Feminisme : Kekerasan Cyber Terhadap Wanita

Feminisme datang dari kata femina dalam bahasa latin yang memiliki arti perempuan. Kata feminisme mulai digunakan pada tahun 1890-an. Menurut sejarah, titik balik untuk kaum feminisme dalam usahanya memandang dunia adalah kehidupan sehari – hari dan pengalaman bagi para perempuan (Steans & Pettiford, 2009). Pada intinya pemikiran feminisme adalah pemikiran yang hadir secara langsung dari proses dan pengalaman dalam berpolitik. Kaum penggiat feminis menuntut adanya kesamaan atau kesteraan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Dengan demikian feminisme merupakan pandangan dunia yang melakukan perlawanan, yang dibangun dari sudut pandang atau pengalaman suatu kelompok yang tersingkirkan (Steans & Pettiford, 2009). Dan satu hal yang perlu diketahui feminisme tidak hanya memfokuskan perjuangannya terhadap hak wanita namun juga hak terhadap pria (Boukemidja, 2018).

Gerakan feminisme merupakan pergerakan pembebasan perempuan dari rasisme, seksisme dan penindasan terhadap perempuan. Kesetaraan gender adalah untuk menyamaratakan posisi masukulin terhadap pria dan feminin terhadap wanita dalam lingkup suatu budaya tertentu. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman serta teknologi, isu feminisme tidak hanya dibicarakan dalam hubungan manusia sehari – hari di dunia nyata namun juga di dalam media sosial. Hal ini tengah menjadi pembicaraan hangat di dalam kaum feminisme dengan adanya kekerasan cyber terhadap perempuan. Banyak jenis kekerasan cyber yang dilakukan terhadap perempuan seperti misalnya stalking, roasting, dan digital self harm (Boukemidja, 2018).

Pada tahun 2020  khususnya pada masa pandemi ini menurut artikel yang diterbitkan oleh Kompas.com pada 28 Agustus 2020. Berdasarkan yang dilansir Kompas.com hal itu disampaikan secara langsung oleh Ellen Kusuma sebagai Divisi Keamanan Online Southeast Asia Freedom of Expression Network. Ellen mengatakan jika hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang karakter dari dunia digital yang kemudian membuat orang lengah dalam hal ini dikhusukan terhadap para wanita sehingga bisa memunculkan masalah tindak kekerasan. Ellen mengatakan jika kekerasan berbasis gender bisa terjadi kepada siapapun yang menggunakan media sosial. Berhubung Negara kita yakni Indonesia memiliki pemikiran patriarki, maka perempuan menjadi insan yang paling rentan untuk kasus ini (Stephanie, 2020).

Menurut Ellen, kurangnya pemahaman akan keamanan digital ini menjadi salah satu faktor yang menjadi alasan seseorang bisa menjadi korban atau pelaku kekerasan berbasis gender di dalam dunia maya. Jika kita mengunduh aplikasi dan menggunakan platform digital itu, kita memberikan izin terhadap sang developer untuk mengakses data – data pribadi kita yang sebetulnya krusial dan sangat rahasia (Stephanie, 2020). Dari sekian banyaknya jenis cyber crime yang bisa dilakukan Revenge Porn merupakan salah satu jenis yang paling sadis. Revenge Porn merupakan pembalasan dendam terhadap mantan kekasih dengan menyebarkan hal yang berbau seksual dan menyebar luaskannya ke media sosial atau platform lain yang bisa dijadikan media. Dari banyaknya kasus Revenge Porn korban yang paling menjadi target adalah kaum wanita (Alaidrus, 2019).

Salah satu kasus yang pernah terjadi di Indonesia adalah yang pernah terjadi terhadap Maya (nama samaran). Sang korban diancam untuk menuruti kemauan sang pelaku atau jika tidak foto non konsesksual korban disebarkan oleh si pelaku. Hal – hal yang menjadi kemauan si pelaku adalah agar si korban tidak kemana – mana setelah pulang kerja, tidak boleh berinteraksi dengan orang lain dan yang paling parah sehingga membuat si koban menyudahi hubungan dengan pelaku adalah si pelaku menyuruh korban untuk tidak lagi menemui keluarganya (Alaidrus, 2019).

Indriyanti selaku Komisioner Komnas Perempuan mengatakan orang – orang seperti Maya akan tetap berada dalam situasi seperti ini karena belum adanya aturan jelas yang mengatur tentang pelanggaran Revenge Porn ini. Namun hal ini ada di dalam Undang – Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang tak kunjung disahkan oleh Pemerintah. Menurut Indriyanti, persoalan kekerasan seksual di dunia maya selama ini diatur dalam Undang – Undang KDRT. Namun hal ini bisa dilakukan hanya jika korban merupakan pasangan suami istri (Alaidrus, 2019).

Banyak kasus seperti Maya yang lain yang terjadi di Indonesia. Hal ini akan terus terjadi sebelum ada payung hukum yang bisa menjadi pelindung untuk korban – korban yang lain. Indriyanti mengatakan jika ia telah mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU PKS. Hal ini karena ada satu poin di dalamnya yang mengatur tentang kekerasan seksual di dunia maya. Namun penyelasain RUU ini justru terlihat tidak diprioritaskan di DPR. Menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Sodik Mudjahid hal ini terjadi karena banyaknya kendalan dan perbedaan pendapat sehingga membuat pembahasan ini mandek. Alasan lainnya adalah rapat sering tidak memenuhi kuorum (Alaidrus, 2019).

RUU PKS ini harus segera diterbitkan agar para wanita bisa merasakan keamanan yang sama saat bermain di dunia maya seperti pria sehingga tidak menjadikan wanita sebagai target dari kejahatan di dunia maya lagi. Hal lain yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah dengan lebih banyak mensosialisasikan lagi tentang dampak negatif dari bermain di dunia maya sehingga membuat para pengguna lebih hati – hati saat menggunakan.

Daftar Pustaka

Steans, J. & Pettiford, L. (2012). Hubungan Internasional : Perspektif dan Tema. (D., S., Sari, Pnrj.). Pustaka Pelajar. (Karya asli terbit tahun 2001)

Boukemidja, N. B. (2018). Cyber Crimes againts Women: Qualification and Means. European Journal of Social Sciences, 1(3), 34-44. https://dx.doi.org/10.26417/ejss.v1i3.p34-44

Stephanie, C. (2020, 28 Agustus). Kasus Kekerasan Pada Perempuan via Internet Naik 3 Kali Lipat Selama Pandemi. Tekno Kompas. https://tekno.kompas.com/read/2020/08/28/18000087/kasus-kekerasan-pada-perempuan-via-internet-naik-3-kali-lipat-selama-pandemi?page=all#page2  

Alaidrus, F. (2019, 29 Januari). Nelangsa Korban Revenge Porn : Diobjektifikasi & Tak Terlindungi. Tirto.id. https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/nelangsa-korban-revenge-porn-diobjektifikasi-tak-terlindungi-dfka  

8 thoughts on “Feminisme : Kekerasan Cyber Terhadap Wanita

  1. Pingback:site to buy cvv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *