Bantuan Jepanga Untuk Proyek Transfer Air Pahang-Selangor di Malaysia

Artikel ini mengkaji secara kritis salah satu proyek pengembangan komersial paling kontroversial di malaysia yang didukung oleh program bantuan pembangunan resmi Jepang (ODA), proyek transfer air pahang-selangor. proyek ini mencakup pembangunan bendungan kelau dan trowongan transfer air sepanjang 45 km untuk menyalurkan air dari daerah pedesaan yang jarang penduduknya di negara bagian pahang ke daerah perkotaan yang lebih padat penduduknya di negara bagian selangor dan ibu kotanya, Kuala Lumpur. pemerintah jepang mengumumkan alokasi dana untuk proyek transfer air pahang-selangor pada akhir tahun 1998, sebagai bagian dari paket penyelamatan negara-negara Asia Timur yang ekonominya rusak parah akibat krisis finansial 1997-1998. paket penyelamatan ini dikenal dengan inisiatif Miyazawa baru. meskipun paket bantuan diumumkan pada tahu 1998, butuh lebih dari enam tahun sebelum semua rincian administrasi yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek transfer air pahang-selangor di selesaikan dan perjanjian pinjaman lunak antar pemerintah Jepang dan pemerintah Malaysia dapat di tandatangani. berdasarkan perjanjian tersebut, Jepang berjanji untuk menyelesaikan JPY82,04 miliar melaluin Japan Bank for International Cooperation (JBIC) untuk proyek tersebut. proyek transfer air pahang-selangor, khususnya pembangunan bendungan kelau, telah menuai kritik keras dari malaysia dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional. perhatian utama LSM berpusat pada dampak lingkungan dan sosial dari proyek, terutama pada masalah pemukiman kembali penduduk asli (orang asli) yang mendiami wilayah yang ditentukan untuk proyek tersebut. kontroversi seputar keputusan pelaksanaan proyek trasnfer air pahang-selangormenunjukan bahwa pedoman dan peraturan mengenai penilaian dampak sosial dan lingkungan dari proyek yang didukung oleh dana ODA tidak selalu diperhatikan.

malaysia merupakan salah satu penerima ODA Jepang terbesar diantara negara-negara berkembang, termasuk negara-negara di Afrika Sub-Sahara yang sangat bergantung pada bantuan luar negeri,malaysia telah menjadi tujuan pilihan dana bantuan luar negri Jepang selama beberapa dekade. dari januari 1969 hingga maret 2001, jumlah kumulatif bantuan luar negeri yang diberikan jepang sebagai pinjaman bilateral ke malaysia berjumlah JPY827,4 miliar atau US $ 6,62 miliar (RM 26,39 miliar) yang merupakan tertinggi di Asia. kemudian muncul pertanyaan : mengapa Malaysia tetap menjadi tujuan penting dana bantuan luar negeri Jepang? Bagaimanapun, Malaysia adalah salah satu ekonomi “Keajaiban Asia” yang sukses, negara ini telah mencapai kesuksesan ekonomi yang mengesankan dan tampaknya tidak terlalu membutuhkan dukungan Jepang untuk pembangunan ekonominya. penjelasan resmi yang diberikan kementrian luar negeri Jepang (MOFA) adalah bahwa Jepang terus memberi bantuan luar negeri ke Malaysia karena, pertama, Malaysia adalah salah satu tetangga Jepang ; kedua, kedua negara memiliki hubungan bilateral yang sangat baik di bidang ekonomi, diplomatik, dan budaya ; ketiga, terlepas dari kinerja ekonomi Malaysia yang mengesankan, ia belum menyelesaikan semua masalah ekonomi dan sosial nya, oleh karna itu menghentikan atau mengurangi bantuan luar negeri akan menjadi langkah yang prematur ; keempat, pasca krisis finansial Asia 1997-1998, Malaysia khususnya membutuhkan bantuan finansial Jepang untuk melakukan reformasi ekonomi.

Selangor Waters Management Authority/ Lembaga Urus Air Selangor (SWMA/LUAS) yang merupakan lembaga dibawah pemerintah Negara bagian Selangor, secara resmi mulai beroprasi sejak tanggal 1 Agustus 2000. SMWA/LUAS mempunyai tugas dan kewenangan melakukan pengolahan sungai dan sumber daya air secara terpadu di wilayah sungai Selangor yang merupakan pioneer pengelolaan sumber daya air terpadu di Malaysia dan sungan Thames di Inggris yang di gunakan sebagai acuan dalam implementasinya. (Nugroho, 2014)

selain itu , MOFA telah memberikan justifikasi lain atas pemberian bantuan Jepang dalam jumlah yang cukup besar kepada Malaysia. diantaranya adalah pengenalan “Kebijakan Lihatlah Ke Timur” di Malaysia pada tahun 1981, yang sebagaimana dipertahankan oleh MOFA, merangsang minat kuat rakyat Malaysia di Jepang. selain itu, posisi Malaysia sebagai salah satu anggota terkemuka perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menjadikan negara tersebut sebagai mitra diplomatik utama dalam upaya jepang untuk kerja sama kawasan. fakta penting lainnya adalah posisi strategis Malaysia di selat Malaka dalam jalur laut menuju negara-negara Timur Tengah tempat Jepang mengimpor minyak bumi. terakhir, Malaysia sendiri merupakann salah satu mitra dagang utama Jepang dan tujuan penting bagi investasi langsung asing Jepang.

Tidak diragukan lagi, bantuan luar negeri Jepang telah mendorong perkembangan ekonomi Malaysia. Namun, beberapa aspek dari kebijakan bantuan Jepang terhadap Malaysia menuai kritik keras. Pertama, beberapa peneliti berpendapat bahwa program ODA Jepang telah di rancang untuk menjaga kepentingan ekonomi Jepang sendiri. Kedua, daripada hibah Jepang terlihat seperti penagih hutang, bukan pemberi bantuan. Misalnya, dari beberapa bantuan yang di berikan oleh Jepang ke Malaysia pencairannya bersifat negatif. Dengan kata lain, jumlah uang yang Malaysia harus bayar untuk Jepang melebihi jumlah ID yang diterima dari Jepang. (Furouka, 2011)

Referensi Furouka. (June 2011). New Zealand Journal of Asian Studies : 31-45 https://www.nzasia.org.nz/uploads/1/3/2/1/132180707/jas_june2011_furuoko.pdf Nugroho. (April 2014). Study on Different Types of The Asian River Basin Management As The Guide to Determne The Appropriate Water Resources Management System : 35-36 file:///C:/Users/Peter/Download/141-263-1-SM.pdf

Author:

5 thoughts on “Bantuan Jepanga Untuk Proyek Transfer Air Pahang-Selangor di Malaysia

  1. Pingback:Percocet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *