarkan membuat teknologi baru di Malaysia. Sekalipun demikian transfer teknologi yaitu pada proses pembuatan bahan baku dilakukan di Malaysia walaupun proses penyelesaian produk dilakukan di luar negeri (Ahmad, 2015).

Referensi

Ismiyatun. (2016). Pengembangan kluster industri militer India dari sudut pandang developmental state theory. Jurnal Hubungan Internasional, 5(2), 148-150. https://doi.org/10.18196/hi.5293

Ahmad, J. (2015). Kebijakan industri Malaysia dan modal Jepang: Industri otomotif tahun 1983-1990.  Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 15(1), 2-12. https://ejournal.iainkerinci.ac.id/index.php/islamika/article/view/134

Author:

10 thoughts on “Developmental State Jepang Melalui Transfer Teknologi Industri Otomotif Malaysia

  1. Pingback:lenovo servis
  2. Pingback:dumps shop 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *