Arab Spring: Dunia Baru Dalam Tatanan Arab

Musim semi Arab atau yang lebih dikenal sebagai Arab Spring, merupakan suatu fenomena yang populer dan sering dibahas dalam politik internasional terutama di negara-negara Arab. Arab Spring adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan jatuhnya pemimpin-pemimpin besar otoriter yang berkuasa di Arab. Dimulai dari Tunisia, Zein Al- Abidin Ben Ali (Ben Ali), diikuti Mesir dengan turunnya Hosni Mubarak, kemudian Libya yang berhasil menggulingkan pemimpin diktatktor yaitu Moammar Khadafy yang bahkan sudah memimpin hingga 40 tahun lamanya, lalu selanjutnya yaitu Yaman, Bahrain, dan Suriah yang sampai saat ini masih berlanjut (Sahide et al., 2015). Refolusi yang terjadi di Arab juga berpengaruh ke Tunisia, Mesir, dan juga Libya, yang juga mengakibatkan jatuhnya pemerintah setempat. Arab Spring juga menciptakan protes yang cukup besar di negara-negara seperti Aljazair, Irak, Yordania, Kuwait, Maroko, serta Oman, serta protes kecil di Lebanon, Mauratania, Saudi, Sudan dan Sahara Barat.

Protes yang dilakukan melibatkan pemogokan, demonstrasi, serta pawai, cara-cara baru mulai dilakukan oleh masyarakat Arab yang dikembangkan oleh para aktivis di Arab, seperti dalam bentuk kampanye boikot, keterlibatan pemuda sipil, aktivisme dunia maya, hingga protes yang diutarakan dengan seni (Seeber, 2015). Dalam demonstrasi tersebut banyak yang mengalami kekerasan dari pihak berwenang hingga dari masyarakat yang pro pada pemerintah dan kontra terhadap demonstran, slogan utama yang dilontarkan oleh masyarakat Arab adalah Ash-shab yurīd isqāţ an-nizham yang artinya adalah “orang-orang ingin menurunkan rezim” (Sahrassad, 2013). Arab Spring yang berarti Musim Semi Arab juga diartikan sebagai awal dari harapan akan kehidupan yang lebih baik serta tentram.

Sebelum adanya Arab Spring, banyak masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, salah satunya masyarakat yang berada di negara Mesir. Kaum pekerja menjadi salah satu tokoh penting dalam penurunan Mubarak, kaum pekerja di Mesir hanya mendapatkan 2 dolar perharinya, serta kaum pekerja juga harus hidup dibawah garis kemiskinan dengan penghasilan yang sangat minim. Kemiskinan yang bergelantung pada kaum pekerja tentunya juga berpengaruh ke pendidikkan keluarga, dengan sistem pendidikkan yang tidak memenuhi serta tergolong kuno, keluarga harus menyediakan pendidikkan tambahan di luar sekolah. Tentunya pelajaran tambahan akan sangat berat untuk kalangan kaum pekerja yang berada di bawah garis kemiskinan. Apabila berbicara mengenai keluarga, maka hal lain yang tidak kalah penting tentu saja adalah pangan, pada saat era Mubarak kenaikkan pangan terus terjadi selama beberapa bulan di tahun 2010 hingga di tahun 2011. Dengan dipimpin oleh pemimpin yang otoriter, pemilihan umum yang terjadipun tidak demokratis, sehingga mengharapkan berubahnya rezim dengan pemilu merupakan hal yang sia-sia. Situasi yang rumit dan kompleks ini yang menjadi alasan kuat bagi para kaum pekerja serta masyrakat lainnya untuk bergerak menuju perubahan.

Dengan adanya Arab Spring tentu tujuan utama dari pemberontakkan adalah mendapatkan kehidupan yang layak, serta dapat hidup secara adil dan tentram. Liga Arab bertanggung jawab dalam menentukan penyusunan kurikulum sekolah. Sebelum adanya Arab Spring, Liga Arab terus berpatut pada kebudayaan-kebudayaan kuno, dan menciptakan kurikulum yang tertinggal dalam perkembangan zaman. Namun, sekarang Liga Arab telah menggantinya dengan menerapkan teknologi yang modern, serta menciptakan persatuan telekomunikasi regional. Kekuatan rakyat dalam Arab Spring juga menunjukkan perubahan dalam ekonomi pasar bebas, yang kemudian dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran serta menciptakan pertumbuhan ekonomi. Arab Spring juga dianggap sebagai cahaya yang dapat membuka pintu demokratisasi di negara-negara Arab, yang sudah lama tertutup oleh sistem politik otoriter. Arab Spring menjadi penentu lahirnya kekuatan masyarakat atau people power untuk melawan rezim yang otoriter. Pasca Arab Spring, negara-negara Arab telah membuka lembaran baru dalam dunia politik yaitu membangun tatanan politik yang demokratis, mesikupin harus melewati tantangan baik dari internal ataupun external, namun harapan untuk politik yang demokrasi itu masih ada.

Daftar Pustaka

Sahrassad, H. (2013). Arab Spring: Perubahan Rezim dan Tegangan Hubungan AS – Dunia Arab Refleksi Sosio-Historis, 4(1), 36-55. http://doi.org/10.20961/cmes.6.1.11686

Sahide, A. Syamsul, H. Siti, M. S, Bambang, C. (2015). The Arab Spring: Membaca Kronologi dan Faktor Penyebabnya. Jurnal Hubungan Internasional, 4(2), 118-129. https://doi.org/10.18196/hi.2015.0072.118-129

Seeber, P. (2015). Bringing People Back in Politics: The Role of Civil Society, Political Parties, and Regional Organizations in a Changing Middle East. Democracy and Security, 11(2), 98-110. https://doi.org/10.1080/17419166.2015.1036235

Author: Yulia Angreyni

25 thoughts on “Arab Spring: Dunia Baru Dalam Tatanan Arab

  1. Nice! Isu tentang middle east selalu manarik. Arab spring ini juga salah satu pembahasan yang populer di kalangan anak HI. Good job 👍

  2. Sangat menambah wawasan, kawasan timur tengah selalu mampu menarik perhatian. Terima kasih kak artikelnya, sangat bermanfaat!

  3. Satu wawasan baru telah saya dapat setalah membaca halaman ini! Terima kasih atas tulisan yang memuat banyak hal super informatif seperti yang telah disajikan di atas^^,

  4. Artikel yang bagus, menambah wawasan Saya khususnya terkait dengan dinamika yang terjadi di Timur Tengah, yang sangat menarik untuk dibahas. Kerennn.. Ditunggu artikel selanjutnya ya.

  5. Pingback:HP Servis
  6. Pingback:benelli m1
  7. Pingback:DevOps Services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *